Penanganan Terkini Herpes Simpleks Pada Kehamilan dan Dampak Pada Bayi

Penanganan Terkini Herpes Simpleks Pada Kehamilan dan Dampak Pada Bayi

Kehamilan dengan gangguan herpes simpleks dapat tertulari pada bayi atau disebut herpes neonatus. Herpes juga dapat ditularkan pada bayi dalam minggu-minggu pertama kehidupan bila bayi dicium oleh seseorang dengan luka herpes mulut. Walau jarang, herpes dapat ditularkan melalui sentuhan, bila seseorang menyentuh luka herpes dan langsung menyentuh bayi. Namun ada kewaspadaan yang dapat dilakukan untuk mengurangi risiko penularan dari ibu-ke-bayi.

Bila ibu hamil mengalami gejala kelamin, atau ada risiko kita terpajan pada herpes simpleks, langsung memberi tahu dokter kandungan atau bidannya. Ternyata herpes dapat tidur selama bertahun-tahun. Yang tampaknya infeksi baru kadang kala adalah yang lama, dan menimbulkan gejala untuk pertama kali.

Herpes Simpleks

  • Herpes simpleks berkenaan dengan sekelompok virus yang menulari manusia. Serupa dengan herpes zoster, herpes simpleks menyebabkan luka-luka yang sangat sakit pada kulit. Gejala pertama biasanya gatal-gatal dan kesemutan/perasaan geli, diikuti dengan lepuh yang membuka dan menjadi sangat sakit. Infeksi ini dapat dorman (tidak aktif) dalam sel saraf selama beberapa waktu. Namun tiba-tiba infeksi menjadi aktif kembali. Herpes dapat aktif tanpa gejala atau tanda kasatmata.
  • Virus herpes simpleks tipe 1 (HSV-1) adalah penyebab umum untuk luka-luka demam (cold sore) di sekeliling mulut. HSV-2 biasanya menyebabkan herpes kelamin. Namun HSV-1 dapat menyebabkan infeksi pada kelamin dan HSV-2 dapat menginfeksikan daerah mulut melalui hubungan seks.
  • HSV adalah penyakit yang sangat umum. Di AS, kurang lebih 45 juta orang memiliki infeksi HSV – kurang lebih 20% orang di atas usia 12 tahun. Diperkirakan terjadi satu juta infeksi baru setiap tahun. Prevalensi dan kejadian di Indonesia belum diketahui. Prevalensi infeksi HSV sudah meningkat secara bermakna selama dasawarsa terakhir. Sekitar 80% orang dengan HIV juga terinfeksi herpes kelamin.
  • Infeksi HSV-2 lebih umum pada perempuan. Di AS, kurang lebih satu dari empat perempuan dan satu dari lima laki-laki terinfeksi HSV-2. HSV kelamin berpotensi menyebabkan kematian pada bayi yang terinfeksi. Bila seorang perempuan mempunyai herpes kelamin aktif waktu melahirkan, sebaiknya melahirkan dengan bedah sesar.
  • Jangkitan HSV berulang dapat terjadi bahkan pada orang dengan sistem kekebalan yang sehat. Jangkitan HSV berjangka lama mungkin berarti sistem kekebalan tubuh sudah lemah. Ini termasuk Odha, terutama mereka yang berusia di atas 50 tahun. Untungnya, jarang ada jangkitan lama yang tidak menjadi pulih kecuali pada Odha dengan jumlah CD4 yang sangat rendah. Jangkitan lama ini juga sangat jarang terjadi setelah tersedianya terapi antiretroviral (ART).
  • Penularan herpes simpleks terjadi melalui kontak langsung dengan kulit yang melempuh atau melalui cairan yang keluar dari  kulit yang melepuh atau melalui kontak seksual pada orang dewasa. HSV 1 juga bisa ditularkan melalui kontak sosial pada masa anak-anak. Prevelansi HSV 2 lebih tinggi pada kelompok HIV positif dan mereka yang melakukan hubungan seks tanpa kondom.
  • Herpes yang disebabkan oleh virus herpes simpleks (HSV) adalah sejenis penyakit yang menjangkiti mulut, kulit, dan alat kelamin. Penyakit ini menyebabkan kulit melepuh dan terasa sakit pada otot di sekitar daerah yang terjangkit.Hingga saat ini, penyakit ini masih belum dapat disembuhkan, tetapi dapat diperpendek masa kambuhnya.
  • Virus herpes simpleks terdiri dari 2 jenis, yaitu herpes simplex 1 (HSV-1) dan herpes simplex virus 2 (HSV 2). HSV1 umumnya menyerang kulit dan selaput lendir mukosa di mata, mulut, hidung dan telinga sedangkan HSV2 biasanya menyerang kulit dan selaput lendir pada alat kelamin dan perianal.
  • Pada kulit HSV1 membentuk verikel-verikel kecil sedangkan HSV2 membentuk verikel-verikel besar, tebal dan terpusat. Gejala klinis HSV1 mirip gejala flu yang disertai bisul atau borok yang timbul di sekitar mulut. Sedangkan HSV2 merupakan penyebab utama herpes genitalis, berupa lepuh-lepuh pada kelamin yang terasa menyakitkan. Obat anti virus acylovir dalam kondisi tertentu dapat membantu meringankan rasa sakit.

Herpes Simpleks Pada Kehamilan

Untuk wanita hamil yang terjangkit HSV2 harus ditangani secara serius karena virus ini dapat menembus plasenta dan dapat menimbulkan kerusakan pada organ janin hingga menyebabkan kematian. Bila ibu hamil dan terinfeksi herpes simpleks, mungkin takut akan risiko menularkannya pada bayi. Sebetulnya risiko itu sangat amat rendah terutama bila kita sudah agak lama terinfeksi herpes. Kurang dari 0,1% bayi terlahir di AS setiap tahun mendapatkan herpes saat lahir. Sebaliknya, kurang lebih 25-30% ibu hamil terinfeksi herpes simpleks. Hal ini berarti kebanyakan perempuan dengan herpes simpleks melahirkan bayi yang sehat.

Risiko tertinggi herpes neonatus terjadi pada bayi bila ibunya tertular herpes simpleks pada akhir kehamilan. Walau jarang, hal ini memang terjadi, dan dapat menyebabkan penyakit yang berat, bahkan gawat, pada bayi. Cara terbaik untuk melindungi bayi kita adalah untuk mengetahui fakta mengenai herpes simpleks serta bagaimana melindungi dirinya. Langkah pertama yang mungkin adalah mengetahui apakah kita sudah terinfeksi virus itu, dengan melakukan tes untuk virus tersebut.

Bayi paling berisiko tertular herpes neonatus bila ibunya sendiri tertular herpes simpleks pada akhir masa kehamilan. Hal ini terjadi karena ibu yang baru tertular belum memiliki antibodi terhadap virus, sehingga tidak ada perlindungan untuk bayi saat lahir. Tambahan, infeksi herpes baru sering aktif, sehingga ada kemungkinan yang lebih tinggi bahwa virus akan timbul di saluran kelahiran saat melahirkan.

Seorang perempuan yang terinfeksi herpes simpleks sebelum hamil memiliki risiko sangat rendah menularkan virusnya ke bayinya. Hal ini karena sistem kekebalan membuat antibodi yang dialihkan pada bayi melalui plasenta. Walau herpes menjadi aktif di saluran kelahiran saat melahirkan, antibodi tersebut melindungi bayi. Tambahan, bila ibu itu mengetahui dia terinfeksi herpes simpleks, dokter atau bidan dapat mengambil langkah untuk melindungi bayi.

Manifestasi Klinis Intrauterine dan perinatal infeksi

  • Herpes simpleks kongenital infeksi virus adalah entitas yang sangat langka dan telah jarang dilaporkan dalam literatur.  Manifestasi meliputi lesi kulit dan bekas luka, korioretinitis, dan mikrosefali..
  • Infeksi virus Herpes simpleks neonatal  terjadi tertular melalui saluran kelamin seorang wanita tanpa gejala. Sejarah infeksi sebelumnya dan kehadiran antibodi ibu adalah pelindung, karena sekitar setengah dari neonatus terkena herpes simplex virus utama ibu kontrak infeksi virus dibandingkan dengan kurang dari 5% dari mereka yang terkena herpes simpleks berulang penyakit virus.
  • Herpes neonatorum dapat dikategorikan sebagai berikut Kulit, mata, dan selaput lendir (Skin, eye, and mucous membrane atau SEM)
  • Infeksi virus herpes simpleks terbatas pada riwayat SEM menyumbang sekitar 20% dari semua herpes neonatal simpleks infeksi virus.
  • Bayi dengan infeksi SEM umumnya hadir pada usia 10-12 hari.
  • Lesi kulit cenderung muncul pada tempat trauma.
  • Banyak bayi baru lahir dengan herpes simplex virus-terkait SEM penyakit tanpa dengan gejala penyakit sistemik.
  • Hasil dari penyakit SEM sangat baik dengan terapi antivirus yang cepat, namun 75% kasus berkembang menjadi penyakit disebarluaskan tanpa pengobatan.
  • Infeksi diseminata: infeksi diseminata sekarang menyumbang sekitar 25% infeksi virus herpes simpleks pada bayi baru lahir. Pengakuan dan pengobatan herpes simplex virus terkait penyakit SEM awal telah menghasilkan tingkat lebih rendah dari pengembangan menjadi penyakit  dibandingkan tahun-tahun terakhir.
  • SSP infeksi: Hampir sepertiga dari bayi dengan infeksi virus herpes simpleks neonatal memiliki ensefalitis sebagai manifestasi tunggal penyakit. Pasien biasanya datang dengan gejala dan tanda-tanda penyakit pada 2-3 minggu usia. Manifestasi awal meliputi kelesuan, lekas marah, dan kejang fokal. Tanpa pengobatan, kebanyakan anak mati dengan penyakit SSP dan selamat mempertahankan gangguan neurologis parah.
  • Herpes simplex virus infeksi SSP Herpes simplex virus adalah penyebab paling umum dari ensefalitis sporadis di Amerika Serikat. Sepertiga dari semua kasus ensefalitis herpes simplex virus diyakini terjadi pada populasi anak.
    Herpes simpleks ensefalitis virus dapat merupakan manifestasi dari infeksi primer atau berulang dengan virus. Infeksi mungkin memiliki berbahaya atau onset mendadak. Pasien datang dengan sakit kepala, kesadaran, dan kelainan neurologis fokal sering konsisten dengan keterlibatan lobus temporal.
  • Meningitis aseptik yang disebabkan oleh virus herpes simpleks dapat terjadi setelah infeksi primer HSV-2 genital. Pasien dengan herpes simplex virus meningitis hadir dengan sakit kepala, demam, leher kaku, dan fotofobia. Gejala biasanya mulai 3-12 hari setelah timbulnya lesi genital. Mereka mencapai keparahan maksimum dengan 2-4 hari menjadi penyakit, dan secara bertahap berkurang dari 2-3 hari.
  • Disfungsi dari sistem saraf otonom dan myelitis melintang telah dikaitkan dengan infeksi herpes simpleks virus genital. Gejala mungkin termasuk hyperesthesia atau anestesi dari punggung bagian bawah, perineum, atau wilayah sakral. Retensi urin dan konstipasi adalah gejala yang berhubungan lainnya.
  • Infeksi pada host immunocompromised Infeksi virus herpes simplex virus lebih berat pada anak-anak immunocompromised sama dengan pada orang dewasa. Infeksi merupakan sumber morbiditas tetapi sering namun jarang fatal. Tingkat keparahan penyakit sebanding dengan defisiensi respon imun selular.
  • Ditandai oleh adanya lesi oral dan kelamin yang berlangsung perlahan-lahan melibatkan permukaan mukosa yang berdekatan dan menyebabkan esofagus, trakea atau paru keterlibatan, yang menyebabkan infeksi menyebar.
  • Herpes simpleks  infeksi virus lain Herpes simpleks infeksi virus pada ujung jari disebut sebagai herpetic whitlow. Hal ini menyajikan sebanyak infeksi lain pada ujung jari. Demam terkait dan adenopati daerah diperbesar yang umum. Contoh ditunjukkan pada gambar di bawah. Herpes whitlow pada bayi.
  • Herpes gladiatorum adalah manifestasi dari penyakit herpes terlihat pada pegulat Ini hasil dalam herpes simpleks menyakitkan lesi virus, sering dengan vesikel kulit banyak. Contoh ditunjukkan pada gambar di bawah. Herpes gladiatorum dalam pegulat remaja. Memanifestasikan keratoconjunctivitis dengan onset akut dari nyeri, keluarnya cairan berair, gatal, penglihatan kabur, pembengkakan tutup, dan injeksi konjungtiva  nekrosis retina akut dapat mengakibatkan kebutaan..
  • Mollaret meningitis, meningitis aseptik berulang jarang terkait dengan virus herpes simpleks.  Demam ringan, sakit kepala, dan mialgia mungkin terjadi dengan episode ini. Sekitar 50% pasien memiliki gejala neurologis fana iritasi meningeal. Penyakit ini biasanya secara spontan remits selama beberapa hari. Virus herpes simpleks adalah salah satu faktor  paling umum untuk mempercepat menjadi eritema multiforme (EM). Sekitar 15% pasien dengan EM memberikan sejarah herpes simpleks berulang infeksi virus sebelum lesi kulit meluas.

Dampak Pada Bayi

  • Herpes neonatus dapat menyebabkan infeksi yang berat, mengakibatkan kerusakan yang menahun pada susunan saraf pusat, perlambatan mental, atau kematian. Pengobatan, bila diberi secara dini, dapat membantu mencegah atau mengurangi kerusakan menahun, tetapi bahkan dengan pengobatan antiviral, infeksi ini berdampak buruk pada kebanyakan bayi.
  • Walau jarang, bayi dapat mengalami herpes neonatus setelah kelahiran. Infeksi tersebut hampir selalu disebabkan ciuman oleh seorang dewasa dengan herpes mulut yang aktif, sering dengan luka di sebelah mulut. Untuk melindungi bayi kita, jangan menciumnya bila kita mempunyai luka herpes di mulut, dan minta agar orang lain dalam keadaan yang sama tidak mencium bayi kita. Bila kita mempunyai luka herpes pada mulut, cuci tangan sebelum menyentuh bayi.

Diagnosis Banding

  • Aphthous Ulcers
  • Cytomegalovirus Infection
  • Enteroviral Infections
  • Erythema Toxicum
  • Neonatal Sepsis
  • Sepsis
  • Varicella
  • Zoster

Penanganan

  • Terapi medis khusus dari herpes simplex virus (HSV) infeksi melibatkan obat antivirus. Rawat inap atau perawatan medis intensif hanya diperlukan dalam pengelolaan herpes neonatal simpleks infeksi virus, herpes simpleks ensefalitis virus, dan infeksi pada host immunocompromised.
  • Terapi dari eritema multiforme (EM) umumnya membahas manifestasi dermatologi dan bukan infeksi virus.
  • Konsultasi Konsultasi dengan dokter yang berpengalaman dalam merawat pasien sakit parah dengan penyakit menular dianjurkan untuk herpes neonatal simpleks infeksi virus, herpes simplex encephalitis virus atau penyakit disebarluaskan, dan herpes simpleks infeksi virus pada pasien yang immunocompromised. Dokter tersebut dapat mencakup neonatologist, spesialis perawatan kritis, dan penyakit menular dokter. Konsultasi dengan dokter mata sangat penting dalam pengelolaan infeksi virus herpes simpleks mata.
  • Bila ada luka atau gejala prodrom pada saat persalinan, kelahiran dengan bedah sesar adalah cara yang paling aman untuk mencegah agar bayi tidak terkena virus di saluran kelahiran. Bila infeksi terdapat pada akhir kehamilan, banyak dokter akan mengusulkan bedah sesar walau tidak ada luka.
  • Bila seorang ibu hamil terlanjur terinfeksi herpes simpleks baru selama triwulan terakhir, banyak dokter meresepkan obat antiviral. Banyak perempuan agak ragu dengan penggunaan obat antiviral selama kehamilan untuk menekan jangkitan pada triwulan terakhir. Belum ada obat yang disetujui untuk mengobati herpes dalam keadaan ini. Walau demikian, asiklovir dipakai oleh beberapa dokter untuk mengobati perempuan dengan herpes kelamin pada akhir kehamilan. Penelitian kecil memberi kesan bahwa asiklovir yang dipakai setiap hari pada bulan terakhir kehamilan akan mencegah jangkitan, dan oleh karena itu mengurangi kebutuhan akan bedah sesar, tetapi beberapa ahli tetap ragu mengenai keamanan janin terpajan obat ini.
  • Namun saat ini, produsen asiklovir tidak mengusulkan penggunaannya selama kehamilan. Dari sisi lain, produsen ini melacak pengalaman beberapa ratus ibu yang memakai obat ini selama kehamilan, beberapa tidak sengaja, dan bukti sampai saat ini memberi kesan bahwa asiklovir tidak terkait dengan risiko cacat janin yang lebih tinggi atau dampak buruk pada kehamilan. Berdasarkan data ini, penggunaan pengobatan rumatan harian selama bulan terakhir kehamilan menjadi semakin lazim.

Obat medikamentosa

Antivirus yang digunakan untuk mengobati infeksi herpes simpleks virus analog nukleosida. Acyclovir adalah yang paling umum digunakan untuk mengobati antivirus herpes simpleks virus (HSV) infeksi. Obat oral lainnya termasuk famsiklovir, yang merupakan prodrug yang diubah menjadi penciclovir, dan valacyclovir, yang merupakan prodrug yang diubah menjadi asiklovir. Terapi oral efektif untuk  infeksi herpes simplex virus misalnya utama orolabial, kelamin. Intravena (IV) acyclovir diindikasikan untuk pengobatan ensefalitis, segala bentuk penyakit neonatal, infeksi berat pada pasien yang immunocompromised, dan sesekali kasus penyakit kelamin atau orolabial parah. Hal ini juga berguna dalam penindasan dari herpes genital berulang simplex virus infeksi untuk mengurangi pelepasan virus dan menurunkan tingkat rekurensi klinis.

Antivirus

Acyclovir, sebuah asiklik sintetis purin nukleosida analog, adalah pengobatan standar untuk jenis virus herpes simpleks 1 (HSV-1) dan herpes simplex virus tipe 2 (HSV-2) infeksi. Aktivasi obat membutuhkan waktu 3 phosphorylations. Virus kinase timidin herpes simpleks menambahkan fosfat pertama. Acyclovir mengikat 200-300 kali lebih rajin untuk kinase timidin virus dari menjadi tuan rumah enzim. Setelah fosforilasi selular akhir, trifosfat nukleosida efektif menghambat polimerase DNA dan bertindak sebagai terminator rantai DNA. Prekursor dari asiklovir (yaitu, valasiklovir, famsiklovir) memiliki bioavailabilitas lebih baik dari metabolit aktif mereka (asiklovir dan penciclovir, masing-masing).Hasil sebuah penelitian, retrospektif multicenter, kohort menunjukkan bahwa inisiasi terapi asiklovir tertunda dikaitkan dengan kemungkinan lebih besar secara signifikan kematian pada neonatus dengan infeksi HSV.

  • Acyclovir (Zovirax) Menghambat aktivitas HSV-1 dan HSV-2. Pasien mengalami rasa sakit minimal dan resolusi tercepat lesi kulit dengan start yang cepat terapi, biasanya dalam 48 jam setelah onset ruam. Selektif dimasukkan ke dalam sel yang terinfeksi. Dapat mencegah wabah berulang. Panjang catatan digunakan dengan profil keamanan yang sangat baik. Tersedia sebagai PO 200 susp mg / 5 ml formulasi, tab, topi, injeksi, dan topikal. Bentuk topikal tampaknya tidak efektif dalam mukokutan HSV genital berulang atau infeksi dan tidak menawarkan keuntungan lebih dari bentuk PO dalam mengobati infeksi genital primer HSV. Untuk pasien obesitas, menghitung dosis IV menurut berat badan ideal.
  • Valacyclovir (Valtrex) Lebih mahal tapi lebih nyaman dosis regimen dan unggul bioavailabilitas daripada PO asiklovir. Gunakan pada infeksi HSV remaja.Lihat informasi obat penuhFamsiklovir (Famvir) Transformasi in vivo untuk nukleosida analog aktif penciclovir, yang secara efektif dapat menghambat sintesis DNA HSV dan / atau replikasi. Lebih mahal tapi lebih nyaman dosis rejimen dibandingkan asiklovir. Gunakan pada infeksi HSV remaja.
  • Penciclovir (Denavir) Krim 1% disetujui untuk pengobatan infeksi HSV berulang orolabial. Aktif in vitro terhadap HSV-1 dan HSV-2 nukleotida derivatif. Guanosin analog yang menghambat sintesis DNA virus. Diabaikan sistemik penyerapan setelah penggunaan topikal. Aplikasi berulang krim dimulai tak lama setelah timbulnya gejala HSV berulang dan berlangsung selama 4 mempersingkat waktu untuk penyembuhan d sekitar 1 d. Juga dapat mempersingkat durasi pelepasan virus. Tidak disetujui oleh FDA untuk digunakan pada anak.

Pencegahan

  • Bicara dengan dokter kandungan atau bidan. Pastikan dia tahu kita terinfeksi herpes simpleks.
  • Pada saat persalinan, dokter harus memeriksakan kita secara dini dengan lampu kuat untuk melihat apakah ada luka atau tanda jangkitan. Beri tahu dokter bila ada tanda jangkitan – gatal, perasaan geli, atau nyeri.
  • Bila kita mengalami jangkitan aktif pada saat persalinan, tindakan yang paling aman untuk melahirkan adalah dengan bedah sesar untuk mencegah agar bayi tidak menyentuh virus dalam saluran kelahiran. Bila kita tidak mengalami jangkitan aktif, kita dapat melahirkan melalui vagina.
  • Minta agar dokter tidak memecahkan ketuban bila tidak harus. Ketuban dapat melindungi bayi terhadap virus apa pun di saluran kelahiran.
  • Minta agar dokter tidak memakai alat pemantau kepala janin selama persalinan untuk memantau denyut jantung bayi bila tidak dibutuhkan secara medis. Alat ini membuat tusukan yang sangat kecil pada kepala bayi, yang memungkinkan virus masuk. Dalam kebanyakan kasus, alat pemantau luar dapat dipakai.
  • Minta agar vakum atau alat mendorong bayi tidak dipakai selama persalinan kecuali dibutuhkan secara medis. Alat ini juga dapat menyebabkan luka pada kepala bayi, yang memungkinkan virus masuk.
  • Setelah kelahiran, memantau bayi secara seksama selama kurang lebih tiga minggu. Gejala herpes neonatus termasuk ruam, demam, lekas marah, atau kurang nafsu makan. Walau gejala ini dapat menunjukkan penyakit ringan, jangan menunggu bayi menjadi pulih. Segera periksakan bayi ke dokter anak. Pastikan dokter tahu kita terinfeksi herpes simpleks.
  • Kemungkinan besar bayi kita akan sehat.

Pencegahan

Bila hasil tes herpes simpleks adalah negatif, tetapi pasangan kita terinfeksi, kita dapat tertular bila kita tidak mengambil langkah untuk mencegah penularan. Langkah berikut dapat melindungi kita dari infeksi selama kehamilan.

  • Bila pasangan kita terinfeksi, tidak melakukan hubungan seks selama jangkitan aktifnya. Antara jangkitan, memakai kondom dari awal sampai akhir setiap kali berhubungan seks, walau pasangan tidak mempunyai gejala – herpes simpleks dapat menular walau tidak ada gejala. Mempertimbangkan tidak melakukan hubungan seks sama sekali pada triwulan terakhir.
  • Jangan membiarkan pasangan melalukan seks oral dengan kita bila dia mempunyai herpes mulut. Herpes mulut dapat menular pada kelamin melalui seks oral.
  • Bila kita tidak tahu apakah pasangan kita terinfeksi herpes simpleks, mungkin kita dapat minta pasangan agar dites.
  • Memakai kondom dari awal sampai akhir setiap kali melakukan hubungan seks, walau kita tidak mempunyai gejala. Herpes simpleks dapat menular walau tidak ada gejala melalui proses yang disebut pengeluaran tanpa gejala.
  • Bila kita mengalami jangkitan herpes, jangan melakukan hubungan seks sampai jangkitannya pulih total.
  • Bicara dengan dokter mengenai penggunaan obat antiviral untuk menekankan jangkitan dan mengurangi risiko penularan antara jangkitan secara bermakna.
  • Mempertimbangkan puasa seks (vagina, oral atau dubur) selama triwulan terakhir.
  • Bila kita terinfeksi herpes mulut, jangan melakukan seks oral pada pasangan untuk mencegah penularan virus tersebut.

ARTIKEL TERKAIT

Artikel Terkait:

supported by

CHILDREN GRoW UP CLINIC Yudhasmara Foundation Inspirasi Orangtua Cerdas, Tumbuhkan Anak Semakin Sehat, Kuat dan Pintar

WORKING TOGETHER FOR STRONGER, SMARTER AND HEALTHIER CHILDREN BY EDUCATION, CLINICAL INTERVENTION, RESEARCH AND NETWORKING INFORMATION . Advancing of the future pediatric and future parenting to optimalized physical, mental and social health and well being for fetal, newborn, infant, children, adolescents and young adult

Clinical – Editor in Chief :

Dr WIDODO JUDARWANTO SpA, pediatrician

Information on this web site is provided for informational purposes only and is not a substitute for professional medical advice. You should not use the information on this web site for diagnosing or treating a medical or health condition. You should carefully read all product packaging. If you have or suspect you have a medical problem, promptly contact your professional healthcare provider

Copyright © 2012, CHILDREN GRoW UP CLINIC Information Education Network. All rights reserved

About these ads

Tentang GrowUp Clinic

In 1,000 days Your Children, You can change the future. Our Children Our Future
Tulisan ini dipublikasikan di Gangguan Perkembangan - Perilaku, Gangguan Pertumbuhan, Kelainan Bawaan, Kesehatan Bayi, Kesehatan Ibu, Kesehatan Kehamilan-Persalinan, Kesehatan Terkini, Kesehatan Tersering, Penyakit Bawaan-Kongenital dan tag . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s