Salah Diagnosis Alergi Susu Sapi, Ternyata Infeksi Virus Juga Pemicu Alergi Pada Bayi

Salah Diagnosis Alergi Susu Sapi, Ternyata Infeksi Virus Juga Pemicu Alergi Pada Bayi

Alergi termasuk gangguan yang menjadi permasalahan kesehatan penting pada usia anak. Gangguan ini ternyata dapat menyerang semua organ tanpa terkecuali. Mulai dari ujung rambut sampai ujung kaki dengan berbagai bahaya dan komplikasi yang mungkin bisa terjadi. Belakangan terungkap bahwa alergi menimbulkan komplikasi yang cukup berbahaya, karena alergi dapat mengganggu semua organ atau sistem tubuh kita termasuk gangguan fungsi otak. Gangguan fungsi otak itulah maka timbul gangguan perkembangan dan perilaku pada anak seperti gangguan konsentrasi, gangguan emosi, keterlambatan bicara, gangguan konsentrasi hingga memperberat gejala penderita Autis dan ADHD. Gejala alergi pada bayi sering dicetuskan dan disebabkan karena banyak faktor. Tetapi yang paling sering terjadi justru dipicu atau diperberat karena infeksi virus ringan yang tidak terdeteksi. Sedangkan faktor lainnya dengan manifestasi lebih ringan disebabkan karena diet ibu bila minum ASI dan makanan yang dikonsumsi termasuk susu sapi. Seringkali dokter atau orangtua sulit membedakan faktor mana yang menjadi penyebab, bahkan seringkali setiap kali timbul gejala alergi langsung divonis alergi susu sapi dan harus ganti susu khusus padahal belum tentu alergi susu sapi.

Infeksi dan Alergi

Infeksi dan alergi seringkali merupakan dua hal yang saling berkaitan erat. Pada penderita alergi yang tidak terkendali khususnya yang berkaitan dengan gangguan saluran cerna (alergi atau hipersensitifitas saluran cerna) beresiko sering mengalami infeksi khususnya infeksi saluran napas. Sebaliknya keadaan infeksi khususnya infeksi virus demam, batuk, pilek, muntaber dapat memicu gejala alergi semakin meningkat.

Gejala alergi pada bayi selain makanan justru paling sering seringkali diperberat saat sakit atau terjadi oleh infeksi berupa infeksi virus, bakteri atau infeksi lainnya. Paling sering di antaranya adalah infeksi virus. Pada bayi tanda dan gejala infeksi virus ringan ini lebih sulit dikenali. Biasanya hanya berupa badan sumer teraba hangat hanya di kepala, telapak tangan dan badan bila diukur suhu normal. Biasanya disertai bersin, batuk sekali-sekali dan pada anak bayi tertentu nafas bunyi grok-grok. Flu pada bayi jarang sekali menimbulkan hidung meler biasanya hanya basah sedikit di sekitar hidung atau batuk sekali-sekali karena refleks batuk pada bayi basih belum sempurna. Bahkan sebagian dokter menilai gejala infeksi virus tersebut dianggap sebagai gejala alergi.Pada keadaan sakit seperti itu biasanya ada kontak yang sakit flu, demam, batuk atau infeksi virus ringan lainnya di dalam di rumah. Sayangnya orangtua juga sering tidak menyadari bahwa selama ini sering terkena infeksi virus yang gejalanya tidak khas tersebut. Gejala infeksi virus yang ringan yang dialami oleh penderita dewasa berupa badan ngilu, terasa pegal,nyeri tenggorokan atau kadang disertai sakit kepala. Gejala ringan, tidak khas dan cepat membaik ini sering dianggap “gejala mau flu tidak jadi”, masuk angin, kurang tidur, panas dalam atau kecapekan

Sulitnya membedakan Alergi dan Infeksi Virus

Manifestasi klinis yang sering dikaitkan dengan penderita alergi pada bayi.

  • GANGGUAN SALURAN CERNA : Sering muntah/gumoh, kembung,“cegukan”, sering buang angin, sering “ngeden /mulet”, sering REWEL / GELISAH/COLIK terutama malam hari), Sering buang air besar (> 3 kali perhari), tidak BAB tiap hari, BERAK DARAH. Feses cair, hijau, bau tajam, kadang seperti biji cabe. Hernia Umbilikalis (pusar menonjol), Scrotalis, inguinalis (benjolan di selangkangan, daerah buah zakar atau pusar atau “turun berok”) karena sering ngeden sehingga tekanan di dalam perut meningkat.
  • Kulit sensitif. Sering timbul bintik atau bisul kemerahan terutama di pipi, telinga dan daerah yang tertutup popok. Kerak di daerah rambut.Timbul bekas hitam seperti tergigit nyamuk. Mata, telinga dan daerah sekitar rambut sering gatal, disertai pembesaran kelenjar di kepala belakang. Kotoran telinga berlebihan kadang sedikit berbau.
  • Lidah. Lidah sering timbul putih (seperti jamur). Bibir tampak kering atau bibir bagian tengah berwarna lebih gelap (biru).
  • Napas Berbunyi (Hipersekresi bronkus). Napas grok-grok, kadang disertai batuk sesekali terutama malam dan pagi hari siang hari hilang. Bayi seperti ini beresiko sering batuk atau bila batuk sering lama (>7hari) dan dahak berlebihan )
  • Sesak segera setelah lahir. Sesak bayi baru lahir saat usia 03 hari, biasanya akan membaik paling lama 7-10 hari. disertai kelenjar thimus membesar (TRDN (Transient respiratory ditress Syndrome) /TTNB). BILA BERAT SEPERTI PARU-PARU TIDAK MENGEMBANG (LIKE RDS). Bayi usia cukup bulan (9 bulan) secara teori tidak mungkin terjadi paru2 yang belum mengembang. Paru tidak mengembang hanya terjadi pada bayi usia kehamilan < 35 minggu) Bayi seperti ini menurut penelitian beresiko asthma (sering batuk/bila batuk sering dahak berlebihan )sebelum usia prasekolah. Keluhan ini sering dianggap infeksi paru atau terminum air ketuban.
  • Hidung Sensitif. Sering bersin, pilek, kotoran hidung banyak, kepala sering miring ke salah satu sisi (Sehingga beresiko kepala “peyang”) karena hidung buntu, atau minum dominan hanya satu sisi bagian payudara. Karena hidung buntu dan bernapas dengan mulut waktu minum ASI sering tersedak
  • Mata Sensitif. Mata sering berair atau sering timbul kotoran mata (belekan) salah satu sisi atau kedua sisi.
  • Keringat Berlebihan. Sering berkeringat berlebihan, meski menggunakan AC keringat tetap banyak terutama di dahi
  • Berat Badan Berlebihan atau kurang. Karena minum yang berlebihan atau sering minta minum berakibat berat badan lebih dan kegemukan (umur <1tahun). Sebaliknya terjadi berat badan turun setelah usia 4-6 bulan, karena makan dan minum berkurang
  • Saluran kencing. Kencing warna merah atau oranye (orange) denagna sedikit bentukan kristal yang menempel di papok atau diapers . Hal ini sering dianggap inmfeksi saluran kencing, saat diperiksa urine seringkali normal bukan disebabkan karena darah.
  • Kepala, telapak tangan atau telapak kaki sering teraba sumer/hangat.
  • Gangguan Hormonal. Mempengaruhi gangguan hormonal berupa keputihan/keluar darah dari vagina, timbul jerawat warna putih. timbul bintil merah bernanah, pembesaran payudara, rambut rontok, timbul banyak bintil kemerahan dengan cairan putih (eritema toksikum) atau papula warna putih
  • Gangguan Sulit Makan dan Gangguan Kenaikkan Berat Badan. Pada bayi berusia di atas 6 bulan dengan keluhan sering mual, BAB ngeden atau sulit, BAB > 3 kali seringkali mengakibatkan kesulitan makan atau makan hanya sedikit yang mengakibatkan gangguan kenaikkan berat badan dan sering mengalami daya tahan tubuh menurun sejak usia 6 bulan. Pada usia sebelum 6 bulan kenaikkan pesat tetapi setelah usia 6 bulan kenaikkan relatif datar. Pada penderita hipersensitifitas non alergi (non atopi) biasa nya ghangguan berat badan dan sulit makan lebih tidak ringan dan timbul sejak usia sebelum 6 bulan tetapi setelah 6 bulan lebih buruk

PERILAKU YANG SERING MENYERTAI PENDERITA ALERGI PADA BAYI

  • GANGGUAN NEURO ANATOMIS : Mudah kaget bila ada suara yang mengganggu. Gerakan tangan, kaki dan bibir sering gemetar. Kaki sering dijulurkan lurus dan kaku. Breath Holding spell : bila menangis napas berhenti beberapa detik kadang disertai sikter bibir biru dan tangan kaku. Mata sering juling (strabismus). Kejang tanpa disertai ganggguan EEG (EEG normal)
  • GERAKAN MOTORIK BERLEBIHAN Usia < 1 bulan sudah bisa miring atau membalikkan badan. Usia < 6 bulan: mata/kepala bayi sering melihat ke atas. Tangan dan kaki bergerak berlebihan, tidak bisa diselimuti (“dibedong”). Kepala sering digerakkan secara kaku ke belakang, sehingga posisi badan bayi “mlengkung” ke luar. Bila digendomg tidak senang dalam posisi tidur, tetapi lebih suka posisi berdiri. Usia > 6 bulan bila digendong sering minta turun atau sering bergerak/sering menggerakkan kepala dan badan atas ke belakang, memukul dan membentur benturkan kepala. Kadang timbul kepala sering bergoyang atau mengeleng-gelengkan kepala. Sering kebentur kepala atau jatuh dari tempat tidur.
  • GANGGUAN TIDUR (biasanya MALAM-PAGI) gelisah,bolak-balik ujung ke ujung; bila tidur posisi “nungging” atau tengkurap; berbicara, tertawa, berteriak dalam tidur; sulit tidur atau mata sering terbuka pada malam hari tetapi siang hari tidur terus; usia lebih 9 bulan malam sering terbangun atau tba-tiba duduk dan tidur lagi,
  • AGRESIF MENINGKAT, pada usia lebih 6 bulan sering memukul muka atau menarik rambut orang yang menggendong. Sering menarik puting susu ibu dengan gusi atau gigi, menggigit, menjilat tangan atau punggung orang yang menggendong. Sering menggigit puting susu ibu bagi bayi yang minum ASI, Setelah usia 4 bulan sering secara berlebihan memasukkan sesuatu ke mulut. Tampak anak sering memasukkan ke dua tangan atau kaki ke dalam mulut. Tampak gampang seperti gemes atau menggeram
  • GANGGUAN KONSENTRASI : cepat bosan terhadap sesuatu aktifitas bermain, memainkan mainan, bila diberi cerita bergambar sering tidak bisa lama memperhatikan. Bila minum susu sering terhenti dan teralih perhatiannya dengan sesuatu yang menarik tetapi hanya sebentar
  • EMOSI MENINGKAT, sering menangis, berteriak dan bila minta minum susu sering terburu-buru tidak sabaran. Sering berteriak dibandingkan mengiceh terutama saat usia 6 bulan
  • GANGGUAN MOTORIK KASAR, GANGGUAN KESEIMBANGAN DAN KOORDINASI : Pada POLA PERKEMBANGAN NORMAL adalah BOLAK-BALIK, DUDUK, MERANGKAK, BERDIRI DAN BERJALAN sesuai usia. Pada gangguan keterlambatan motorik biasanya bolak balik pada usia lebih 5 bulan, usia 6 – 8 bulan tidak duduk dan merangkak, setelah usia 8 bulan langsung berdiri dan berjalan.
  • GANGGUAN ORAL MOTOR: KETERLAMBATAN BICARA: Kemampuan bicara atau ngoceh-ngoceh hilang dari yang sebelumnya bisa. Bila tidak ada gangguan kontak mata, gangguan pendengaran, dan gangguan intelektual biasanya usia lebih 2 tahun membaik. GANGGUAN MENGUNYAH DAN MENELAN: Gangguan makan makanan padat, biasanya bayi pilih-pilih makanan hanya bisa makanan cair dan menolak makanan yang berserat. Pada usia di atas 9 bulan yang seharusnya dicoba makanan tanpa disaring tidak bisa harus di blender terus sampai usia di atas 2 tahun.
  • IMPULSIF : banyak tersenyum dan tertawa berlebihan, lebih dominan berteriak daripada mengoceh.
  • Memperberat ADHD dab Autis. Jangka panjang akan memperberat gangguan perilaku tertentu bila anak mengalami bakat genetik seperti ADHD (hiperaktif) dan AUTIS (hiperaktif, keterlambatan bicara, gangguan sosialisasi). Tetapi alergi bukan penyebab Autis tetapi hanya memperberat. Penderita alergi dengan otak yang normal atau tidak punya bakat Autis tidak akan pernah menjadi Autis.

Untuk membedakan infeksi dan alergi tampaknya sangat mudah. Tetapi faktanya banyak penderita bahkan dokter sekalipun sering keliru dalam menilai seseorang mengalami alergi atau infeksi. Pada penderita saat mengalami gejala alergi sering dianggap infeksi tetapi sebaliknya gejala infeksi dianggap alergi. Karena, pada penderita infeksi ringan kadang tanpa disertai demam atau hanya demam sangat ringan yang selama ini dianggap normal. Banyak penderita sering pilek hilang timbul dalam jangka panjang. Seringkali penderita merasa semua gangguan pileknya selama ini karena alergi. Tetapi bila dicermati ternyata penderita alergi mudah terserang flu. Memang dalam jangka pilek tersebut penderita mengalami alergi. Tetapi, dísela alergi tersebut mereka mudah terkena flu.

Infeksi virus ini secara tidak disadari ternyata sangat sering memicu penderita alergi yang tidak terkendali. Artinya saat terjadi alergi ringan di tubuhnya bila terkena infeksi virus maka manifestasi alergi akan semakin bertambah berat. Hal inilah yang menunjukkan bahwa penderita asma kekambuhannya timbul pada saat terjadi infeksi batuk dan pilek. Begitu juga menifestasi alergi lainnya seperti biduran, nyeri perut, gangguan lambung (mual, muntah) dan manifestasi alergi lainnya timbul saat terjadi infeksi.

Tanda dan Gejala Infeksi

Infeksi yang dimaksud disini adalah bebagai serangan infeksi yang mengganggu tubuh baik berupa infeksi virus, bakteri atau infeksi lainnya. Paling sering di antaranya adalah infeksi virus. Infeksi ini berupa radang tenggorok (faringitis akut), Radang amandel (tosilitis akut), Infeksi saluran napas atau infeksi virus lainnya yang tidak khas. Pada bayi tanda dan gejala infeksi virus lebih sulit dikenali. Bahlan sebagian dokter menilai gejala infeksi virus tersebut dianggap sebagai gejala alergi. Pada bayi seringkali kontak infeksi virus tersebut tertular oleh kontak y6ang sakit di rumah. Sayangnya orangtua juga sering tidak menyadari bahwa selama ini sering terkena infeksi virus yang gejalanya tidak khas tersebut. Gejala infeksi virus yang ringan inilah yang sering dialami oleh penderita dewasa. Gejala ringan, tidak khas dan cepat membaik ini sering dianggap gejala masuk angin, panas dalam atau kecapekan.

CERMATI KONTAK ANTARA BAYI DENGAN SUMBER INFEKSI VIRUS SEPERTI KAKAK, ORANG TUA ATAU ORANG DI SEKITARNYA DI DALAM RUMAH

Seringkali infeksi virus pada bayi ditularkan oleh orang disekitarnya dalam satu rumah baik dari kakak, orangtua dan pengasuhnya.

Tanda dan gejala umum infeksi virus yang di alami orang dewasa adalah :

  • Sakit kepala.
  • Nyeri tenggorokan, tenggorokan kering
  • Batuk ringan, bersin atau pilek.
  • Mual atau muntah
  • Badan kedinginan, terasa hangat di muka dan kepala
  • Badan lesu
  • Myalgia.
  • Manifestasi Ringan Infeksi Virus tidak khas : pada sebagian kasus gangguan infeksi virus ini mengakibatkan gejala yang tidak khas dan sangat ringan. Badan, otot dan tulang (khususnya tulang punggung, kaki dan tangan) ngilu dan nyeri. Timbul hidung buntu, pilek ringan , nyer tenggorok ringan tetapi hanya terjadi dalam 1-2 hari kemudian membaik. keadaan ini sering dianggap “mau flu tidak jadi”. Gangguan ringan dan tidak khas inilah yang selama ini tidak disadari oleh penderita bahkan oleh dokter sekalipun. Seringkali gangguan ini oleh penderita bahkan sebagian dokter sering dianggap karena kecapekan, kurang tidur, panas dalam, masuk angin atau terlalu lama menggendong bayi.

Tanda dan gejala umum infeksi virus yang di alami anak adalah :

  • Mialgia. Badan, otot dan tulang (khususnya tulang punggung, kaki dan tangan) sakit minta dipijat
  • Batuk, bersin atau pilek.
  • Mual atau muntah, kadang disertai diare ringan.
  • Badan kedinginan, terasa hangat di telapak tangan, muka dan kepala (suhu tidak tinggi kurang dari 38C)
  • Badan lesu
  • Sakit kepala.
  • Nyeri tenggorokan, tenggorokan kering

Tanda dan gejala umum infeksi virus yang di alami bayi adalah :

  • Infeksi virus saluran napas pada bayi seringkali tanpa disertai demam, pilek atau batuk yang keras
  • Bayi lebih rewel dibandingkan biasanya, sering dianggap haus atau minta minum
  • Batuk hanya sekali-sekali atau dikira tersedak.
  • Bersin lebih sering
  • Napas bunyi grok-grok(hiperreaktifitas bronkus) lebih keras dibandingkan biasanya
  • Mual atau muntah lebih sering dibandingkan biasanya, kadang disertai diare ringan atau bahkan sulit BAB.
  • Teraba hangat di telapak tangan, muka dan kepala (suhu tidak tinggi kurang dari 38C)
  • Gangguan alergi kulit lebih hebat dibandingkan biasanya
  • Terdapat rash kulit virus yang khas terutam,a timbul di dada atau di perut : bintik merah terang, halus, sangat kecil, rata dan tidak timbul
  • Biasanya di rumah juga ada yang mengalami sakit infeksi saluran napas atau gejala infeksi virus ringan yang tidak khas. (lihat gejala infeksi virus pada orang dewasa di atas)

Infeksi Memicu Timbulnya Alergi

Infeksi khususnya infeksi virus demam, batuk, pilek, muntaber dapat memicu gejala alergi semakin meningkat. Infeksi bakteri, virus atau lainnya sering memicu timbulnya gejala alergi. Hal ini misalnya dapat dilihat saat anak demam tinggi misalnya karena faringitis akut (infeksi tenggorokan) sering disertai timbul gejala alergi lainnya seperti asma (sesak), mata bengkak, biduran, kulit timbul bercak merah, diare, muntah atau nyeri perut padahal yang infeksi adalah tenggorokan. Pada anak yang mengalami nyeri perut saat demam biasanya dalam keadaan sehatpun pernah mengalami riwayat sakit perut berulang. Demikian juga timbal diare, muntah, kulit timbul ruam saat demam, biasanya penderita memang punya riwayat saluran pencernaan atau kulit yang sensitif (alergi).Keadaan ini membuat pengenalan tanda, gejala alergi dan mencari penyebab alergi menjadi lebih rumit.

Widodo Judarwanto telah melakukan penelitian ternyata pada 1650 anak yang berobat di Children Allergy Clinic saat mengalami tanda dan gejala alergi dan asma sebagian besar atau sekitar 88% timbul diawali dan disertai infeksi virus. Ternyata saat infeksi virus tersebut manifestasi alergi lebih berat. Saat timbul manifestasi alergi yang berat biasanya sebagian besar penderita saat sehat atau 1-2 minggu sebelum sakit mengalami gejala alergi ringan yang tidak disadari. Dalam penelitian selanjutnya ternyata saat dilakukan pengendalian alergi dengan eliminasi provokasi makanan ternyata saat timbul infeksi virus gejala alergi dan asma tersebut tidak timbul lagi.

Seringkali keadaan infeksi sebagai pemicu alergi ini tidak terdeteksi atau diabaikan. Sehingga seringkali terjadi kesalahan diagnosis memvonis penyebab alergi adalah susu, debu atau makanan tertentu. Hal ini juga sebagai penyebab tersering terjadi overdiagnosis alergi susu sapi pada bayi Ketika minum susu sapi selama 3-6 bulan tidak mengalami tanda dan gejala alergi. Tetapi setelah itu terdapat gangguan berak darah, gangguan kulit, batuk datau pilek dianggap karena alergi susu sapi.

Dalam keadaan demam tersebut biasanya penderita alergi tampak kelihatan lebih aktif, impulsif (banyak omong), hiperaktif, emosi meningkat dan lebih agresif. Hal inilah yang sering diasumsikan oleh orang tua kita dahulu bahwa bila anak demam atau sakit artinya karena mau pintar. Pendapat tersebut tidak dapat disalahkan sepenuhnya karena memang pada penderita alergi bila sakit tampak peningkatan atau perubahan beberapa perilaku tersebut di atas. Hal ini diduga saat infeksi atau sakit terjadi gangguan saluran cerna sehingga stimulasi ke otak semakin meningkat sehingga gejala atau tampilan perilakun serta intelectual anak juga terdapat perubahan.Keadaan ini mengakibatkan sulit membedakan antara alergi dan infeksi. Secara sepintas membedakan alergi dan infeksi sangat mudah. Tetapi, faktanya banyak penderita bahkan dokter sering sulit membedakan antara alergi dan infeksi. Apalagi saat terkena infeksi tidak harus disertai demam.

Saat terkena infeks berat seperti DBD atau demam berdarah Dengue gejala alergi atau hipersensitifitas tubuh sangat terganggu. Biasanya penderita alergi yang sebelumnya sering mengalami riwayat mual, nyeri perut, mimisan, sakit kepala, batuk ringan, kulit sensitif saat mengalami infeksi DBD gangguan mual, muntah, nyeri perut, mimisan, sakit kepala, batuk ringan, kulit sensitif akan terjadi lebih berat dan lebih hebat. Atau dibalik, penderita DBD yang mengalami keluhan mual, nyeri perut, sakit kepala, mimisan yang hebat biasanya saat sehat sebelumnya mengalami riwayat manifestasi alergi atau hipersensitif yang tidak disadari. Penderita dengan kulitr sensitif saat terkena DBD mengalami manifestasi kulit yang berlebihan. Pada anak ini sering dikelirukan dengan penyakit campak. Sehingga pada beberapa kasus penderita DBD awalnya sering dikira sakit campak.

Bahkan serangan infeksi virus yang ringan inipun ternyata dapat memicu atau memperberat tanda dan gejala penyakit auto immun lainnya seperti : Lupus, diabetes melitus, psoriasis, henoch schonlein syndrome, Autism, ADHD, GuillainBarré syndrome, Rhematoid artritis, penyakit kawazaki, dan sebagainya. Berbagai gejala dan tanda penyakit tersebut akan lebih berat saat mengalami infeksi virus atau gangguan tersebut biasanya diawali oleh timbulnya infeksi virus.

POST VIRAL ALLERGIC SYNDROME

Gejala Post Viral Allergic Syndrome atau pada dewasa sering dikenal sebagai Post Viral Fatigue Syndrome, yaitu timbulnya kumpulan gejala alergi atau reaksi imunologis justru setelah perjalanan penyakit infeksi itu sembuh. Biasanya terjadi pada infeksi epstein bar, virus coxsakcie atau enterovirus lainnya. Hal tersebut tampak pada anak sakit panas antara 2 – 5 hari, setelah panasnya turun timbul bercak atau bintil kemerahan pada kulit. Biasanya disertai gangguan pencernaan berupa diare, muntah atau sulit berak. Gangguan ini di dalam kedokteran sering diistilahkan sebagai Exantema Subitum. Penderita yang saat mengalami infeksi virus terjadi tanda dan gejala Exantema Subitum pasti sebelumnya mempunyai riwayat alergi atau kulit yang sensitif.

Kejadian seperti itu sering dianggap sebagai sakit campak, padahal pada campak timbul bercak merah justru pada saat timbulnya panas. Konsekuensi yang terjadi adalah anak tidak akan diimunisasi campak, padahal saat itu belum tentu menderita campak.Pengalaman tersebut sering juga dianggap sebagai alergi obat tertentu selama sakit, padahal alergi obat biasanya terjadinya segera atau pada hari pertama setelah minum obat.

Pada penderita alergi yang mengalami sakit infeksi tertentu, biasanya setelah panas badan turun diikuti oleh timbulnya bercak kemerahan pada kulit tubuh. Biasanya disertai rewel, keluhan saluran cerna seperti diare atau sulit berak. Hal inilah sering dianggap oleh orang tua sebagai penyakit campak.

Beda Infeksi atau Alergi

Secara sepintas atau secara teoritis tampaknya sangat mudah membedakan alergi atau infeksi. tetapi, fakta yang sering terjadi pnderita bahlkan dokter kadang sulit membedakan antara infeksi dan alergi. Hal ini terjadi karena infeksi tidak harus disertai demam. Pedoman umum yang lebih mudah untuk membedakan alergi dan infeksi adalah saat alergi gangguannya ringan, tetapi saat terkena infeksi gangguannya lebih berat dan luas.

Pada penderita alergi, saat gejala alergi tidak terkendali bila terserang infeksi maka manifestasinya akan lebih berat.

  • Misalnya pada bayi yang mengalami gangguan dermatitis atau kulit yang sensitif. Saat sehat kadang timbul gejala alergi pada kulit tetapi sangat ringan mungkin hanya kasar sedikit dikulit atau timbul seperti gigitan nyamuk satu atau dua. Tetapi saat terkena infeksi saluran napas atau flu maka gangguan kulit tersebut akan semakin berat dan luas kadang sampai hampir seluruh muka dan sebagian badan.
  • Pada bayi dengan gangguan saluran cerna seperti muntah. Saat alergi biasanya hanya muntah 1-2 kali tetapi saat terkena infeksi muntah lebih berat dan lebih sering hingga 4-5 kali lebih.
ALERGI INFEKSI atau (Gejala alergi dipicu infeksi virus)
Kulit Bayi : kasar sedikit di pipi. bintik merah satu atau dua.Pada anak atau dewasa : kulit seperti digigit nyamuk 1-2, timbul bintik kasar sedikitGangguan kulit ringan seperti digigit nyamuk satu atau dua. Bruntusan dan bercak merak lebih banyak, lebih merah, lebih luas dan lebih kasar. Pada anak atau dewasa : kulit seperti digigit nyamuk atau serangga lebih banyak dan bengkak lebih besar, timbul bintik kasar dan bruntusan lebih luas, pada beberapa kasus sering dikira penyakit campak. Saat infeksi timbul biduran atau kaligata (urtikaria)
BAB : berak lebih 3 kali perhari, ngeden, hijau mudaMudah mual atau muntah saat menagis atau berlari BAB : lebih cair, warna lebih hijau tua atau hitam bau lebih tajam.Muntah lebih sering dan lebih banyak. Saat terkena infeksi Muntaber biasanya muntah lebih hebat seringkali harus mengalami perawatan pemberian infus di rumah sakit
Pada bayi napas bunyi grok-grok ringan (hiperreaktifitas bronkus) tidak disertai batuk sama sekali. Pada anak Batuk lebih ringan, biasanya malam lebih sering siang hilang Pada bayi napas grok-grok lebih keras terdengar, terdengar batuk hanya sekali-sekali. Pada anak batuk Siang juga batuk tetapi malam hari lebih keras, kadang disertai dahak kuning, kental dan hijau
Pilek atau bersin hanya malam dan pagi hari Pilek atau bersin lebih sering dan lebih keras baik siang atau malam. Ingus kental, hijau atau kuning.
Mata gatal, di bawah mata sering sedikit kehitaman Mata lebih gatal, di bawah mata sering lebih gelap. Kadang disertai bengkak pada bibir dan kelopak mata
Pada bayi timbul kotoran atau belekan di satu sisi mata. Pada bayi timbul kotoran atau belekan lebih banyak dan timbul di kedua sisi mata
Sulit BAB, ngeden, 1- 2 hari sekali, feses blat, hitam atau hijau Sulit BAB lebih keras, lebih ngeden, BAB lebih jarang sampai 3-5 hari sekali, hitam atau hijau,Bahkan sampai keluar darah
Batuk-batuk malam, sering napas dalam (menghela napas, atau menarik napas dalam) Batuk lebih berat dan lendir lebih banyak sehingga harus membutuhkan terapi inhalasi atau penguapan. Sesak, dan bunyi ngik-ngik atau mengi.
Punya riwayat sering BAB 3 kali atau lebih perhari Saat infeksi virus berak sering cair atau diare ringan.
Mimisan (epitaksis) atau perdarahan hidung ringan Mimisan atau perdarahan hidung lebih banyak
Pada anak nyeri perut ringan sering dikira pura-pura, karena hilang timbul tanpa diobatiMudah muntah tetapi ringan dan tidak tiap hari Nyeri perut lebih hebat kadang sampai menangis. Waspadai saat dalam kondisi ini sering dianggap usus buntu. Bila diagnosis meragukan jangan langsung operasi tetapi second opinion segera ke dokter bedah laninnya
Anak aktif dan tidak bisa diam, Gangguan tidur, emosi tinggi Anak lebih aktif dibandingkan biasanya
Gangguan tidur, emosi tinggi, agak agresif Gangguan tidur, emosi tinggi, agak agresif lebih berat
Kalau ringan tanpa obat, atau obat alergi biasa. Tidak perlu inhalasi atau fisioterapi Antibiotika tidak perlu bila infeksinya karena virus. Kalau sesak atau napas berat perlu inhalasi atau fisioterapi
MEMBEDAKAN BERAK DARAH KARENA INFEKSI SALURAN CERNA (amuba, shigela dll) ATAU KARENA HIPERSENSITIF SALURAN CERNA (DIPICU INFEKSI DI LUAR SALURAN CERNA seperti ISPA, ISK atau infeksi virus lainnya )
  • INFEKSI SALURAN CERNA (DISENTRI, AMUBA) : Saat hari pertama frekuensi darah dalam feses sedikit selanjutnya hari ke dua dan ke tiga sering dan bertambah banyak. Gangguan ini perlu antibiotika
  • Hipersensitif saluran cerna (dipicu infeksi di luar saluran cerna seperti demam, flu, batuk, pilek) : bila berak darah hanya timbul saat hari pertama dan saat hari ke dua dan ke tiga semakin berkurang dan membaik tanpa pemberian antibiotika. Gangguan ini tidak perlu antibiotika

END POINT

  • Infeksi khususnya infeksi virus ternyata paling sering memicu terjadinya gejala alergi. Tetapi justru sebagain besar infeksi virus yang ada sangat ringan dan tidak khas sehingga sering diabaiakan oleh penderita bahkan dokter sekalipun.
  • Bila saat sehat tanda dan gejala alergi tidak ada maka saat terkena infeksi gangguan alergi tidak timbul atau tidak akan lebih berat
  • Bila saat sehat timbul gejala alergi ringan maka saat terkena infeksi maka gejala alergi lebih berat dan lebih hebat. Atau dibalik, saat timbul gejala alergi yang tidak ringan atau hebat biasanya disertai timbulnya infeksi virus.
  • Sehingga bila saat sakit infeksi virus atau saluran napas timbul sesak (asma), berak darah, kulit merah berlebihan, biduran. Maka biasanya seminggu sebelum sakit gejala alergi timbul lebih ringan tidak kita sadari
  • Sebenarnya kekambuhan asma dan gangguan alergi yang lebih berat saat sakit dapat dihindari bila saat sehat gangguan alergi yang ringan dapat dikenali dan dihindari.
  • Sayangnya gangguan alergi yang ringan tersebut penderita atau orangtua sering diabaikan dan tidak dikenali. Justru penderita alergi berobat ke dokter bukan saat alerginya timbul tetapi saat alerginya diperberat terpicu oleh infeksi virus atrau infeksi lainnya.
  • Bila alergi tidak terkendali akan mudah infeksi sedangkan infeksi memperberat alerginya. Sehingga jalan yang paling penting adalah kenali dan atasi hindari penyebab alergi saat dalam keadaan sehat. Penyebab alergi yang sering adalah debu dan makanan, tetapi bila terdapat gangguan sensitif saluran cerna biasanya penyebab utama adalah alergi makanan.
  • Waspadai orangtua atau orang di rumah sering terdapat penderita infeksi berulang maka bila terdapat anak atau bayi juga akan sering terkena infeksi atau gejala alerginya akan lebih sering kambuh, karea infeksi akan memicu reaksi alergi yang ada. Keadaan seperti ini seringkali kita memvonis anak tertular sakit karena terteular di sekolah, tetapi sering tidak menyadari bahwa anda sebagai penyebab atau sumber infeksi yang menularkan pada anak atau bayi and.a

Rujukan Pustaka

    • Busse WW, Lemanske RF Jr, Gern JE. Role of viral respiratory infections in asthma and asthma exacerbations. Lancet. 2010 Sep 4;376(9743):826-34.
    • Oh JW. Respiratory viral infections and early asthma in childhood. Allergol Int. 2006 Dec;55(4):369-72.
    • Busse WW. The contribution of viral respiratory infections to the pathogenesis of airway hyperreactivity. Chest. 1988 May;93(5):1076-82.
    • Carroll KN, Hartert TV. The impact of respiratory viral infection on wheezing illnesses and asthma exacerbations. Immunol Allergy Clin North Am. 2008 Aug;28(3):539-61, viii.
    • Micillo E, Marcatili P, Palmieri S, Mazzarella G. Viruses and Asthmatic Syndromes. Monaldi Archives for Chest Disease 53(1):88-91, 1998 Feb
    • Schwarze J, Hamelmann E, Bradley KL, Takeda K, Gelfand EW. Respiratory Syncytial Virus Infection Results in Airway Hyperresponsiveness and Enhanced Airway Sensitization to Allergen. Journal of Clinical Investigation 100(1):226-33, 1997 Jul 1
    • Velissariou IM, Papadopoulos NG. The role of respiratory viruses in the pathogenesis of pediatric asthma. Pediatr Ann. 2006 Sep;35(9):637-42.
    • Refabert L, Mahut B, de Blic J, Scheinmann P. Acute Viral Respiratory Infections and Asthma. Revue du Praticien 46(17):2077-82, 1996 Nov 1
    • Nystad W, Skrondal A, Magnus P. Day care attendance, recurrent respiratory tract infections and asthma. Int J Epidemiol. 1999;28 :882 –887
    • Martinez FD. Viral Infections and the Development of Asthma. American Journal of Respiratory & Critical Care Medicine 151(5):1644-7; discussion 1647-8, 1995 May
    • Einarsson O, Geba GP, Zhu Z, Landry M, Elias JA. In Vivo and In Vitro by Respiratory Viruses and Induction of Airways Hyperresponsiveness Journal of Clinical Investigation 97(4):915-24, 1996 Feb 15
    • Stamwell-Smith R, Bloomfield S. The hygiene hypothesis and implications for home hygiene, International Scientific Forum on Home Hygiene, Milan, 2004.
    • Balemans WAF, Rovers MM, Cornelis K. Childhood upper respiratory tract infections are not associated with asthma, hay fever and eczema at adulthood: a birth cohort study [abstract]. Eur Respir J. 2004;24(suppl 48) :4046
    • Nicolai T, von Mutius E. Risk of asthma in children with a history of croup. Acta Paediatr. 1996;85 :1295 –1299
    • Grimfeld A. The Wheezing Child and Pediatric Respiratory Infections. Allergie et Immunologie 29(3):73-4; discussion 82, 1997 Mar
    • Salam MT, Li YF, Langholz B, Gilliland FD. Early-life environmental risk factors for asthma: findings from the Children’s Health Study. Environ Health Perspect. 2004;112 :760 –765
    • Nafstad P, Magnus P, Jaakkola JJK. Early respiratory infections and childhood asthma. Pediatrics. 2000;106 (3). Available at:
    • Illi S, von Mutius E, Lau S, et al. Early childhood infectious diseases and the development of asthma up to school age: a birth cohort study. BMJ. 2001;322 :390 –395
    • Bodner C, Godden D, Seaton A. Family size, childhood infections and atopic diseases. The Aberdeen WHEASE Group. Thorax. 1998;53 :28 –32
    • Farooqi IS, Hopkin JM. Early childhood infection and atopic disorder. Thorax. 1998;53 :927 –932
    • von Mutius E, Illi S, Hirsch T, Leupold W, Keil U, Weiland SK. Frequency of infections and risk of asthma, atopy and airway hyperresponsiveness in children. Eur Respir J. 1999;14 :4 –11
    • Ponsonby AL, Couper D, Dwyer T, Carmichael A, Kemp A. Relationship between early life respiratory illness, family size over time, and the development of asthma and hay fever: a seven year follow-up study. Thorax. 1999;54 :664 –669
    • Williams LK, Peterson EL, Ownby DR, Johnson CC. The relationship between early fever and allergic sensitization at age 6 to 7 years. J Allergy Clin Immunol. 2004;113 :291 –296
    • McKeever TM, Lewis SA, Smith C, Hubbard R. The importance of prenatal exposures on the development of allergic disease: a birth cohort study using the West Midlands General Practice Database. Am J Respir Crit Care Med. 2002;166 :827 –832
    • Henderson J, Hilliard TN, Sherriff A, Stalker D, Al SN, Thomas HM. Hospitalization for RSV bronchiolitis before 12 months of age and subsequent asthma, atopy and wheeze: a longitudinal birth cohort study. Pediatr Allergy Immunol. 2005;16 :386 –392
    • Bont L, Steijn M, van Aalderen WM, et al. Seasonality of long term wheezing following respiratory syncytial virus lower respiratory tract infection. Thorax. 2004;59 :512 –516
    • Stein RT, Sherrill D, Morgan WJ, et al. Respiratory syncytial virus in early life and risk of wheeze and allergy by age 13 years. Lancet. 1999;354 :541 –545
    • Sigurs N, Gustafsson PM, Bjarnason R, et al. Severe respiratory syncytial virus bronchiolitis in infancy and asthma and allergy at age 13. Am J Respir Crit Care Med. 2005;171 :137 –141
    • Trefny P, Stricker T, Baerlocher C, Sennhauser FH. Family history of atopy and clinical course of RSV infection in ambulatory and hospitalized infants. Pediatr Pulmonol. 2000;30 :302 –306
    • Benn CS, Benfeldt E, Andersen PK, Olesen AB, Melbye M, Bjorksten B. Atopic dermatitis in young children: diagnostic criteria for use in epidemiological studies based on telephone interviews. Acta Derm Venereol. 2003;83 :347 –350
    • Bosken CH, Hunt WC, Lambert WE, Samet JM. A parental history of asthma is a risk factor for wheezing and nonwheezing respiratory illnesses in infants younger than 18 months of age. Am J Respir Crit Care Med. 2000;161 :1810 –1815
    • de Sierra TM, Kumar ML, Wasser TE, Murphy BR, Subbarao EK. Respiratory syncytial virus-specific immunoglobulins in preterm infants. J Pediatr. 1993;122 :787 –791
    • Fixler DE. Respiratory syncytial virus infection in children with congenital heart disease: a review. Pediatr Cardiol. 1996;17 :163 –168[Web of Science][Medline]Arnold SR, Wang EE, Law BJ, et al. Variable morbidity of respiratory syncytial virus infection in patients with underlying lung disease: a review of the PICNIC RSV database. Pediatric Investigators Collaborative Network on Infections in Canada. Pediatr Infect Dis J. 1999;18 :866 –
    • Hall CB, Powell KR, MacDonald NE, et al. Respiratory syncytial viral infection in children with compromised immune function. N Engl J Med. 1986;315 :77 –81
    • Nachman SA, Navaie-Waliser M, Qureshi MZ. Rehospitalization with respiratory syncytial virus after neonatal intensive care unit discharge: A 3-year follow-up. Pediatrics. 1997;100(6) . Available at:
    • Glezen WP, Paredes A, Allison JE, Taber LH, Frank AL. Risk of respiratory syncytial virus infection for infants from low- income families in relationship to age, sex, ethnic group, and maternal antibody level. J Pediatr. 1981;98 :708 –715
    • Anderson LJ, Parker RA, Strikas RA, et al. Day-care center attendance and hospitalization for lower respiratory tract illness. Pediatrics. 1988;82 :300 –308
    • Holberg CJ, Wright AL, Martinez FD, Ray CG, Taussig LM, Lebowitz MD. Risk factors for respiratory syncytial virus-associated lower respiratory illnesses in the first year of life. Am J Epidemiol. 1991;133 :1135 –1151
    • Downham MA, Scott R, Sims DG, Webb JK, Gardner PS. Breast-feeding protects against respiratory syncytial virus infections. Br Med J. 1976;2 :274 –276
    • Stensballe LG, Poulsen A, Nante E, et al. Mothers may transmit RSV infection more easily to sons than daughters. Community study from Guinea-Bissau. Scand J Infect Dis. 2004;36 :291 –295
    • Tepper RS, Morgan WJ, Cota K, Wright A, Taussig LM. Physiologic growth and development of the lung during the first year of life. Am Rev Respir Dis. 1986;134 :513 –519[
    • Martinez FD, Wright AL, Taussig LM, Holberg CJ, Halonen M, Morgan WJ. Asthma and wheezing in the first six years of life. The Group Health Medical Associates. N Engl J Med. 1995;332 :133 –138
    • Landau LI, Morgan W, McCoy KS, Taussig LM. Gender related differences in airway tone in children. Pediatr Pulmonol. 1993;16 :31 –35
    • Verity CM, Vanheule B, Carswell F, Hughes AO. Bronchial lability and skin reactivity in siblings of asthmatic children. Arch Dis Child. 1984;59 :871 –876
    • Colocho Zelaya EA, Orvell C, Strannegard O. Eosinophil cationic protein in nasopharyngeal secretions and serum of infants infected with respiratory syncytial virus. Pediatr Allergy Immunol. 1994;5 :100 –106
    • Linneberg A, Petersen J, Gronbaek M, Benn CS. Alcohol during pregnancy and atopic dermatitis in the offspring. Clin Exp Allergy. 2004;34 :1678 –1683
    • Mok JY, Simpson H. Outcome of acute lower respiratory tract infection in infants: preliminary report of seven-year follow-up study. Br Med J (Clin Res Ed). 1982;285 :333 –337
    • Noble V, Murray M, Webb MS, Alexander J, Swarbrick AS, Milner AD. Respiratory status and allergy nine to 10 years after acute bronchiolitis. Arch Dis Child. 1997;76 :315 –319
    • Korppi M, Piippo-Savolainen E, Korhonen K, Remes S. Respiratory morbidity 20 years after RSV infection in infancy. Pediatr Pulmonol. 2004;38 :155 –160
    • Benn CS, Melbye M, Wohlfahrt J, Bjorksten B, Aaby P. Cohort study of sibling effect, infectious diseases, and risk of atopic dermatitis during first 18 months of life. BMJ. 2004;328 :1223
    • Bager P, Westergaard T, Rostgaard K, Hjalgrim H, Melbye M. Age at childhood infections and risk of atopy. Thorax. 2002;57 :379 –382
    • Matricardi PM, Rosmini F, Ferrigno L, et al. Cross sectional retrospective study of prevalence of atopy among Italian military students with antibodies against hepatitis A virus. BMJ. 1997;314 :999 –1003
    • Sly PD, Hibbert ME. Childhood asthma following hospitalization with acute viral bronchiolitis in infancy. Pediatr Pulmonol. 1989;7 :153 –158
    • Sigurs N, Bjarnason R, Sigurbergsson F, Kjellman M, Björksten B. Asthma and immunoglobulin E antibodies after respiratory syncytial virus bronchiolitis: a prospective cohort study with matched controls. Pediatrics. 1995;95 :500 –505
    • Sigurs N. A cohort of children hospitalised with acute RSV bronchiolitis: impact on later respiratory disease. Paediatr Respir Rev. 2002;3 :177 –183
    • Stein RT, Sherrill D, Morgan WJ, et al. Respiratory syncytial virus in early life and risk of wheeze and allergy by age 13 years. Lancet. 1999;354 :541 –545
    • Romagnani S. Human Th1 and Th2 subsets: regulation of differentiation and role in protection and immunopathology. Int Arch Allergy Immunol. 1992;98 :279 –285
    • Holt PG. Infections and the development of allergy. Toxicol Lett. 1996;86 :205 –210
    • Beasley R, Pekkanen J, Pearce N. Has the role of atopy in the development of asthma been over-emphasized? Pediatr Pulmonol. 2001;23 :149 –150
    • Martinez FD, Wright AL, Taussig LM, Holberg CJ, Harlonen M, Morgan WJ. Asthma and wheezing the first six years of life. N Engl J Med. 1995;332 :133 –138
    • Ogra PL. Respiratory syncytial virus: the virus, the disease and the immune response. Paediatr Respir Rev. 2004;5(suppl A) :S119 –S126
    • Van Bever HP, Wieringa MH, Weyler JJ, Nelen VJ, Fortuin M, Vermeire PA. Croup and recurrent croup: their association with asthma and allergy. An epidemiological study on 5–8-year-old children. Eur J Pediatr. 1999;158 :253 –257
    • Castro-Rodriguez JA, Holberg CJ, Morgan WJ, et al. Relation of two different subtypes of croup before age three to wheezing, atopy, and pulmonary function during childhood: a prospective study. Pediatrics. 2001;107 :512 –518
    • Nystad, W, Skrondal A, Magnus P. Recurrent respiratory tract infections during the first 3 years of life and atopy at school age. Allergy. 1998;53 :1189 –1194
    • Nja F, Nystad W, Hetlevik O, Carlsen KCL, Carlsen KH. Airway infections in infancy and the presence of allergy and asthma in school age children. Arch Dis Child. 2003;88 :566 –569
    • American Academy of Family Physicians; American Academy of Otolaryngology Head and Neck Surgery; American Academy of Pediatrics Subcommittee on Otitis Media With Effusion. Otitis media with effusion. Pediatrics. 2004;113 :1412 –1429
    • Doyle WJ. The link between allergic rhinitis and otitis media. Curr Opin Allergy Clin Immunol. 2002;2 :21 –25

ARTIKEL TERKAIT :

Artikel Terkait Lainnya :

ARTIKEL ALERGI SUSU SAPI LAINNYA

supported by

CHILDREN GRoW UP CLINIC Yudhasmara Foundation Inspirasi Orangtua Cerdas, Tumbuhkan Anak Semakin Sehat, Kuat dan Pintar

WORKING TOGETHER FOR STRONGER, SMARTER AND HEALTHIER CHILDREN BY EDUCATION, CLINICAL INTERVENTION, RESEARCH AND NETWORKING INFORMATION . Advancing of the future pediatric and future parenting to optimalized physical, mental and social health and well being for fetal, newborn, infant, children, adolescents and young adult

Clinical – Editor in Chief :

Dr WIDODO JUDARWANTO SpA, pediatrician

Information on this web site is provided for informational purposes only and is not a substitute for professional medical advice. You should not use the information on this web site for diagnosing or treating a medical or health condition. You should carefully read all product packaging. If you have or suspect you have a medical problem, promptly contact your professional healthcare provider

Copyright © 2012, CHILDREN GRoW UP CLINIC Information Education Network. All rights reserved

Tentang iklan-iklan ini

Tentang GrowUp Clinic

In 1,000 days Your Children, You can change the future. Our Children Our Future
Tulisan ini dipublikasikan di Kesehatan Alergi-Asma, Kesehatan Bayi, Kesehatan Tersering, Mitos dan Kontroversi dan tag , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s