Dampak Pengabaian Imunisasi, Difteri Mengancam

Dampak Pengabaian Imunisasi, Difteri Mengancam

Wabah penyakit difteri saat ini melanda proposinsi Jawa Timur. Bahkan beberapa daerah telah ditetapkan sebagai daerah dalam status Kejadian Luar Biasa penyakit mengerikan ini. Mengingat mobilitas penduduk Indonesia yang demikian tinggi, tampaknya kejadian wabah di Jawa Timur tersebut jangan diremehkan karena berpotensi berjangkit di daerah lain di Indonesia. Hal mendesak yang bisa dilakukan orang tua dalam pencegahan penyakit yang dapat mengancam jiwa ini adalah dengan melihat dengan cermat status imunisasi DPT buah hati kita apakah sudah lengkap. Inilah sa;ah satu dampak pengabaian imuniasi pada anak. Imunisasi adalah hak anak yanmg tidak bisa ditunda.

Di Jawa timur, difteri sudah menjangkiti 34 kabupaten dan kota. Jumlah penderita difteri yang terpantau saat ini menjadi 333 orang. Sebagian besar korban adalah anak-anak yang tidak berdaya. Dengan cakupan imunisasi yang tinggi, penyakit berbahaya ini dapat ditekan dan diredam penyebatrannya.  Cakupan imunisasi yang menurun dapat menjadi penyebab timbulnya kasus baru. Sehingga, sangat penting mempertahankan cakupan imunisasi yang tinggi dan anak harus diimunisasi sesuai jadwal. Cakupan Imunisasi DPT harus mencapai target yang telah ditetapkan, yaitu di atas 80% . Namun di berbagai daerah angka cakupan tersebut sangat rendah sehingga penyebaran penyakit ini sangat mudah terjadi di seluruh wilayah Indonesia. Selain cakupan imunisasi yang masih rendah, masih banyaknya orang tua yang enggan memberikan imunisasi kepada anak-anak mereka adalah penyebab utama mengapa penyakit Dofteri muncul kembali dan mewabah.

Penyakit Difteri

Difteri adalah penyakit akibat terjangkit bakteri yang bersumber dari Corynebacterium diphtheriae. Difteri ialah penyakit yang menakutkan karena telah mengorbankan ribuan nyawa. Hingga saat ini sewaktu-waktu penyakit mengerikan ini dapat mewabah di daerah-daerah dunia yang belum berkembang termasuk Indonesia. Orang yang selamat dari penyakit ini menderita kelumpuhan otot-otot tertentu dan kerusakan permanen pada jantung dan ginjal. Anak-anak yang berumur satu sampai sepuluh tahun sangat peka terhadap penyakit ini.

Kuman difteri disebarkan oleh menghirup cairan dari mulut atau hidung orang yang terinfeksi, dari jari-jari atau handuk yang terkontaminasi, dan dari susu yang terkontaminasi penderita.Gejala yang muncul ialah sakit tenggorokan, demam, sulit bernapas dan menelan, mengeluarkan lendir dari mulut dan hidung, dan sangat lemah. Kelenjar getah bening di leher membesar dan terasa sakit. Lapisan(membran) tebal terbentuk menutupi belakang kerongkongan atau jika dibuangkan menutup saluran pernapasan dan menyebabkan kekurangan oksigen dalam darah.Tergantung  pada berbagai faktor, maka  manifestasi  penyakit  ini   bisa   bervariasi  dari  tanpa  gejala   sampai   suatu keadaan/penyakit  yang hipertoksik serta fatal. Sebagai faktor primer adalah imunitas penderita  terhadap toksin  diphtheria, virulensi serta toksinogenesitas (kemampuan  membentuk toksin) C. diphtheriae, dan lokasi penyakit secara anatomis.

Masa   tunas  penyakit ini adalah sekitar 2-6 hari.  Penderita  pada  umumnya datang untuk berobat setelah beberapa  hari menderita keluhan sistemik seluruh tubuh. Demam  jarang melebihi 38,9o C dan  keluhan serta gejala  lain tergantung pada lokalisasi penyakit diphtheria. Pada penampilan gejala permulaan mirip common cold, yaitu pilek ringan  tanpa  atau disertai gejala sistemik ringan. Sekret hidung berangsur menjadi  kental dan berwarna kuning atau hijau, kadang membuat lecet  pada lobang hidung dan bibir  atas.  Perjalanan penyakit awalnya lambat sehingga gejala sistemik yang timbul tidak nyata  sehingga diagnosis lambat dibuat.Gejala lain adalah sulit makan, malaise, demam ringan, nyeri  menelan. dalam 1-2  hari timbul membran yang melekat, berwarna  putih-kelabu  dapat  menutup tonsil dan dinding faring, meluas ke langit-langit mulut  hingga ke laring pita suara dan tenggorokan.Usaha melepas membran akan mengakibatkan  perdarahan. Dalam keadaan tertentu menyebabkan pembengkakkan kelenjar di daerah leher. Bila  bersamaan dengan pembengkakkan jaringan lunak leher yang luas  timbul bullneck atau seperti leher sapi.

Pada kasus sedang, penyembuhan terjadi secara berangsur-angsur dan bisa disertai penyulit  gangguan infeksi otot jantung atau miokarditis atau neuritis. Pada kasus ringan lapisan membran di mulut  terlepas dalam 7-10 hari dan  biasanya terjadi penyembuhan sempurna.Akibat yang ditimbukan penyakit difteri sangat fatal bila sudah terjadi komplikasi. Komplikasi yang paling awal dan paling sering adalah sumbatan atau obstruksi jalan nafas. Gangguan ini disebabkan oleh karena tertutup jalan nafas oleh membran  diphtheria atau oleh karena edema pada tonsil, faring,  daerah sub mandibular dan cervical. Efek toksin atau zat racun kuman tersebut dapat menimbulkan berbagai kejadian fatal. Bila kasus  berat, bisa  terjadi  kegagalan pernafasan  atau  sirkulasi. Dapat terjadi kelemahan otot langit-langit lnak sehingga disertai kesukaran  menelan dan mengeluarkan atau memuntahkan makanan. Dalam keadaan lebih berat dapat memgaklibatkan kesadaran menurun hingga koma. Dalam keadaan seperti itu, kematian bisa terjadi dalam satu minggu sampai 10 hari.

Penyulit pada jantung berupa miokardioopati toksik bisa terjadi  pada minggu ke dua, tetapi bisa lebih dini (minggu pertama) atau  lebih  lambat  (minggu ke enam), hingga bisa pula terjadi  gagal   jantung. Penyulit  pada  saraf biasanya  terjadi  lambat,  terutama  mengenai saraf  motorik  dan  sembuh sempurna. Kelumpuhan  pada gerakan otot langit-langit mulut pada minggu ke-3, mengakibatkan suara menjadi sengau, terjadi  muntah dari hidung, kesukaran menelan. Kelemahan  otot mata biasanya dapat terjadi pada minggu ke-5,  meskipun dapat terjadi antara minggu ke-5  dan  ke-7. Pada keadaan lain bisa mengakibatkan kelemahan otot kaki, tangan  dan otot jantung.Penanganan penyakit berbahaya ini biasanya dengan pemberian antitoksin difteri, yang melemahkan toksin dan antibiotik. Eritromisin dan penisilin membantu menghilangkan kuman dan menghentikan pengeluaran toksin. Bila terjadi sumbatan di saluran napas buiasanya dilakukan pembuatan lubang pada daerah leher atau pipa saluran pernapasan atas (tracheotomy) untuk menyelamatkan nyawa penderita.

Imunisasi DPT

Dalam upaya mencegah penyebaran penyakit ke seluruh wilayah di Indonesia semua pihak khususnya orang tua harus lebih cermat memantau kesehatan buah hatinya. Penyakit difteri dapat dicegah melalui vaksinasi. Bayi, kanak-kanak, remaja, dan orang dewasa yang tidak mempunyai cukup pelalian memerlukan suntikan booster setiap 10 tahun. Sebaiknya mulai saat ini orang tua harus segera melihat status imunisasi anaknya apakah sudah sesuai jadwal yang telah direkomendasikan dokter.Imunisasi DPT adalah vaksin kombinasi yang terdiri dari  bakteri pertusis yang telah dimatikan, toksoid (zat yang menyerupai  racun) dari difteri dan juga tetanus. Vaksin DPT ini diberikan untuk  mencegah penyakit difteri, penyakit pertusis yang  sering disebut batuk 100 hari dan penyakit tetanus. Vaksin dikombinasikan dengan tujuan supaya anak tidak perlu disuntik  berkali-kali untuk mendapatkan tiga vaksin sekaligus.

Menurut Jadwal Imunisasi Satgas Imunisasi Ikatan Dokter Anak Indonesia  (IDAI) tahun 2011, imunisasi DPT dapat diberikan pada usia minimal 6  minggu sampai 2 bulan. Lalu dilanjutkan pada usia 4 bulan dan 6 bulan.  Setelah itu diulang kembali pada usia 18 bulan dan usia 5 tahun dan 12 tahun.  Bila ternyata usia bayi sudah melewati 2 bulan dan belum  mendapatkan imunisasi DPT dapat diberikan imunisasi  DPT segera dengan mengikuti jadwal usianya.Instansi Departemen Kesehatan dan jajarannya di seluruh Indonesia harus meningkatkan pemantauan pelaksanaan imunisasi baik kualitas maupun cakupan imunisasi, untuk wilayah yang cakupan imunisasinya rendah harus diadakan sweeping imunisasi. Bagi petugas imunisasi perlu meningkatkan keaktifan dalam penyuluhan tentang imunisasi kepada masyarakat khususnya yang harus dilakukan orang tua dalam memenuhi kebutuhan anak tentang kesehatan. Bila hal ini diremehkan maka pemenuhan kebutahan dasar terhadap hak anak diabaiakan orang tua yang lalai secara disengaja.  Anak adalah mahluk sosial yang tidak berdaya dan tidak dapat mengeluh untuk meminta imunisasi,  Tetapi mereka hanya bisa mengerang dan terancam jiwanya ketika penyakit DPT menderanya tanpa kepedulian orang tua.

Artikel Imunisasi terkait lainnya

supported by

CHILDREN GRoW UP CLINIC Yudhasmara Foundation Inspirasi Orangtua Cerdas, Tumbuhkan Anak Semakin Sehat, Kuat dan Pintar

WORKING TOGETHER FOR STRONGER, SMARTER AND HEALTHIER CHILDREN BY EDUCATION, CLINICAL INTERVENTION, RESEARCH AND NETWORKING INFORMATION . Advancing of the future pediatric and future parenting to optimalized physical, mental and social health and well being for fetal, newborn, infant, children, adolescents and young adult

LAYANAN KLINIK KHUSUS “CHILDREN GRoW UP CLINIC”

PROFESIONAL MEDIS “CHILDREN GRoW UP CLINIC”

  • Dr Narulita Dewi SpKFR, Physical Medicine & Rehabilitation
  • Dr Widodo Judarwanto SpA, Pediatrician
  • Fisioterapis

Clinical – Editor in Chief :

Dr WIDODO JUDARWANTO SpA, pediatrician

Information on this web site is provided for informational purposes only and is not a substitute for professional medical advice. You should not use the information on this web site for diagnosing or treating a medical or health condition. You should carefully read all product packaging. If you have or suspect you have a medical problem, promptly contact your professional healthcare provider

Copyright © 2012, CHILDREN GRoW UP CLINIC Information Education Network. All rights reserved

About these ads

Tentang GrowUp Clinic

In 1,000 days Your Children, You can change the future. Our Children Our Future
Tulisan ini dipublikasikan di ***Kesehatan Tersering, ***Penyakit Berbahaya, **Imunisasi dan tag , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s