Category Archives: Gangguan Perilaku

10 Gejala Gangguan Mental, Perilaku dan Gangguan Penyerta Pada Anak

12 Gejala Gangguan Mental, Perilaku dan Gangguan Penyerta Pada Anak

    1. Gangguan Konsentrasi  Gangguan konsentrasi bukan merupakan penyakit tetapi merupakan gejala atau suatu manifestasi penyimpangan perkembangan anak. Gangguan konsentrasi atau inatensi atau pemusatan perhatian yang kurang, dapat dilihat dari kegagalan seorang anak dalam memberikan perhatian secara utuh terhadap sesuatu. mudah sekali beralih perhatian dari satu hal ke hal yang lain. Kualitas penampilan gangguan konsentrasi bisa yang ringan hingga berat Kualitas konsentrasi atau pola perhatian anak terhadap suatu hal terbagi menjadi beberapa klasifikasi. Kelompok yang paling berat adalah over exklusif dimana seorang anak hanya terfokus pada sesuatu yang menarik perhatiannya tanpa mempedulikan hal lain secara ekstrem. Misalnya pada bayi yang sedang memperhatikan kancing bajunya dan tidak mempedulikan rangsangan lain, pola ini disebut autis. Kelompok dengan derajat sedang terjadi fokus perhatian anak mudah teralihkan. Perhatian hanya mampu bertahan beberapa saat saja, dan terganggu oleh suatu rangsangan yang mungkin tidak adekuat. Hal ini dinamakan kesulitan perhatian atau Attention Deficit Hyperactivity Disorder. Kelompok dengan derajat ringan terjadi fokus perhatian anak mudah teralihkan. Perhatian hanya mampu bertahan beberapa saat saja oleh suatu rangsangan lain yang lebih adekuat Kondisi normal adalah pola yang paling baik karena anak mampu memperhatikan sesuatu dan mengalihkannya terhadap yang lain pada saat yang tepat tanpa kehilangan daya konsentrasi, pola ini merupakan pola normal perkembangan mental anak secara matang. Rentang Atensi atau lamanya waktu yang digunakan anak untuk menekuni suatu kegiatan dapat diamati sesuai usia. Rata-rata rentang atensi pada usia 2 tahun selama 7 menit, usia 3 tahun selama 9 menit, usia 4 tahun selama 12 menit, usia 5 tahun selama 14 menit. Kemampuan memusatkan perhatian berbeda-beda. Makin berkembang anak makin mampu menseleksi stimulus yang ada dan makin mampu memusatkan perhatian. Meskipun gangguan konsentrasi ini juga dapat terus terjadi sampai usia dewasa. Gangguan konsentrasi ini biasanya sudah dapat diamati pada usia bayi. Tampak bayi sering berpindah-pindah perhatian pandangan matanya atau sering berganti mainan dalam waktu yang cepat. Biasaanya bayi tidak menyukai lingkungan suasana yang tidak luas seperti boks bayi yang kecil dan suasana di dalam kamar. Anak lebih menyukai lingkungan yang lebih lapang seperti tempat tidur yang luas dan anak sering minta keluar rumah. Pada anak yang lebih besar didapatkan gejala cepat bosan terhadap sesuatu aktifitas, tidak bisa belajar lama. Bila belajar harus dalam keadaan tenang atau biasanya saat tengah malam. Sebaliknya biasanya bisa bertahan lama pada hal yang disukai seperti menonton televisi, baca komik atau main game. Anak tampak sering terburu-buru sehingga mengakibatkan perilaku tidak mau antri, Tidak teliti sehingga terjadi kesalahan dalam mengerjakan soal karena ketidak telitiannya. Sering kehilangan barang atau sering lupa. Nilai pelajaran naik turun drastis, nilai pelajaran tertentu baik tapi pelajaran lain buruk. Sulit menyelesaikan pelajaran sekolah dengan baik. Sering mengobrol dan mengganggu teman saat pelajaran karena sering tidak bisa mengikiuti pelajaran dengan baik. Meskipun pada umumnya penderita ganguan konsentrasi mempunyai kecerdasan yang cukup tinggi.
    2. Gangguan komunikasi  Gangguan bicara dan keterlambatan bicara adalah salah satu penyebab gangguan perkembangan yang paling sering ditemukan pada anak. Gangguan ini semakin hari tampak semakin meningkat pesat. Beberapa laporan menyebutkan angka kejadian gangguan bicara dan bahasa berkisar 5 – 10% pada anak sekolah. Penyebab gangguan bicara dan bahasa sangat luas dan banyak, terdapat beberapa resiko yang harus diwaspadai untuk lebih mudah terjadi gangguan ini.
    3. Gangguan Emosi   Gangguan emosi adalah keadaan emosi yang dialami seseorang yang dapat menimbulkan gangguan pada dirinya. Baik karena emosi yang dialami terlalu kuat misalnya sangat sedih, tidak ada emosi yang hadir misalnya tidak merasa bahagia atau emosinya menimbulkan konflik misalnya terlalu sering marah. Gangguan emosi seringkali disaertai keras kepala, suka membantah dan pembangkangan. Tetapi ada perilaku pembangkangan yang sangat ekstrem yang disebut dengan OOD. Biasanya gangguan ini dimulai saat anak berusia 8 tahun atau sebelum masuk usia remaja. Salah satu contoh perilaku tersebut adalah membeli beberapa games tanpa ada minat untuk memainkannya.  Gangguan mental yang erat kaitannya dengan perubahan perilaku adalah ADHD, kecemasan, depresi, atau gangguan bipolar.
    4. Gangguan kecemasan : Takut dan khawatir adalah hal yang wajar dialami anak usia dini. Normal saja mereka merasa takut pada gelap, membayangkan sosok monster, atau takut berpisah dengan orangtua. Untuk anak usia sekolah, cemas sebelum tampil di sekolah atau takut tak diterima teman-temannya, adalah respon yang sehat.  Bila rasa takut yang dialami anak sudah berlebihan sehingga mengganggu aktivitas harus lebih diwaspadai. Pada saat-saat tertentu kecemasan yang merupakan hal yang normal bahkan dapat menolong seseorang terhadap ancaman atau sesuatu yang membahayakan mereka. Misalnya saja berupa reaksi ketakutan terhadap ketinggian, orang asing, atau sesuatu yang mengancam jiwa. Kecemasan ini sebenarnya bisa dijadikan untuk melindungi diri dari segala sesuatu yang membahayakan. Kecemasan yang dialami anak biasanya berupa reaksi ketakutan akan gelap, lingkungan yang baru atau sesuatu yang baru, keterpisahan dengan orang terdekatnya, juga yang berkaitan dengan tugas sekolah yang diberikan. Fakta yang terjadi bahwa antara 9 sampai 15 persen anak dan remaja di Amerika mengalami gejala kecemasan yang menganggu kegiatan atau rutinitas
      keseharian mereka. Anakyang mengalami kecemasan ini beresiko mengalami underachievement di sekolah yakni ditunjukkan dengan tidak adanya motivasi berprestasi, merasa tidak berharga, dan permasalahan dengan kejiwaan terhadap orang dewasa, terutama berkaitan dengan depressi dan gangguan kecemasan. Ketika strategi pemecahan masalah gagal dilakukan oleh anak ataupun remaja, dan kecemasan yang dialami menjadi cukup berat untuk ditangani maka akan menyebabkan keadaan yang sulit terhadap mereka. Keadaan yang sulit ini akan berpengaruh terhadap rutinitas mereka baik di sekolah, aktivitas sehari-hari, atau hubungan dengan teman-temannya. Yang kemudian dapat dikatakan bahwa anak dan remaja tersebut mengalami masalah kecemasan atau anxiety disorder .Untuk itulah dibutuhkan suatu pendekatan untuk membantu anak-anak yang mengalami gangguan kecemasan ini supaya mereka dapat memaksimalkan potensi diri dan meningkatkan prestasinya. Pendekatan ini yaitu dengan adanya bimbingan konseling berupa layanan / treatment yang sesuai dengan kebutuhannya.Anak-anak dengan gangguan kecemasan menanggapi hal-hal tertentu atau situasi dengan rasa takut dan ketakutan, serta dengan tanda-tanda fisik dari kecemasan (gugup), seperti detak jantung yang cepat dan berkeringat.
    5. Gangguan makan dan berat badan. Gangguan makan dapat melibatkan emosi dan sikap, serta perilaku yang tidak biasa, terkait dengan kondisi tubuh bahkan makanan.  Sebagian besar orang yang mengalami gangguan mental mengalami obesitas atau kegemukan. Perubahan fisik yang mendadak yang tidak terkait dengan pubertas bisa menjadi indikator anak menderita gangguan. Demikian pula halnya jika anak tampak tidak nafsu makan, bisa menjadi gejala depresi. Perubahan fisik yang disebabkan oleh penggunaan alkohol atau obat terlarang juga merupakan gejala depresi pada anak. Para pakar menyebutkan, risiko anak menderita depresi lebih besar jika salah satu atau kedua orangtua juga menderita depresi.
    6. Gangguan ini melibatkan perasaan sedih terus menerus bahkan berubahnya suasana hati dengan cepat.
    7. Gangguan Mood. Perubahan mood yang berlangsung lebih dari dua minggu adalah indikator kuat adanya gangguan mental pada anak. Perubahan mood ini bisa bervariasi mulai dari hiperaktif sampai terlalu melankolis tanpa alasan yang kuat.  Menurut The National Institute of Mental Health, perilaku “sangat gembira” atau mania dan perasaan “down” atau depresi bisa menjadi tanda adanya gejala gangguan bipolar. Tetapi, perilaku hiperaktif pada anak yang tidak diikuti dengan gejala lesu setelahnya adalah karateristik normal pada anak.
    8. Gangguan Tidur. Gangguan tidur yang sering terjadi adalah insomia adalah gangguan untuk memulai tidur dan mempertahankan tidur yang baik. Gangguan tidur tersebut menimbulkan penderitaan dan gangguan dalam berbagai fungsi sosial, pertumbuhan dan perkembangan anak, maupun gangguan pada fungsi lainnya.Terdapat berbagai jenis insomnia tergantung beberapa kondisi dan penyakit yang melatarbelakangi gangguan tidur tersebut. Sering mimpi buruk
    9. Gangguan belajar dan Prestasi menurun.  Gangguan belajar mencakup semua masalah yang timbul waktu belajar baik di sekolah maupun di luar sekolah. Gangguan belajar meliputi kesulitan belajar, gangguan pemusatan perhatian, gangguan daya ingat, disleksi, diskalkulia dan lain-lain. proses belajar tidak hanya dipengaruhi oleh faktor yang ada di dalam diri anak saja, tetapi juga oleh faktor-faktor eksternal lainnya. Dengan demikian, adanya gangguan atau hambatan pada ke tiga faktor di atas dapat menimbulkan berbagai jenis kesulitan belajar pada anak.
    10. Skizofrenia : gangguan serius yang melibatkan persepsi terdistorsi dan pikiran.
      Skizofrenia adalah gangguan psikotik yang ditandai dengan gangguan utama dalam pikiran, emosi, dan perilaku- pikiran yang terganggu, dimana berbagai pemikiran tidak saling berhubungan secara logis, persepsi dan perhatian yang keliru, afek yang datar atau tidak sesuai;dan berbagai gangguan aktivitas motorik yang bizzare . Penderita skizofrenia menarik diri dari orang lain dan kenyataan, sering kali masuk ke dalam kehidupan fantasi yang penuh delusi dan halusinasi. Beberapa studi menemukan bahwa ketidaknormalan dalam struktur dan fungsi otak yang terkait schizophrenia  bisa jadi mulai terbentuk sejak usia dini pertumbuhan seorang anak.

Gejala Penyerta

  • Sistem Pencernaan Nyeri perut, sering buang air besar (>3 kali/perhari), gangguan  buang air besar (kotoran keras, berak, tidak setiap hari, berak di celana, berak berwarna hitam atau hijau, berak ngeden), kembung, muntah, sulit berak, sering flatus, sariawan, mulut berbau.
  • Telinga Hidung Tenggorok Hidung : Hidung buntu, bersin, hidung gatal, pilek, post nasal drip, epitaksis, salam alergi, rabbit nose, nasal creases Tenggorok :  tenggorokan nyeri/kering/gatal,  palatum gatal, suara parau/serak, batuk pendek (berdehem), Telinga : telinga terasa penuh/ bergemuruh/berdenging, telinga bagian dalam gatal, nyeri telinga dengan gendang telinga kemerahan atau normal, gangguan pendengaran hilang timbul,  terdengar suara lebih keras, akumulasi cairan di telinga tengah, pusing, gangguan keseimbangan.
  • Kulit Sering gatal, dermatitis, urticaria, bengkak di bibir, lebam biru kehitaman, bekas hitam seperti digigit nyamuk,  berkeringat berlebihan.
  • Sistem Pernapasan Batuk, pilek, bersin, mimisan, hidung buntu, sesak(astma), sering menggerak-gerakkan /mengusap-usap hidung
  • Sering kencing dan sering mengompol

 

www.growupclinic.com

Supported By: GRoW UP CLINIC JAKARTA Yudhasmara Foundation GRoW UP CLINIC I Jl Taman Bendungan Asahan 5 Bendungan Hilir Jakarta Pusat 10210, phone (021) 5703646 – 44466102 GRoW UP CLINIC II MENTENG SQUARE Jl Matraman 30 Jakarta Pusat 10430, Phone (021) 44466103 – 97730777email : judarwanto@gmail.com http://growupclinic.com http://www.facebook.com/GrowUpClinic Creating-hashtag-on-twitter@growupclinic. Professional Healthcare Provider “GRoW UP CLINIC” Dr Narulita Dewi SpKFR, Physical Medicine & Rehabilitation curriculum vitae HP 085777227790 PIN BB 235CF967 Clinical – Editor in Chief : Dr WIDODO JUDARWANTO, pediatrician email : judarwanto@gmail.com curriculum vitae Creating-hashtag-on-twitter: @WidoJudarwanto www.facebook.com/widodo.judarwanto Mobile Phone O8567805533 PIN BB 25AF7035

“GRoW UP CLINIC” Jakarta Focus and Interest on: *** Allergy Clinic Online *** Picky Eaters and Growup Clinic For Children, Teen and Adult (Klinik Khusus Gangguan Sulit Makan dan Gangguan Kenaikkan Berat Badan)*** Children Foot Clinic *** Physical Medicine and Rehabilitation Clinic *** Oral Motor Disorders and Speech Clinic *** Children Sleep Clinic *** Pain Management Clinic Jakarta *** Autism Clinic *** Children Behaviour Clinic *** Motoric & Sensory Processing Disorders Clinic *** NICU – Premature Follow up Clinic *** Lactation and Breastfeeding Clinic *** Swimming Spa Baby & Medicine Massage Therapy For Baby, Children and Teen ***We are guilty of many errors and many faults. But our worst crime is abandoning the children, neglecting the fountain of life.

Information on this web site is provided for informational purposes only and is not a substitute for professional medical advice. You should not use the information on this web site for diagnosing or treating a medical or health condition. You should carefully read all product packaging. If you have or suspect you have a medical problem, promptly contact your professional healthcare provider

Copyright © 2014, GRoW UP CLINIC Information Education Network. All rights+ reserved

LINK TEREKOMENDASI:

Tentang iklan-iklan ini

Kenali Gejala Dini Gangguan Mental Pada Anak

Kenali Gejala Dini Gangguan Mental Pada Anak

Kebanyakan gangguan mental pada anak dapat ditelusuri pada awal ketika mereka masih kecil. Gangguan mental adalah suatu penyakit atau kondisi yang mempengaruhi pikiran manusia, yang ditandai dengan perilaku, suasana hati, perasaan dan pikiran yang tak menentu. Gangguan mental tidak tergantung pada faktor usia. Gangguan mental bisa terjadi pada anak-anak, dan kabar buruknya bahwa gangguan mental pada anak lebih sulit untuk dideteksi dan diobati dibandingkan pada orang dewasa

Kenali Gejala Dini Gangguan Mental Pada Anak

  • Hiperaktif: kesulitan berkonsentrasi, menyelesaikan pekerjaan rumah dari sekolah, duduk diam terlalu lama, dan terlalu mengikuti aturan
  • Perubahan di sekolah: nilai yang buruk, keluhan sakit perut dan sakit kepala, sering membuat alasan agar tak pergi ke sekolah, mendadak prilaku berubah
  • Kehilangan minat dalam kegiatan ekstra kurikuler reguler
  • Perubahan jam tidur: terlalu banyak atau tidak cukup
  • Makan dan olahraga: makan terlalu banyak atau tidak cukup, berolahraga terlalu banyak, mengonsumsi obat pencahar
  • Peningkatan perubahan suasana hati, lekas marah, dan kemarahan
  • Impulsif: Ini normal untuk remaja, tapi mengemudi secara sembrono, minum alkohol, merokok, menggunakan narkoba dan prilaku seksual yang bisa berbahaya.
  • Ketakutan ekstrim atau mendadak takut kepada sesuatu yang ia tak bisa dijelaskan.
  • Memiliki perasaan tak berguna, tak berdaya, putus asa, dan sering mengalami kesedihan
  • Kecemasan atau mendadak mengalami kepanikan
  • Menghancurkan properti rumah tangga, melanggar hukum, menyakiti hewan
  • Bicara tentang kematian, tak ingin hidup, dan memiliki pikiran untuk bunuh diri.

Penanganan Terkini Sindrom Tourette

Penanganan Terkini Sindrom Tourette

Sindrom Tourette (TS) adalah  gangguan neuropsikiatrimasa kanak-kanak  ditandai dengan gangguan motorik dan phonic (vokal) tics. Hal ini sering dikaitkan dengan gangguan perilaku, khususnya gangguan obsesif-kompulsif (OCD) dan attention deficit hyperactivity disorder (ADHD). Gangguan perilaku ini sering menyertai tics dan mungkin mendominasi gambaran klinis pada beberapa pasien. TS adalah suatu kondisi genetik yang berjalan dalam keluarga. Namun, kelainan genetik yang bertanggung jawab terhadap fenotip belum bisa dijelaskan dengan lengkap.

Tourette Syndrome adalah gangguan neuropsikiatri yang diwariskan pada masa anak anak yang gejalanya antara lain muncul tic (gerakan spontan) pada anggota tubuh maupun suara yang tidak terkendali dan selalu berulang. Gejala-gejala semacam ini akan mempengaruhi individu yang mengalami Tourette Syndrom terhadap aktivitasnya sehari-hari. Syndrom ini dinamakan Tourette sesuai dengan penemunya yaitu Dr Georges Gilles de la Tourette yang merupakan neurolog asal Prancis yang pertama kali mendeskripsikan Tourette Syndrom ada kalangan bangsawan di Perancis pada tahun 1885. Tourette Syndrom merupakan salah satu sindrom yang sangat langka dan sering dikaitkan oleh orang yang pengumpat dan berkata kotor. Namun saat ini Tourette Syndrom sudah tidak dianggap sebagai sindrom psikiatri yang langka. Sebagain besar orang yang diidentifikasikan mengalami Tourette Syndrom hanya mengalami gejala yang ringan, dan sangat sedikit sekali yang diidentifikasikan mengalami gejala yang berat.

Epidemiologi

  • Gejala awal Tourette Syndrom pertama kali muncul pada masa anak-anak terutama usia 3-9 tahun. Tourette Syndrom bisa dialami oleh kelompok etnis manapun namun laki-laki mengalami tiga sampai empat kali lebih sering dibandingkan dengan wanita. Di Amerika Serikat diperkirakan terdapat 200.000 orang yang mengalami Tourette Syndrom.
  • TS terjadi di seluruh dunia, di semua kelas sosial dan ras. Kasus yang telah memenuhi kriteria diagnostik saat ini telah dilaporkan di Amerika Serikat, Eropa, Selandia Baru, Brasil, Jepang, Cina, dan Timur Tengah. Fenomenologi klinis tampak serupa, tanpa memandang etnis atau budaya, menunjukkan dasar genetik umum. Prevalensi yang tepat dari TS telah sulit untuk dipastikan, dan apa yang pernah dianggap suatu kondisi langka sekarang masih jauh dikenali. Sebagian besar anak dengan TS telah nondisabling gejala, tics mereka meningkatkan dan menyelesaikan dengan usia, dan mereka tidak pernah mencari penanganan medis.
  • Sebagai kriteria klinis untuk kondisi telah berkembang, sebagian besar peneliti percaya bahwa prevalensi diperkirakan adalah 0,7-4,2%, berdasarkan studi observasi di sekolah umum. Dalam studi berbasis sekolah, tics diidentifikasi di 26% dari siswa dalam program pendidikan khusus, dibandingkan dengan 6% dari siswa di kelas mainstream.
  • Sex-dan demografi yang berkaitan dengan usia. Rasio laki-perempuan bervariasi dari 2-10:1. Namun, jika OCD dimasukkan sebagai varian dari TS, maka rasio laki-perempuan adalah 1:1.
  • Anak-anak jauh lebih mungkin untuk memenuhi kriteria diagnostik untuk TS daripada orang dewasa. TS adalah kondisi anak-onset, dan orang dewasa yang menampilkan gejala TS cenderung memiliki gejala sejak kecil.


Gejala TS dapat dilihat pada masa bayi, tetapi kebanyakan anak dengan TS menampilkan gejala mudah diidentifikasi di sekitar usia 7 tahun. Gejala menyelesaikan dengan dewasa di sebagian besar anak-anak dengan TS. Apakah resolusi ini merupakan proses kompensasi atau resolusi patologi yang mendasari tidak jelas.

Penyebab

  • Belum Diketahui pasti. Penyebab terjadinya Tourrete Syndrom belum dapat diketahui secara pasti. Para ahli memperkirakan bahwa faktor genetik dan lingkungan memiliki peran penting dalam sindrom ini. Namun banyak kasus menunjukan bahwa Tourette Syndrom tidak diwariskan oleh orang tua. Penyebab yang tepat dari TS tidak diketahui, tetapi dominan bukti menunjukkan bahwa TS adalah kondisi perkembangan diwariskan. Baru-baru ini, sebuah alternatif teori autoimun-dimediasi untuk etiologi TS telah menjadi kepentingan.
  • Teori genetik Analisis keluarga dengan TS menunjukkan turunan pola dominan autosomal. Tingkat kesesuaian antara kembar monozigot adalah 53%, dibandingkan dengan 8% untuk kembar dizigot.  Upaya yang signifikan telah dilakukan selama 15 tahun terakhir untuk menentukan gen yang tepat atau gen yang bertanggung jawab untuk TS. Penelitian genetik dilakukan melalui Sindrom Tourette Association, serta studi dari 91 keluarga di Afrika Selatan, telah terlibat kromosom 8 sebagai lokus genetik mungkin. Data ini juga mendukung kemungkinan lokus pada kromosom 5 dan 11.  Di masa depan, kemajuan besar dalam pemahaman kita tentang neurobiologi dari TS mungkin akan tergantung pada kemajuan dalam menjelaskan mekanisme genetik.
  • Teori autoimun Teori autoimun TS berpendapat bahwa antibodi diarahkan terhadap infeksi pendahuluan (misalnya, infeksi streptokokus) cross-reaksi dengan struktur saraf dalam sistem saraf pusat.  Dugaan mekanisme ini juga terjadi untuk Sydenham chorea dan pediatrik gangguan neuropsikiatri autoimun terkait dengan infeksi streptokokus (panda). Individu dipilih dengan TS memiliki titer antibodi peningkatan antistreptococcal dan antibodi antineuronal mirip dengan yang ditemukan pada pasien yang didiagnosis dengan panda. Namun, tidak ada korelasi yang terjadi antara ada atau tidak adanya antibodi antineuronal dan keparahan tics, timbulnya gejala TS, atau adanya gejala neuropsikiatri. Pemeriksaan antibodi serum pada pasien dengan panda dan TS dibandingkan dengan kontrol usia-cocok gagal membedakan 2 gangguan dari usia-kontrol cocok. Meskipun infeksi streptokokus dapat memicu timbulnya gejala yang berhubungan dengan TS dalam kelompok kecil pasien, studi lebih lanjut diperlukan untuk lebih menguji validitas penyebab autoimun atau postinfectious dari TS. Saat ini, pengobatan dengan antibiotik TS atau terapi seperti immunosuppressives, IVIG, atau plasmapheresis tidak dianjurkan.

Faktor risiko

Faktor risiko untuk TS meliputi:

  • Seks laki-laki
  • Usia muda
  • Riwayat keluarga TS

Manifestasi Klinis

  • Ciri khas gejala  klinis sindrom Tourette (TS) adalah tics dengan disertai gangguan perilaku seperti attention deficit hyperactivity disorder (ADHD), gangguan obsesif-kompulsif (OCD), atau perilaku kontrol impuls. Diagnostik dan Statistik Manual of Mental Disorders, Edisi Keempat, Revisi Teks (DSM-IV-TR) juga telah membentuk kriteria untuk diagnosis klinis TS.

Kriteria diagnostik DSM-IV-TR dari untuk sindrom Tourette

Kriteria diagnostik dari DSM-IV-TR untuk sindrom Tourette  adalah sebagai berikut:

  • Kedua beberapa bermotor dan satu atau lebih tics vokal harus hadir pada beberapa waktu selama sakit, meskipun tidak selalu bersamaan
  • Tics terjadi beberapa kali sehari (biasanya dalam pertarungan) hampir setiap hari atau sebentar-sebentar selama lebih dari 1 tahun, selama waktu tidak ada pasti periode tic-bebas lebih dari 3 bulan berturut-turut
  • Usia saat onset lebih muda dari 18 tahun
  • Gangguan tidak disebabkan oleh efek fisiologis langsung dari suatu zat (misalnya, stimulan) atau kondisi medis umum (misalnya, penyakit Huntington atau ensefalitis postviral)
  • Kriteria kelima, termasuk dalam DSM-IV sebelumnya tetapi dihapus dari DSM-IV-TR, adalah “Gangguan menyebabkan penderitaan ditandai atau penurunan yang signifikan dalam bidang sosial, pekerjaan, atau lainnya penting dari fungsi.” Alasan di balik menghapus unsur ini diagnosis adalah bahwa banyak pasien dengan TS ringan tidak memiliki gejala yang mengganggu fungsi sehari-hari dan pekerjaan.
  • Selanjutnya, kriteria ini memiliki potensi untuk menyebabkan pasien dengan TS dicap untuk memiliki kondisi yang menyebabkan gangguan signifikan dalam fungsi sehari-hari. DSM-IV-TR i dapat menyebabkan diskriminasi pekerjaan dan bentuk lain dari label. Penghapusan kriteria ini mencerminkan pengakuan bahwa banyak pasien dengan TS tidak memiliki masalah berarti terkait dengan kondisi mereka.

Karakteristik klinis tics

  • Tics adalah gerakan abnormal atau vokalisasi yang beragam dalam presentasi. Tics dapat gerakan sederhana atau vokalisasi seperti mata berkedip, batuk, atau mendengkur. Mereka juga bisa menjadi gerakan yang sangat kompleks seperti berlari, melompat, atau vokalisasi frase atau kata-kata berulang-ulang. Keragaman ini presentasi dapat menantang bagi pemeriksa untuk mengkarakterisasi gerakan-gerakan abnormal dan agak aneh.
  • Karakteristik khas dapat membantu membedakan tics dari gerakan abnormal lainnya, seperti tremor, chorea, mioklonus, atau dystonia. Tics dianggap semivoluntary, yang berarti bahwa pasien dapat sering atas keinginannya menekan pergerakan ini untuk periode waktu, menekan dorongan emosional atau perasaan tidak nyaman yang sering muncul untuk melakukan tic. Selanjutnya, pelepasan emosional sering terjadi setelah tic atau tics berulang selesai.
  • Tics sering  dapat diperburuk oleh stres, kebosanan, dan kelelahan. Setelah periode stres, pasien dengan TS sering merilis tics mereka ketika mereka sendirian dan santai. Satu pengamatan klinis yang sering adalah bahwa anak-anak dengan TS sering menghabiskan waktu mereka di sekolah tics menekan, hanya untuk pulang ke rumah untuk lingkungan yang lebih santai dan terpencil di mana mereka akan merilis tics mereka. Antara tics, ada gerakan abnormal lainnya terjadi.
  • Kemampuan penindasan, dorongan emosional dan bantuan yang berkaitan dengan gerakan, dan sugesti gerakan, semua fitur klinis yang membantu membedakan tics dari gangguan gerak hyperkinetic lainnya.

Klasifikasi tics Tics bentuknya beragam dan kadang-kadang aneh. Mereka biasanya dibagi menjadi motorik atau tics vokal / phonic. Tics juga dapat dikategorikan sebagai sederhana atau kompleks, berdasarkan kompleksitas gerakan atau suara.

  • Tics motorik sederhana melibatkan otot tunggal atau kelompok otot. The tic mungkin gerakan menyentak singkat (klonik tic), yang melambat mempertahankan gerakan atau postur (dystonic tic) atau menegang kelompok otot individu (tonik tic). Contoh tics motorik sederhana meliputi mata berkedip, hidung mengendus, batuk, leher menggerakkan atau masturbasi, mata bergulir, dan gerakan menyentak atau postured dari ekstremitas. Tics motorik sederhana biasanya terdiri dari sederhana, gerakan nonpurposeful.
  • Tics motorik yang kompleks melibatkan gerakan yang sering melibatkan beberapa kelompok otot dan mungkin muncul sebagai gerakan semipurposeful atau perilaku. Contoh tics motorik yang kompleks termasuk menyentuh diri sendiri atau orang lain, memukul, melompat, gemetar, atau melakukan tugas motorik simulasi. Juga termasuk dalam spektrum tics motorik yang kompleks adalah copropraxia dan echopraxia (meniru gerakan orang lain).
  • Tics phonic sederhana vokalisasi sederhana atau suara. Contohnya termasuk mendengus, batuk, tenggorokan kliring, menelan, meniup, atau menghisap suara.
  • Tics phonic kompleks vokalisasi kata-kata dan atau frase yang kompleks. Verbalizations dapat menjadi kompleks dan kadang-kadang pergaulan yang tidak pantas. Coprolalia adalah phonic tic kompleks yang ditandai oleh teriakan bahasa pergaulan yang tidak pantas (kata-kata kotor dan profanities). Coprolalia terjadi dalam waktu kurang dari setengah dari pasien dengan TS, meskipun dapat menjadi salah satu gejala yang paling menyedihkan dari kondisi tersebut.


Pasien dengan TS mungkin memiliki tics phonic kompleks yang ditandai oleh pengulangan kata-kata orang lain (echolalia) atau pengulangan kata-kata sendiri (palilalia).
Gejala pertanda tics

Perasaan atau sensasi pertanda mendahului tics motor dan vokal di lebih dari 80% pasien. Fenomena pertanda mungkin sensasi atau ketidaknyamanan dilokalisasi, termasuk yang berikut:

  • Rasa terbakar di mata sebelum kedipan mata
  • Ketegangan atau pegal di leher yang lega dengan peregangan leher atau menyentak kepala
  • Rasa sesak atau penyempitan lengan atau kaki ekstensi
  • Hidung tersumbat sebelum mengendus
  • Tenggorokan kering atau sakit tenggorokan sebelum kliring atau mendengkur
  • Gatal sebelum gerakan berputar tulang belikat
  • Jarang, perasaan pertanda, disebut dalam satu laporan sebagai tics phantom extracorporeal, melibatkan sensasi pada orang lain dan benda-benda dan sementara lega dengan menyentuh atau menggaruk mereka.

Gejala perilaku

  • Gejala perilaku yang umum terjadi pada TS. gangguan yang paling umum adalah OCD dan ADHD. Gejala-gejala OCD (serta ADHD) mungkin mendominasi dan melemahkan fitur TS pada pasien tertentu.
  • Studi kuesioner untuk pasien dengan TS juga menunjukkan tingginya tingkat gangguan mood dan gangguan kecemasan, termasuk gangguan panik dan fobia sederhana. Dibandingkan dengan populasi umum, pasien dengan TS memiliki tingkat yang lebih tinggi dari gangguan bipolar.
  • OCD merupakan gejala perilaku yang paling sering dikaitkan dengan TS. Tingkat OCD pada pasien dengan rentang TS 20-60%. Gejala obsesif-kompulsif memiliki peningkatan prevalensi di tingkat pertama kerabat dengan tics.
  • Menggunakan data longitudinal dari ibu-menyelesaikan kuesioner, studi longitudinal Avon Orang Tua dan Anak (ALSPAC) kelompok kelahiran dievaluasi 6.768 anak-anak dan prevalensi comormiditas kondisi neuropsikiatri. Hasil menunjukkan bahwa comorbiditas OCD dan ADHD mungkin lebih rendah dalam kasus TS dari yang dilaporkan sebelumnya, hanya 8,2% dari kasus TS “intermediate” kedua OCD dan ADHD, dan 69% dari kasus TS “intermediate” memiliki tidak co-terjadi OCD atau ADHD .
  • Obsesi didefinisikan oleh kriteria DSM-IV-TR sebagai pikiran, impuls, atau gambar yang dialami pada beberapa waktu selama gangguan sebagai mengganggu dan tidak pantas dan menyebabkan kecemasan ditandai dan kesusahan berulang dan terus-menerus. Pikiran, impuls, atau gambar tidak hanya kekhawatiran tentang masalah kehidupan nyata.
  • Dorongan adalah perilaku berulang (misalnya, mencuci tangan, memesan, memeriksa) atau tindakan mental (misalnya berdoa, menghitung, mengulangi kata-kata diam-diam) dalam menanggapi obsesi atau sesuai dengan aturan yang harus diterapkan secara kaku. Perilaku atau tindakan mental ditujukan untuk mencegah atau mengurangi tekanan atau mencegah suatu peristiwa atau situasi yang ditakuti, namun perilaku atau tindakan mental baik tidak terhubung dengan cara yang realistis dengan apa yang mereka dimaksudkan untuk menetralisir atau mencegah atau mereka jelas berlebihan.
  • Tingkat ADHD pada TS telah berkisar 40-70%. Individu dengan ADHD memiliki kesulitan fokus perhatian mereka, baik dengan kesulitan menghambat perhatian mereka terhadap rangsangan tidak relevan atau kesulitan fokus dan berkonsentrasi pada tugas-tugas yang relevan untuk jangka waktu yang lama (seperti sekolah) tanpa menjadi terganggu. Tidak seperti OCD, link genetik antara ADHD dan tics tidak begitu jelas. Studi tidak menunjukkan peningkatan kejadian ADHD pada saudara-saudara tingkat individu dengan TS. Gejala-gejala ADHD sering diakui sebelum tics. Biasanya, ADHD umumnya diobati dengan stimulan, yang dapat memperburuk tics. Stimulan tidak menyebabkan TS, tapi lebih cenderung untuk membawa keluar tics yang mendasari dan sering tidak diakui. Seperti OCD, gejala dari ADHD mungkin lebih terbatas daripada tics.
  • OCD dan ADHD adalah 2 gejala neurobehavioral yang paling umum dari TS, gangguan lain yang berkaitan dengan kontrol impuls yang buruk sering terlihat pada individu dengan TS. Iritabilitas, serangan kemarahan, agresivitas seksual yang tidak pantas, dan perilaku antisosial semuanya telah dilaporkan. Sebuah perilaku yang langka tapi sangat menantang terkait dengan TS adalah perilaku self-mutilasi. Perilaku ini memiliki komponen baik obsesi dan dorongan dan dapat menyebabkan morbiditas yang signifikan. Individu sering merusak tubuh mereka sendiri dengan menggaruk, menggigit, memotong, atau memukul diri mereka sendiri. Seringkali dorongan tak tertahankan muncul untuk melakukan perilaku tersebut.
  • Ketidakmampuan belajar yang spesifik dan tanda-tanda neurologis halus lebih sering pada pasien dengan TS, lebih rumit manajemen. Anak-anak, meskipun cerdas, mungkin memiliki prestasi akademis yang buruk, dan kesulitan koordinasi motorik sedikit mungkin menghalangi mereka dari melakukan dengan baik dalam upaya atletik.
  • Kecemasan dan gangguan suasana hati yang umum di TS. Gangguan mood juga diakui sebagai lebih umum pada individu dengan TS daripada populasi umum. Hubungan genetik antara gangguan mood dan ticsatau TS tidak jelas.

Kerusakan sosial dan fungsional

  • Gejala dari TS dapat menyebabkan keterbatasan yang signifikan dalam kegiatan dinyatakan normal. Individu dengan TS yang memiliki tics motorik parah sering menghindari situasi dengan visibilitas sosial yang tinggi. Stres dan kecemasan dalam situasi memburuk atau sering menonjolkan tics sendiri.
  • Phonic atau vokal tics (suara atau kata-kata) dapat menyebabkan rasa malu sosial yang signifikan. Coprolalia (verbalisasi kata-kata yang tidak pantas atau frase) dan copropraxia (membuat gerakan cabul) dapat menyebabkan rasa malu sosial yang signifikan dan menyebabkan mengisolasi pasien dengan TS. Selain itu, pada anak-anak usia sekolah, tics ini dapat sering disalahartikan sebagai perilaku kasar, yang mengarah ke tindakan disipliner.
  • Terkait gangguan perilaku ADHD, OCD, dan gangguan lain, seperti gangguan kontrol impuls, sering mengakibatkan morbiditas bahwa tics sendiri. Pada anak-anak, komplikasi perilaku sering mengakibatkan kinerja yang buruk akademik, isolasi sosial, dan masalah emosional.
  • Gangguan perhatian dan konsentrasi mungkin tidak hanya sekunder untuk ADHD, sebagai pasien dengan TS sering memiliki gangguan terkendali pikiran atau fiksasi obsesif pada objek yang tidak relevan. Selain itu, tics terkait TS bisa agak ditekan atas keinginannya, dan usaha mental dan emosional digunakan untuk menekan tics juga dapat mengganggu perhatian dan konsentrasi di sekolah dan bekerja.

Riwayat perkembangan

  • Riwayat perkembangan, termasuk tonggak perkembangan dan kurva pertumbuhan, penting untuk mengecualikan kelainan genetik seperti sindrom Down, gangguan spektrum autistik, dan gangguan perkembangan dan kromosom lainnya. Tics, ADHD, OCD dan dapat dilihat dalam kondisi ini.\Banyak individu Tourette Syndrom mengalami gejala hiperaktif, depresi, kecemasan,perilaku impulsif dan gangguan perilaku lainnya. Bahkan Leckman menyebutkan bahwa 25-42 % remaja dengan Tourette Syndrom mengalami gejala ADHD.  Dalam kajian neurologis, gangguan tic yang dialami oleh penderita Tourette Syndrom merupakan bentuk disfungsi pada daerah kortikal, sub kortikal, talamus, basal gangla dan korteks frontal.
  • Gejala Tourette Syndrom dapat terjadi sangat ringan dan tidak disadari oleh individu yang bersangkutan maupun orang-orang yang berada di sekitarnya. Torette Syndrom yang terjadi pada masa anak-anak biasanya diketahui dari munculnya gejala tic yang sederhana dan seiring berjalannya waktu berubah menjadi tics yang komplek. Tic merupakan gerakan tiba-tiba, spontan, tidak terkendali dan berulang pada anggota tubuh seseorang. Tic muncul dalam variasi frekuensi, jenis dan tingkat keparahan. Contoh dari tic tersebut antara lain, gerakan mengedipkan mata, wajah meringis, mengangkat bahu, menggerakan leher kepala secara menghentak. Selain otot motorik, tic juga melibatkan suara-suara yang muncul secara spontan, berulang dan tidak disadari. Tic sederhana biasanya tidak melibatkan terlalu banyak bagian tubuh atau otot seseorang. Tic kompleks merupakan kombinasi dari tic simple yang melibatkan beberapa otot anggota tubuh. Contoh dari Tic komplek seperti wajah meringis lalu disertai dengan sentuhan kepala dan mengangkat bahu. Sementara tic kompleks pada vocal antara lain mengucapkan beberapa kata atau frasa.
  • Menurut DSM IV seseorang mengalami Tourette Syndrom jika mengalami tic motiric maupun vokal selama satu tahun. Psikiater tidak memerlukan darah atau organ tubuh lainnya sebagai objek untuk mendiagnosis Tourette Syndrom. Sementara beberapa penelitu dari Yale University menggunakan Family Inventory of Life Events (FILE) dan Life Event Questionnaire (LEQ) sebagai alat untuk mengetahui korelasi antara Tourette Syndrom dengan gangguan psikososial.
  • Gejala Tourette Syndrom biasanya tidak menimbulkan kerusakan secara fisik. Namun pada beberapa kasus misalnya ketika individu dengan Tourette Syndrom sedang menggunakan pisau atau alat pemotong lainnya dapat berpotensi menyebabkan luka. Beberapa pasien membutuhkan obat ketika gejala yang muncul terasa sangat mengganggu. Obat yang dibutuhkan oleh penderita Tourette Syndrom antara lain Neuroleptik yaitu obat yang digunakan untuk mengobati gangguan psikotik. Neuroloptik juga memiliki efek samping yang sering disebut tardive dyskinesia, yaitu gerakan tic yang berbeda dari biasanya akibat penggunaan neuroleptik yang berlebihan. Selain itu pada saat obat ini tidak digunakan lagi oleh pasie juga akan menimbulkan semacam ketergantungan. Oleh karena itu penghentian pemberian neuroleptik harus dilakukan secara perlahan. Obat-obatan lainnya yang sering digunakan untuk mengobati gejala Toourrete Syndrom antara lain Guanfacine, Atomoxetine Clomipramine, Fluoxetine, Setraline, Fluoxamine. Para ahli juga memanfaatkan Cognitive Behavioral Therapy (CBT) dan teknik relaksasi untuk mengurangi gejala gangguan Tic. Namun hasil dari metode-metode tersebut belum dievaluasi secara sistematis dan tidak didukung secara empiris untuk menyembuhkan Tourrete Syndrom.

Diagnosis Banding

  • Anxiety Disorders
  • Attention Deficit Hyperactivity Disorder
  • Autistic Spectrum Disorders
  • Huntington Disease Dementia
  • Obsessive-Compulsive Disorder
  • Stimulants
  • Systemic Lupus Erythematosus
  • Toxicity, Cocaine
  • Wilson Disease

Diagnosis

  • Sindrom Tourette (TS) adalah diagnosis klinis, sehingga tidak ada laboratorium khusus atau tes genetik ada untuk membantu menegakkan diagnosis. Komunitas studi neuroimaging berbasis CT dan MRI adalah normal pada pasien dengan TS. Kunci diagnosis adalah pengenalan dan indeks kecurigaan.
  • Studi Neuroimaging  yang dilakukan atas dasar penelitian telah menghasilkan kelainan kecil yang mungkin memberi petunjuk untuk memahami patofisiologi TS. Anak-anak dan orang dewasa dengan TS telah mengurangi volume berekor dibandingkan dengan kontrol. Selain itu, studi terbaru menunjukkan bahwa tingkat reduksi volume dalam nukleus berekor berkorelasi dengan keparahan tics dan gangguan obsesif-kompulsif (OCD).
  • Fungsional Magnetic Resonance Imaging Studi MRI fungsional acara yang berhubungan dengan pasien dengan tics telah menunjukkan bahwa daerah asosiasi paralimbic dan sensorik kritis terlibat dalam tic generasi, mirip dengan gerakan dipicu secara internal oleh sensasi tidak menyenangkan, seperti yang telah ditunjukkan untuk rasa sakit atau gatal.
  • Positron Emission TomographyTomografi emisi positron-(PET) studi juga menunjukkan peningkatan aktivitas di sensomotor, paralimbic, bahasa, dan daerah subkortikal frontal. Kegiatan ini adalah acara yang berhubungan dengan motor dan phonic tics, serta dorongan untuk melakukan perilaku tersebut.

Penanganan

  • Penanganan sindrom Tourette (TS) adalah beragam. Pendekatan ini terutama ditujukan untuk manajemen medis sering atau menonaktifkan tics, pengobatan bersamaan gejala perilaku, dan pendidikan pasien dan keluarga.
  • Idealnya, pasien dengan tics ringan yang telah membuat adaptasi yang baik dalam kehidupan mereka dapat menghindari penggunaan obat. Mendidik pasien, anggota keluarga, teman sebaya, dan personil sekolah mengenai sifat dasar dari TS, restrukturisasi lingkungan sekolah, dan menyediakan konseling mendukung langkah-langkah yang mungkin cukup untuk menghindari farmakoterapi. Informasi tersedia melalui konselor sekolah, psikolog, perwakilan cabang lokal dari Sindrom Tourette Association, atau organisasi topikal terkait.
  • Terapi farmakologis untuk tics dipertimbangkan ketika tics mengganggu interaksi sosial, kinerja sekolah, atau kegiatan sehari-hari. Tujuan dari terapi tersebut tidak penghapusan lengkap dari tic, melainkan mengontrol tics untuk mengurangi rasa malu sosial atau ketidaknyamanan karena tic, sehingga meningkatkan fungsi sosial.
  • Berbagai agen terapeutik sekarang tersedia untuk mengobati pasien dengan tics, dan setiap obat harus dipilih berdasarkan keberhasilan yang diharapkan dan potensi efek samping. Dosis harus dititrasi perlahan untuk mencapai dosis yang memuaskan terendah yang cukup untuk mencapai tingkat ditoleransi gejala.
  • Jarang sekali ada pasien dengan TS perlu rawat inap. Sebagian besar pasien yang memerlukan rawat inap memiliki kondisi komorbiditas dan merupakan ancaman bagi diri mereka sendiri atau orang lain. Pasien dengan tics kompleks coprolalia atau copropraxia mungkin perlu rawat inap singkat jika keluarga mereka mengalami kesulitan mengendalikan mereka.

Medikamentosa

  • Agonis alpha2-adrenergik dan D2 dopamin reseptor obat memblokir digunakan terutama untuk menghambat tic. Para agonis alpha2-adrenergik mungkin efektif untuk mengobati gejala ADHD yang mendasari, meskipun stimulan SSP dan neuroleptik atipikal dapat digunakan secara bersamaan. Selective serotonin reuptake inhibitor (SSRI) sebagian besar digunakan untuk mengobati gangguan obsesif-kompulsif (OCD) gejala sindrom Tourette (TS).
  • Obat neuroleptik Antagonis dopamin reseptor adalah agen tic-penekan yang paling diduga efektif.
  1. Haloperidol (Haldol) Haloperidol dan droperidol adalah dari kelas butyrophenone dan terkenal akan potensi tinggi dan potensi rendah untuk menyebabkan orthostasis. Sebuah potensi tinggi untuk gejala ekstrapiramidal atau distonia.
  2. Pimozide (Orap) Pimozide merupakan antagonis dopamin reseptor yang mengubah efek dopamin di SSP. Ia memiliki antikolinergik dan alpha-adrenergik kegiatan pemblokiran. Karena panjangwaktu  paruh (55 jam), dosis harian tunggal mungkin cukup.
  3. Fluphenazine (Prolixin) Blok fluphenazine postsynaptic D1 dopaminergik mesolimbic dan reseptor D2 di otak. Obat ini menunjukkan efek alpha-adrenergik dan antikolinergik yang kuat dan mungkin menekan siestem aktifitas reticular.
  4. Trifluoperazine (Stelazine) Blok fluphenazine postsynaptic D1 dopaminergik mesolimbic dan reseptor D2 di otak. Agen ini menunjukkan efek alpha-adrenergik dan antikolinergik yang kuat dan mungkin menekan aktifitasd sistem retikular.

Obat neuroleptik atipikal Agen ini selektif reseptor dopamin D2 dan serotonin (5-HT2) antagonis.

  • Risperidone (Risperdal)  Risperidone merupakan antagonis monoaminergic selektif dengan afinitas tinggi untuk serotonergik 5-HT2 dan reseptor D2 dopaminergik. Hal ini mendalilkan memusuhi reseptor dopamin dalam sistem limbik saja. Hal ini menunjukkan blokadi selektif serotonin pada saluran mesocortical. Tingkat dopamin dan meningkatkan transmisi.
  • Olanzapine (Zyprexa) Olanzapine dianggap sebagai agen lini kedua untuk menghambat tic. Dari neuroleptik atipikal, risperidone telah lebih diteliti secara mendalam dari olanzapine.
  • Ziprasidone (Geodon) Agen ini merupakan antipsikotik atipikal disetujui oleh FDA pada tahun 2001. Hal itu dapat menyebabkan kenaikan berat badan kurang dari olanzapine.

Agonis alpha2-adrenergik Agonis alpha2-adrenergik adalah agen lini pertama untuk farmakoterapi tics

  • Clonidine (Catapres, Duraclon, Nexiclon, Kapvay) Clonidine merangsang alpha2-adrenoreseptor di batang otak, mengaktifkan neuron inhibisi, yang pada gilirannya mengakibatkan penurunan aliran simpatis. Efek ini mengakibatkan penurunan dalam nada vasomotor dan denyut jantung. Clonidine adalah agen lini pertama untuk menekan tic dan pengobatan ADHD pada TS.
  • Guanfacine (TENEX, INTUNIV) Guanfacine dianggap sebagai agen lini pertama untuk pengobatan tics. Ia memiliki panjang paruh daripada clonidine dan bisa kurang menenangkan.

Benzodiazepin Agen ini menghambat ion kalsium dari memasuki saluran lambat, pilih daerah tegangan-sensitif, atau otot polos.

  • Clonazepam (Klonopin) Clonazepam menekan kontraksi otot dengan memfasilitasi penghambatan gamma aminobutyric acid (GABA) neurotransmisi dan pemancar hambat lainnya.

Agonis dopamin Agonis dopamin diduga mengurangi reseptor dopamin supersensitivity, yang merupakan salah satu teori yang diusulkan patofisiologi yang mendasari TS. Bukti untuk efektivitas agonis dopamin di TS adalah mendorong namun terbatas, penelitian lebih lanjut perlu dilakukan untuk kelas ini obat di TS.

Pergolide, agonis dopamin, ditarik dari pasar AS 29 Maret 2007, karena kerusakan katup jantung yang mengakibatkan regurgitasi katup jantung. Pergolide tidak boleh berhenti tiba-tiba. Profesional perawatan kesehatan harus menilai kebutuhan pasien untuk dopamin agonis (DA) dan mempertimbangkan terapi pengobatan alternatif. Jika perawatan lanjutan dengan DA diperlukan, DA lain harus diganti untuk pergolide. Untuk informasi lebih lanjut, lihat FDA MedWatch Produk Safety Alert dan Alarm Medscape: pergolide Ditarik Dari Pasar AS.

 

  • Ropininirole (Requip) Ropinirole dianggap sebagai agen lini ketiga untuk pengobatan TS. Dosis yang lebih rendah daripada yang digunakan dalam penyakit Parkinson telah terbukti efektif. Agen ini adalah dopamin agonis nonergot yang memiliki relatif tinggi dalam kekhususan vitro dan aktivitas intrinsik penuh pada subfamili D2 reseptor dopamin, mengikat dengan afinitas yang lebih tinggi untuk D3 daripada D2 atau D4 reseptor subtipe. Obat ini memiliki afinitas sedang untuk reseptor opioid. Metabolit memiliki afinitas diabaikan untuk D1 dopamin, 5HT-1, 5HT-2, benzodiazepine, GABA, muscarinic, alpha1-, alpha2-dan beta-adrenoreseptor.
  • Hentikan ropinirole secara bertahap selama periode 7 hari. Penurunan frekuensi pemberian dari tid tawaran untuk 4 hari. Selama 3 hari tersisa, menurunkan frekuensi sekali sehari sebelum menyelesaikan penarikan ropinirole.
  • Pergolide (Permax) Pergolide telah ditarik dari pasar AS. Sebuah campuran derivatif ergot dopamin agonis, itu terbukti efektif untuk tic penindasan

Agen blocker neuromuskuler Agen ini menghambat kontraksi otot.

  • Toksin botulinum (BOTOX ®) Sebuah neurotoxin yang dihasilkan dari fermentasi Clostridium botulinum tipe A, agen ini diberikannya blokade neuromuskular dengan mengikat ke situs reseptor pada terminal saraf motorik presynaptic dan menghambat pelepasan kalsium bergantung asetilkolin dari vesikel terletak dalam ujung saraf. Parsial denervasi kimia hasil otot, yang mengurangi aktivitas otot di daerah injeksi.

Daftar Pustaka

  • Jankovic J. Tourette’s syndrome. N Engl J Med. Oct 18 2001;345(16):1184-92.
  • Singer HS. Tourette’s syndrome: from behaviour to biology. Lancet Neurol. Mar 2005;4(3):149-59.
  • Comella CL. Gilles de la Tourette’s syndrome and other tic disorders. CONTINUUM: Lifelong Learning in Neurology. June 2004;10 (3):128-41.
  • Alsobrook JP 2nd, Pauls DL. The genetics of Tourette syndrome. Neurol Clin. May 1997;15(2):381-93.
  • Tanner CM, Goldman SM. Epidemiology of Tourette syndrome. Neurol Clin. May 1997;15(2):395-402
  • Kadesjo B, Gillberg C. Tourette’s disorder: epidemiology and comorbidity in primary school children. J Am Acad Child Adolesc Psychiatry. May 2000;39(5):548-55.
  • Cheung MY, Shahed J, Jankovic J. Malignant Tourette syndrome. Mov Disord. Sep 15 2007;22(12):1743-50
  • Bloch MH, Leckman JF, Zhu H, Peterson BS. Caudate volumes in childhood predict symptom severity in adults with Tourette syndrome. Neurology. Oct 25 2005;65(8):1253-8.
  • Shavitt RG, Hounie AG, Rosário Campos MC, Miguel EC. Tourette’s Syndrome. Psychiatr Clin North Am. Jun 2006;29(2):471-86.

supported by

GRoW UP CLINIC JAKARTA Yudhasmara Foundation Inspirasi Orangtua Cerdas, Tumbuhkan Anak Semakin Sehat, Kuat dan Pintar

WORKING TOGETHER SUPPORT TO THE HEALTH OF ALL BY CLINICAL, RESEARCH AND EDUCATIONS. Advancing of the future pediatric and future parenting to optimalized physical, mental and social health and well being for fetal, newborn, infant, children, adolescents and adult
“GRoW UP CLINIC JAKARTA” For Children, Teen and Adult Focus and Interest on:

Professional Healthcare Provider “GRoW UP CLINIC”

  • Dr Narulita Dewi SpKFR, Physical Medicine & Rehabilitation curriculum vitae HP 085777227790 PIN BB 235CF967
  • Dr Widodo Judarwanto, Pediatrician
  • Fisioterapis dan terapi okupasi lainnya

Clinical – Editor in Chief : Dr WIDODO JUDARWANTO, pediatrician

Information on this web site is provided for informational purposes only and is not a substitute for professional medical advice. You should not use the information on this web site for diagnosing or treating a medical or health condition. You should carefully read all product packaging. If you have or suspect you have a medical problem, promptly contact your professional healthcare provider

Copyright © 2013, GRoW UP CLINIC Information Education Network. All rights reserved

Deteksi Dini Autis, Trophoblastic Inclusions Dalam Plasenta

Resiko terjadinya autis pada anak ternyata bisa dideteksi sejak dini dengan mengamati plasenta yang mengandung sebuah stuktur abnormal yang disebut dengan trophoblastic inclusions (TIs). Jika struktur-struktur ini telah ditemukan sejak si anak lahir dan intervensinya segera dimulai, maka anak akan memperoleh manfaat yang luar biasa, apalagi jika mereka ternyata memang benar-benar mengidap autis. Kalaupun tidak terbukti autis, anak juga takkan terkena dampak dari metode ini.

Penelitian itu dilakukan Klimadkk dengan meneliti dan  mengumpulkan sampel jaringan plasenta dari 117 anak yang terlahir dari keluarga yang telah memiliki seorang anak autis, kemudian membandingkannya dengan plasenta 100 anak yang terlahir dalam keluarga yang sebelumnya tidak memiliki anak dengan autis.

Setelah sampel plasentanya diamati secara acak, peneliti menemukan bahwa trophoblastic inclusions lebih banyak ditemukan pada plasenta anak yang berisiko tinggi terkena autisme. Trophoblastic inclusions sendiri berukuran kecil, berbentuk seperti jari tangan manusia dan menempel pada dinding plasenta sehingga mudah terlihat.

Selain itu, plasenta pada anak yang berisiko autis tinggi juga berpeluang delapan kali lebih besar untuk memiliki dua trophoblastic inclusions atau lebih dibandingkan plasenta anak yang tidak berisiko. Jika trophoblastic inclusions-nya mencapai empat buah atau lebih, risiko si anak mengalami autis menjadi lebih tinggi. Sebaliknya peneliti tak menemukan satupun trophoblastic inclusions pada sampel plasenta anak yang tidak berisiko. Bahkan peneliti dapat menyimpulkan jika trophoblastic inclusions-nya berjumlah empat buah maka si anak memiliki spesifisitas sebesar 99 persen untuk masuk ke dalam kelompok anak dengan risiko autisme tinggi. Bila seorang anak yang mempunyai empat trophoblastic inclusions dalam plasentanya berisiko tinggi terkena autis.

Ketika menggunakan poin maksimal empat buah untuk jumlah trophoblastic inclusions dalam plasenta tersebut, peneliti menemukan adanya sensitivitas yang rendah untuk mendeteksi anak-anak yang berisiko autis tinggi karena 81 persen anak yang berada dalam kelompok risiko autisme tinggi tidak mempunyai trophoblastic inclusions sebanyak empat buah atau lebih. Peneliti memprediksi bahwa satu dari lima anak yang masuk dalam kelompok risiko autis tinggi diperkirakan memang akan mengidap gangguan saraf tersebut.

Tapi bukan berarti keberadaan trophoblastic inclusions dapat menyebabkan autisme pada anak. Sebaliknya apapun yang menyebabkan autisme pada seorang anak juga menyebabkan pembentukan trophoblastic inclusions dalam plasentanya. Padahal plasenta itu sendiri merupakan refleksi dari apa yang terjadi di dalam otak.

Peneliti lain telah lama menemukan bahwa trophoblastic inclusions erat kaitannya dengan abnormalitas kromosom. Trophoblastic inclusions juga ditemukan pada anak-anak dengan risiko autis tinggi semakin membuktikan bahwa kondisi tersebut mempunyai latar belakang genetik.

25 Tips Dahsyat Untuk Membangun Rasa Percaya Diri Anak

  1. Berikan Perhatian Luangkan waktu anda ketika anak anda ingin berbicara pada anda, berikan perhatian anda sepenuhnya pada apa yang sedang anak anda katakan, mungkin bagi anda sepele, tapi hal itu memberikan pesan bagi anak anda, bahwa dirinya adalah individu yang penting dan berharga. Cobalah hentikan kegiatan anda sebentar untuk memdengarkan sepenuhnya apa yang sedang ia katakan, jika mungkin anda sedang berfesbuk ria, berhentilah sejenak, atau jika anda sedang asyik menonton sinetron, matikan sejenak, atau jika anda sedang ngecek beberapa email yang masuk, hentikanlan sebentar, tentu anda tidak ingin anak anda merasa bahwa dia tidak penting kan. Atau jika anda sedang sibuk menyiapkan makan malam, anda dapat memancingnya dengan mengatakan “coba cerita sama ibu, tadi di sekolah gambar apa aja?, kalo udah selesai ceritanya ibu mau masak”. Pastikan jangan lepaskan kontak mata pada anak anda.
  2. Dukung anak anda untuk menghadapi resiko yang ringan Orang tua kita seringkali mendapati anak kita frustasi karena belum berhasil memasangkan gambar puzzle, sehingga seringkali ditengah-tengah bermain tiba-tiba mereka menjerit dan bahkan menangis sendiri. Apa yang perlu anda lakukan adalah, dukunglah anak anda untuk mencoba sesuatu yang baru, selama hal tersebut tidak membahayakan dirinya, minimalisir campur tangan anda untuk menjadi problem solving dalam tantangan baru yang dihadapinya. Biarkan anak anda melakukan ujicoba selama hal tersebut tidak membahayakannya. Jangan anda buru-buru mengatakan “sini, biar mama saja yang buatin” karena hal ini akan membuat anak anda tidak belajar untuk mendiri dan percaya diri.
  3. Biarkan kesalahan terjadi Kesalahan memberikan pelajaran berharga, dan anak anda tentu tidak luput dari kesalahan, mungkin contoh sepele yang sering terjadi, misalnya anak anda meletakkan piring terlalu dekat dengan ujung meja, tentu saja berikan gambaran padanya apa yang pernah terjadi sebelumnya dengan kondisi yang sama. Sehingga kesalahan tidak akan terulang kembali, dan memang sebagai orang tua, hal tersebut perlu diulang berkali-kali, karena tentu saja berapa kalipun kita ucapkan, kerapkali anak seringkali lalai.
  4. Meningkatkan kepercayaan diri sendiri Anak belajar dari hal-hal yang dilihatnya, bahkan termasuk sifat-sifat tertentu seperti kemarahan dan rasa takut. Jika Anda memiliki kepercayaan diri yang rendah, anak juga dapat tumbuh menjadi seseorang yang kurang percaya diri. Oleh karena itu, mulailah membangun kepercayaan diri anak dari diri Anda sendiri. Buatlah daftar kekurangan dan kelebihan yang Anda miliki dan cobalah untuk tidak terlalu memikirkan kekurangan tersebut dengan memaksimalkan kelebihan yang dapat menjadi kekuatan Anda.
  5. Menjadi cermin yang positif bagi anak Seorang anak tidak hanya mendapatkan citra diri dari apa yang dipikirkan tentang dirinya sendiri saja, tetapi juga bagaimana ia memandang dirinya melalui sudut pandang orang lain. Hal ini terutama berlaku bagi anak-anak prasekolah yang belajar tentang diri sendiri sebagian besar dari reaksi orangtuanya. Sehingga Anda perlu menjadi cerminan yang positif bagi anak Anda. Anak mungkin dapat mengartikan bahwa Anda tidak menyukainya jika ekspresi muka Anda gelisah sepanjang waktu, oleh karena itu segera atasi stres agar tidak disalah artikan oleh anak.
  6. Berhati-hati dalam menyampaikan kata-kata Anak juga perlu mendapatkan teguran atas kesalahannya, tetapi hal tersebut jangan disampaikan dengan kata-kata yang berlebihan. Berpikirlah sebelum Anda berbicara dan pilihlah kata-kata dengan hati-hati agar tidak menyakiti perasaannya hingga membuatnya minder. Anda cukup menunjukkan kesalahannya dan memintanya untuk tidak mengulangi lagi. Semarah apapun Anda, jangan pernah mengatakan hal-hal kasar seperti Anda tidak mencintainya atau menyesal telah melahirkannya.
  7. Motivasi Motivasi terus dalam setiap usaha anak. Motivasi terus dengan menggunakan kata-kata dan tindakan yang positif dan membangun. Motivasi ini untuk membangun stabilitas jiwa dan psikis anak. Motivasilah terus agar anak terus memiliki harapan dan mau belajar terus sepanjang hidupnya. Pertimbangkan kembali untuk mengatakan, “Kok, sepatunya tidak rapi”, tapi cobalah mengatakan, “katanya ingin jadi orang besar, berarti sepatunya harus rapi”.
  8. Luangkan waktu Anda untuk bermain bersama anak Anak membutuhkan dukungan dan perhatian dari orangtuanya. Jika Anda memiliki lebih banyak waktu untuk menemani anak bermain, Anda dapat memberikan lebih banyak masukan dan pujian kepada anak atas apa yang dilakukannya. Hal ini dapat memudahkan anak mengenali citra dirinya dan dapat memupuk rasa percaya diri.
  9. Membantu anak mengembangkan bakat dan keterampilan baru Prestasi adalah pembangkit rasa percaya diri yang sangat besar. Cari tahu bakat dan hobi anak Anda, kemudian dukunglah dirinya dalam mengembangkan bakatnya. Misalnya, jika anak memiliki bakat menyanyi, Anda mungkin dapat menyediakan alat karaoke atau memotivasi anak untuk bergabung dalam les vokal. Anak akan semakin percaya diri ketika memperoleh prestasi dari bakat atau kemampuan akademis lainnya. Tetapi ajarkan pula tentang kegagalan pada anak agar dirinya tidak terlalu kecewa dan minder ketika mengalami kegagalan.
  10. Hargai prestasi anak Anda dapat menghargai prestasi anak dengan memberikan pujian atau memasang hasil karyanya di rumah. Anda dapat membingkai hasil lukisan anak dan memasangnya di ruang keluarga agar anak bangga akan prestasinya dan semakin percaya diri.
  11. Rasa aman Suasana amanlah yang akan menentukan kondisi jiwa anak. Dengan rasa aman, mereka akan mempercayai orang dan lingkungan di sekitarnya.
    Secara fisik, anak harus aman. Apabila mereka di dekat kita, maka pastikan dia akan merasa aman. Begitu juga dengan lingkungannya. Tidak ada yang akan melukai secara fisik kepadanya. Jaminan inilah yang mereka butuhkan. Secara non-fisik, anak juga harus mendapat perlakuan aman dari orang-orang di sekitarnya. Keberadaan anak, apapun yang dilakukannya, akan tetap nyaman dan aman bagi emosi dan psikis anak.
    Rasa aman inilah kunci pembuka bagi terciptanya karakter terbuka bagi anak. Dia akan dengan mudah menyampaikan kisah dan suasana hatinya ketika anak merasa aman baik fisik maupun psikis. Ketika anak sudah membuka diri, maka membangun nilai dan karakter akan lebih mudah
  12. Pendampingan Setiap anak belajar untuk tumbuh. Belajar mengenal lingkungannya. Maka pendampingan dibutuhkan oleh mereka. Anak-anak juga sedang membangun nilai bagi diri mereka sendiri. Nilai dasar bagi anak adalah “apapun boleh”. Maka, ada kecenderungan mencoba-coba hal dan sikap baru. Di sinilah letak pentingnya pendampingan.  Bentuk pendampingan bisa beragam dan juga tidak ada ukuran kuantitasnya. Kualitas pendampingan jauh lebih penting. Rasa tidak percaya diri sering kali muncul ketika seseorang merasa sendiri. Supaya anak terhindar dari perasaan demikian, berikan perhatian dan luangkan waktu untuk mendampingi hal-hal yang dilakukannya.
  13. Timbal balik Setelah proses pendampingan, maka mengusahakan adanya timbal balik merupakan hal penting. Setidaknya, mereka bisa mengungkapkan apa yang ada dalam pikiran mereka. Misalnya, bertanya tentang sesuatu yang belum mereka pahami atau yakini. Dan bertanya ini pun tentu terkait dengan tips yang pertama, yaitu rasa aman. Pastikan pada saat anak memberikan timbal balik dengan bertanya, mereka akan mendapatkan penjelasan dan rasa aman. Bukan celaan atau bahan tertawa yang akan mereka terima.  Dengan timbal balik pula, mereka akan membuka kegelisahan mereka kepada kita. Dan salah satu cara terbaik adalah dengan membuka kesempatan dan pertanyaan. Ketika kita membuka dan mereka percaya, maka interaksi akan berjalan terbuka dan nyaman.
  14. MEMBERIKAN PENDAPAT Luangkan waktu untuk berdiskusi tentang hal-hal yang ada di sekitar anak, misalnya di sekolah. Tanyakan tentang pelajaran yang disukainya, sambil sesekali melontarkan pertanyaan, misalnya pelajaran atau guru favoritnya. Cara itu dimaksudkan untuk melatih pola pikir anak-anak dan mendorongnya untuk berani mengutarakan jawaban di depan orang lain. Bila perlu, ajak anak pergi ke sebuah tempat wisata dan minta ia menceritakan hal menarik apa saja selama disana. Dengan demikian, diharapkan si buah hati akan terbiasa untuk berbicara dan berhadapan dengan orang lain.
  15. APRESIASI Memberikan apresiasi atas keberhasilan anak menjadi hal penting untuk menunjukan dukungan sekaligus kasih sayang. Tidak harus sesuatu atau barang yang mahal, ucapan selamat, tepuk tangan, atau kecupab di pipi dan kening pun bias menjadi sesuatu yang bermakna bagi anak. Beri pengertian pula bahwa kegagalan bukanlah hal yang negatif, tetapi justru bias membuat seseorang menjadi lebih baik di kemudian hari dengan belajar dari kegagalan tersebut.
  16.  MEMAHAMI KELEBIHAN
    Orangtua semestinya perlu mencari kelebihan, minat serta bakat si buah hati. Setelah itu, beri dukungan penuh atas hal-hal tersebut, karena bagaimanapun orang tua cenderung akan memberikan yang terbaik atas apa yang mereka sukai. Misalnya, jika anak memiliki bakat dan suka main piano, tidak ada salahnya untuk mendaftarkan mereka di kursus piano agar bakatnya bias berkembang. Jika mereka ahli di suatu bidang, rasa percaya diri tentunya akan terdongkrak pula.
  17. Membangun kepercayaan Kepercayaan adalah kata kunci membangun rasa PD anak. Akan tetapi, hati-hati juga dalam memberikan kepercayaan kepada anak. Kepercayaan yang berlebihan dan kurang sama-sama kurang baik bagi anak. Banyak orang bilang, seperti main layang-layang sajalah. Kadang kita ulur, kadang kita tarik.
    Kepercayaan ini terutama dalam melakukan dan bertanggungjawab terhadap sebuah pekerjaan. Mulailah dari hal-hal kecil dalam mempercayakan kepada anak. Merapikan baju di lemari, menata mainan sendiri, menyimpan barang-barangnya sendiri, dan seterusnya.
    Apabila kita memberikan kepercayaan kepada mereka, maka mereka akan berlatih tentang tanggung jawab. Dan apabila proses ini berhasil, bukan hanya kepercayaan diri yang akan dimiliki anak, melainkan tanggung jawab juga akan mereka miliki
  18. Perkaya pengetahuan Teruslah memberikan mereka pengetahuan yang cukup agar mereka mengetahui apa yang seharusnya. Dengan memperkaya pengetahuan, maka PD akan terus terpupuk. Apabila kita sudah terbiasa melakukan hal di atas, maka kita sempurnakan dengan doa, insya Allah anak akan berubah lebih baik. Apabila kita belum memiliki kebiasaan di atas, sungguh tidak salah kalau kita belajar melakukannya. Karena, anak akan menjadi seperti apa yang mereka lihat, dengar, rasakan, dan alami.
    terimakasih
  19. Berikan cinta anda, tanpa pamrih Rasa percaya diri anak semakin berkembang dengan ketulusan cinta yang anda berikan meski bagaimanapun tingkah polah anak anda, yang tentu saya kadang seringkali kita lepas kontrol, jikapun mungkin anak anda pernah mencelakai anak orang lain, katanya padanya misanya ‘nak, dorong-dorong temanmu itu bisa bahaya, coba lain kali jangan dorong-dorongan’, pastikan anda mengoreksi perilakunya dan bukan melabeli anak anda, misalnya dengan mengatakan ‘anak nakal..kapan kamu bisa baik..!!! selalu ingat bahwa ungkapan cinta anda adalah motivasi bagi anak anda untuk menumbuhkan kepercayaan dirinya.
  20. Rayakan Kemajuan Positif Orang tua harus senantiasa mengakui kemajuan-kemajuan positif yang setiap hari anak anda lakukan, misalnya, jika biasanya setiap pulang sekolah anak anda menaruh sepatunya sembarangan, kali ini dengan sendirinya dia meletakkan di rak sepatu tanpa anda suruh. Bisa jadi ketika ayahnya datang katakan padanya ‘Yah, hari ini Hilda pinter, udah bisa naruh sepatunya sendiri di rak sepatu tanpa disuruh’. Pastikan anda spesifik dalam memuji, ketimbang anda bilang ‘Good Job’, katakan padanya: ‘makasih nak kamu udah sabar menunggu’. Dengan demikian anak anda akan mengetahui bahwa dirinya berarti dan apa yang dia kerjakan adalah benar.
  21. Jadilah Pendengar Yang Baik Saatnya anak anda ingin bercerita, sebagai orang tua, berhentilan sejenak dan dengarkan baik-baik apa sebenarnya yang ingin anak anda sampaikan. Tentu dia ingin mengetahui bahwa apa yang sedang dia pikirkan, rasakan, inginkan dan opininya anda hargai. Bantulah anak anda untuk merasa nyaman dengan apa yang sedang dia rasakan dengan membantunya mengindentifikasikan perasaannya. Misalnya, ‘Mama ngerti kamu lagi sedih karena mesti berpisah dengan temen sekelasmu’, dengan menerima emosinya apa adanya berarti anda menghargai apa yang sedang anak anda rasakan dan membantunya memberikan label perasaan apa yang sedang dia rasakan.
  22. Hindari Perbandingan Ketika kita mempunyai anak lebih dari satu, secara tidak sadar seringkali kita mengatakan, ‘Kenapa sih kamu ngga bisa seperti adik?’, atau ‘Bisa ngga sih kamu anteng seperti temenmu itu?’ ungkapan seperti ini hanya akan mengingatkan anak anda bahwa dia hidup yang memaksanya untuk selalu berkompetisi. Meskipun ungkapan tersebut bersifat positif misanya ‘Kamu yang terbaik’, sebetulnya membuat anak akan sulit keluar dari label yang anda berikan tadi. Jadi sebagai orang tua, terimalah kepribadian anak anda secara apa adanya, ingatkan diri anda bahwa setiap anak adalah individu yang uniq, karena dalam keunikan yang tersendiri itulah ada kelebihan yang mungkin tidak di miliki oleh orang lain.
  23. Tawarkan Empati Jika anak anda membandingkan dirinya sendiri dengan kawan-kawannya yang mahir dalam suatu hal, Misalnya suatu waktu dia mengatakan pada anda, ‘Ma, kenapa tulisanku ngga bsia bagus seperti Sofia?’ tunjukkan padanya empati anda, dan tunjukkan padanya salah satu kepintarannya yang tidak dimiliki teman-teman lainnya. Misalnya dengan mengatakan, ‘Betul nak, tulisan Sofia bagus, dan kamu bagus lukisannya’, dengan demikian anak anda akan belajar bahwa setiap individu mempunyai kekurangan dan kelebihan, dan dia tidak perlu merasa kurang dalam suatu hal yang tidak dapat dia lakukan.
  24. Berikan Kata-Kata Dorongan atau Penyemangat Setiap anak membutuhkan support dari orang-orang yang dia sayangi, yang dari support tersebut memberikan sinyal positif baginya, seakan-akan support tersebut adalah ungkapan ‘Mama percaya kamu, Mama bisa lihat usaha besarmu, ayo teruskan nak..’ Dorongan kata-kata penyemangat artinya pengakuan atas sebentuk usaha yang sedang anak anda lakukan, tidak hanya memberikan hadiah atas usahanya. Maka jika anak anda sedang berusaha belajar mengeja, katakan padanya ‘Ayo nak, mama tau kamu udah berusaha keras untuk mengeja kata-kata itu, dan kamu hampir bisa membaca semuanya’, ungkapan demikian akan memotivasi anak anda untuk percaya pada kemampuan yang dia miliki. Ada perbedaan besar antara pujian dan dorongan, pujian dapat menjadikan anak merasa bahwa dia hanya yang terbaik, jika dia mengerjakannya secara sempurna, sementara dorongan, artinya anda mengakui usaha yang sedang dia lakukan. Sebaiknya anda katakan ‘Coba cerita gambar apa hari ini di sekolah?’ ketimbang anda mengatakan ‘Gambar terbagus yang pernah mama lihat’. Terlalu banyak pujian akan melemahkannya untuk menghargai dirinya sendiri, karena dengan demikian akan menjadi tekanan baginya untuk selalu mendapatkan pujian dari orang lain. Maka berilah porsi pujian untuk anak anda secara bijaksana dan berikan dorongan secara terus-menerus, karena dengan dorongan anak anda akan merasa nyaman pada dirinya sendiri.
  25. Biarkan anak memilih teman-temannya sendiri Anak yang percaya diri tidak akan mengalami kesulitan dalam bergaul dengan orang lain, sehingga biarkan dirinya memilih teman-temannya sendiri. Hal ini juga menjadi salah satu sarana pembelajaran agar anak tidak minder. Anda cukup mengontrol pergaulan anak, jangan sampai dirinya bergaul dengan anak yang berkelakuan negatif seperti merokok dan sebagainya.

suymber : Emaxhealth dan berbagai sumber lainnya

www.growupclinic.com

Supported By: GRoW UP CLINIC JAKARTA Yudhasmara Foundation GRoW UP CLINIC I Jl Taman Bendungan Asahan 5 Bendungan Hilir Jakarta Pusat 10210, phone (021) 5703646 – 44466102 GRoW UP CLINIC II MENTENG SQUARE Jl Matraman 30 Jakarta Pusat 10430, Phone (021) 44466103 – 97730777email : judarwanto@gmail.com http://growupclinic.com http://www.facebook.com/GrowUpClinic Creating-hashtag-on-twitter@growupclinic. Professional Healthcare Provider “GRoW UP CLINIC” Dr Narulita Dewi SpKFR, Physical Medicine & Rehabilitation curriculum vitae HP 085777227790 PIN BB 235CF967 Clinical – Editor in Chief : Dr WIDODO JUDARWANTO, pediatrician email : judarwanto@gmail.com curriculum vitae Creating-hashtag-on-twitter: @WidoJudarwanto www.facebook.com/widodo.judarwanto Mobile Phone O8567805533 PIN BB 25AF7035

“GRoW UP CLINIC” Jakarta Focus and Interest on: *** Allergy Clinic Online *** Picky Eaters and Growup Clinic For Children, Teen and Adult (Klinik Khusus Gangguan Sulit Makan dan Gangguan Kenaikkan Berat Badan)*** Children Foot Clinic *** Physical Medicine and Rehabilitation Clinic *** Oral Motor Disorders and Speech Clinic *** Children Sleep Clinic *** Pain Management Clinic Jakarta *** Autism Clinic *** Children Behaviour Clinic *** Motoric & Sensory Processing Disorders Clinic *** NICU – Premature Follow up Clinic *** Lactation and Breastfeeding Clinic *** Swimming Spa Baby & Medicine Massage Therapy For Baby, Children and Teen ***We are guilty of many errors and many faults. But our worst crime is abandoning the children, neglecting the fountain of life.

Information on this web site is provided for informational purposes only and is not a substitute for professional medical advice. You should not use the information on this web site for diagnosing or treating a medical or health condition. You should carefully read all product packaging. If you have or suspect you have a medical problem, promptly contact your professional healthcare provider

Copyright © 2014, GRoW UP CLINIC Information Education Network. All rights+ reserved

LINK TEREKOMENDASI:

Perbuatan Kriminal Dimasa Depan, Bisa Diidentifikasi Sejak Dini

Masalah perilaku dan perilaku yang menyakitkan dan tidak peduli pada anak-anak berumur 6 tahun adalah prediktor akurat dari keyakinan pidana kekerasan dan tanpa kekerasan di masa dewasa muda, menunjukkan penelitian baru.

Penyidik ​​dari Université de Montréal di Kanada menemukan bahwa perilaku negatif pada usia 6, seperti pertempuran, ketidaktaatan, dan kurangnya empati, diprediksi keyakinan pidana pada usia 24.

“Sebagian besar kejahatan tanpa kekerasan dan kekerasan yang dilakukan oleh sekelompok kecil pria dan wanita yang menampilkan masalah perilaku yang onset masa kanak-kanak dan tetap stabil di seluruh jangka hidup,” penulis studi Sheilagh Hodgins, PhD, mengatakan kepada Medscape Medical News.

“Jika masalah perilaku mereka dapat diidentifikasi dan dikurangi sejak awal kehidupan, ini berpotensi akan memungkinkan anak-anak untuk mengubah lintasan perkembangan mereka, hidup sehat dan bahagia, dan untuk membuat kontribusi positif daripada negatif terhadap masyarakat kita.” Studi ini diterbitkan dalam edisi Maret Journal of Psychiatry Kanada.

Kebutuhan Intervensi Dini

Tujuan untuk penelitian ini adalah untuk lebih memahami bagaimana mencegah kejahatan dan dengan demikian mengurangi biaya manusia dan ekonomi yang terkait dengan kegiatan kriminal, katanya.

Para peneliti memeriksa penilaian guru masalah perilaku seperti berkelahi, ketidaktaatan, absensi sekolah, perusakan harta milik, pencurian, berbohong, bullying, menyalahkan orang lain, dan kurangnya empati kalangan mahasiswa pada usia 6 tahun. 1593 anak laki-laki dan 1423 perempuan direkrut ketika mereka berada di TK di Perancis berbahasa sekolah umum di provinsi Quebec 1986-1987. Kelompok yang sama dari anak laki-laki dan perempuan dinilai lagi pada usia 10 tahun. Mereka juga dinilai untuk perilaku agresif pada usia 12.

Para peneliti kemudian memperoleh catatan kriminal remaja dan dewasa dan menemukan bahwa guru peringkat perilaku murid pada usia 6 dan 10 dikaitkan dengan keyakinan pidana antara usia 12 dan 24.

Secara khusus, mereka menemukan bahwa anak laki-laki berusia 6 yang dinilai oleh guru mereka sebagai memiliki tingkat tertinggi masalah perilaku etik dan perilaku menyakitkan dan tidak peduli adalah 4 kali lebih mungkin dihukum karena kejahatan kekerasan dan 5 kali lebih mungkin dihukum karena kejahatan tanpa kekerasan dibandingkan anak laki-laki dengan penilaian yang lebih rendah.

Demikian pula, anak perempuan berusia 6 dengan penilaian tinggi untuk masalah perilaku dan perilaku menyakitkan dan tidak peduli adalah 5 kali lebih mungkin dibandingkan anak perempuan dengan penilaian yang lebih rendah untuk memiliki keyakinan untuk kejahatan tanpa kekerasan pada usia 24.

Anak laki-laki yang memiliki peringkat tinggi untuk peduli dan perilaku menyakitkan tetapi yang tidak memiliki masalah perilaku perilaku juga memiliki peningkatan risiko untuk keyakinan kejahatan kekerasan dan tanpa kekerasan, dan perempuan dengan penilaian tinggi untuk peduli dan perilaku menyakitkan tapi masalah perilaku perilaku yang tidak memiliki risiko tinggi untuk tanpa kekerasan kejahatan keyakinan.

Dr Hodgins menambahkan, “Siswa tersebut, membutuhkan “intervensi untuk mengurangi perilaku pada usia dini, yang, pada gilirannya, akan meningkatkan hubungan yang lebih baik dengan keluarga, teman sebaya, dan guru, kinerja akademik yang lebih baik, dan pengembangan keterampilan prososial.”

Dokter anak mungkin dapat mengidentifikasi anak-anak yang menunjukkan perilaku dengan mengamati dan berbicara dengan anak-anak dan orang tua mereka, ia menambahkan. “Ketika masalah ini dianggap telah ada, keluarga bisa mendatangi layanan anak kejiwaan atau lembaga lain yang menyediakan pelatihan orangtua dan intervensi lain ditujukan untuk mengurangi masalah ini,” katanya.

Terapi Sensory Integration Untuk Anak Normal Tapi Bermasalah

Terapi Sensori Integrasi Bukan Hanya Untuk Anak Autis atau ADHD. Tetapi sering diuakan untuk anak dengan gangguan otak yang kurang dapat mengintegrasikan berbagai input sensonik dengan baik, yaitu anak-anak yang tidak mempunyai masalah S.I. akan menunjukan perilaku yang dapat menunjang keberhasilan dalam berperan sebagai anak seusianya, anggota keluarga di rumah, teman anak-anak sebayanya, murid di sekolah, dan dirinya sendiri.

Anak normal atau anak sehat sebagian besar juga mengalami masalah gangguan perilaku, gangg8an konsentrasi, gangguan emosi dan gangguan perilaku lainnya. Meski dalam keadaan yang lebih ringan dibandingkan Autisme dan ADHD tetapi sering menanggu dan seringdikeluhakan orangtua kepada dokter. Bahkan sebagian klinisi menyikapi esacar berbeda. Ada yang menganggap normal tak perlu dikawatirkan tetapi ada juga yang menganggap berlebihan sehingga mencemaskan orangtua. Kadang sebagian anak norma ini sering didiagniosis ADHD atau Autism meski anak dalam keadaan normal. Hal ini sulit dihindari karena bila tidka cermat tanda dan gejalanya mirip gangguan tersebut.

Sensori integrasi

Sensori integrasi sendiri adalah sebuah proses otak alamiah yang tidak disadari. Dalam proses ini informasi dari seluruh indera akan dikelola kemudia diberi arti lalu disaring, mana yang penting dan mana yang diacuhkan. Proses ini memungkinkan kita untuk berprilaku sesuai dengan pengalaman dan merupakan dasar bagi kemampuan akademik dan prilaku sosial.

Sensori integrasi merupakan teori dan metode yang membantu memberikan penjelasan pada beberapa prilaku yang dimunculkan pada anak berkebutuhan khusus berhubungan dengan permasalahan proses sensori yang terjadi. Serta memberikan strategi penanganan yang dapat dilakukan di pusat terapi, rumah dan sekolah secara tepat..

Setiap detik, menit dan jam tak terhitung berapa banyak informasi sensori yang masuk kedalam tubuh manusia seperti aliran air sungai yang tak hentinya. Tidak hanya dari telinga dan mata, tapi dari seluruh bagian tubuh. Sang anak harus mampu untuk mengatur seluruh sensori tersebut jika seseorang ingin bergerak, belajar dan berprilaku. Sensori tersebut memberikan informasi tentang kondisi fisik tubuh dan lingkungan disekitar.

si1.jpg

Kesulitan belajar yang disebabkan masalah pada sensori integrasi membuat sang siswa kesulitan mengatur informasi yang masuk yang membuatnya sulit untuk berkonsentrasi dan menyerap materi pelajaran. Sehingga memunculkan beberapa prilaku yang bersifat spesifik terhadap masalah pengintegrasian sensorinya.

Berdasarkan teori bahwa proses pengintegrasian sensori berada di otak yang mengatur jalur informasi sensori yang kemudian diproses hingga akhirnya menjadi respon atas situasi yang terjadi di lingkungan. Otak dalam hal ini berperan sebagai polisi yang mengatur lalu lintas informasi sensori sehingga dapat diproses secara efisien.

Sensori Integrasi dalam hal ini berperan menemukan jawaban kesulitan sang siswa selama proses belajar di sekolah yang berhubungan dengan masalah pada proses sensori. Penanganan dilakukan dengan melakukan pemeriksaan karakteristik dan keunikan yang dimiliki dengan masalah yang saat ini dihadapi.

Dengan sebuah keyakinan bahwa “setiap anak memiliki potensi yang perlu dikembangkan”, sensori integrasi melakukan penanganan dengan media permainan yang memiliki efek terapuetik sehingga masalah yang dihadapi saat disekolah dapat diatasi

Ada 7 sistem indera yang menjadi perhatian dalam Sensori integrasi yakni, pengelihatan, pendengaran, perasa, penciuman, taktil (perabaan) , vestibular (kesigapan tubuh), dan proprioseptif (posisi dalam ruang).

  • Organ vestibular terletak di mata, kanal dalam telinga, dan otak kecil. Fungsinya sebagai pengatur informasi dan pengatur kesigapan dan keseimbangan gerak tubuh. Bila organ ini bekerja baik, kita dapat dengan mudah mengatur gerak tubuh ke arah atas-bawah, kanan-kiri, depan-belakang dan membedakannya dengan baik.
  • Sistem proprioseptif adalah otot, sendi, dan ligamen. Sistem indera ini juga membantu kita dalam bergerak dan menyesuaikan posisi di dalam ruang.

Proses sensori integrasi terjadi secara bertahap, kegagalan di satu tahap akan berpengaruh pada tahap berikutnya. Anak yang optimal dalam proses sensori integrasi akan memiliki kemampuan komunikasi, kemampuan mengatur, harga diri, kepercayaan diri, kemampuan akademik, kemampuan berfikir abstrak dan penalaran, serta spesialisasi setiap sisi tubuh dan otak. Hasil akhir proses sensrori integrasi tersebut baru tercapai saat anak mulai usia SD.

Pada kebanyakan anak, perkembangan dari proses S.I. ini terjadi secara ilmiah ketika anak-anak ini melakukan berbagai aktifitas sehari-hari sejak masa bayi samapi dia siap untuk bersekolah. bila proses S.I. ini berfungsi dengan baik, maka otak dapat berkembang dengan baik, sehingga pada usia sekolah, si anak akan mempu :

  • memberikan reaksi yang baik terhadap berbagai informasi sensorik yang biasa diterima oleh anak sekolah.
  • menunjukan tingkat perkembangan sensori-motor, kognitif, emosi, dan sosialisasi yang sesuai dengan umurnya
  • menghadapi berbagai tuntutan akademis yang selalu bertambah sejalan dengan bertambahnya umur anak.

Dilain pihak, anak-anak yang mengalami gangguan dalam perkembangan Sensory Integration, dengan perkataan lain mengalami masalah Sensory Integration biasanya menunjukan berbagai masalah dalam belajar dan/atau perilaku. Anak-anak ini mungkin memperlihatkan satu atau lebih dari gejala-gejala dibawah ini :

  • hambatan prestasi sekolah
  • kurang percaya diri
  • masalah emosi dan/atau sosialisasi
  • tampak terlalu aktif ataupun terlalu pendiam
  • perhatiannya mudah teralih
  • kurang dapat mengontrol diri
  • terlalu peka atau kurang peka terhadap sentuhan, gerakan, suara, dsb.
  • gerakannya tampak kikuk tidak luwes atau tampak serampangan
  • hambatan pada perkembangan keterampailan motorik ,bicara ,dan / atau pengertian bahasa
  • kadang-kadang tamapak tidak perduli pada orang sekitarnya

Bila seorang anak menunjukan beberapa gejala gangguan sensory integration seperti yang telah diuraikan di atas, seringkali orang tuanya menanyakan mengenai penyebabnya. Pada saat ini penyebab gangguan sensory integration pada seorang anak tertentu biasanya sulit untuk ditujukan dengan pasti.

Pada umumnya masalah sensory integration ditemukan pada anak-anak yang mengalami masalah perkembangan seperti ADHD, Gangguan Perkembangan Pervasif (meliputi Autisme, Sindroma Asperger, dan Multi System Developmental Disorder), Gangguan Belajar, Gangguan perkembangan bahasa, dsb. Pada anak-anak tersebut, masalah sensory integration ditemukan menyertai masalah perkembangan yang utama (yang mendapat diagnosa medik).

Pada anak-anak dibawah tiga tahun kadang-kadang ditemukan sekumpulan masalah perilaku yang sangat erat kaitannya dengan kemampuan otak anak Anak-anak yang mempunyai masalah registrasi input sensorik, sulit memahami hal-hal yang terjadi, karena otaknya dari waktu ke waktu tidak dapat meregister input sensorik yang diterima oleh alat-alat inderanya. Dengan terapi sensory integration anak-anak ini akan dibantu untuk dapat meregister, memproses dan memahami berbagai input sensorik, sehingga dia akan lebih mengerti apa-apa yang terjadi di sekitarnya, dan bagaimana dia harus memberikan reaksi yang sesuai. Pada anak-anak di bawah 3 tahun, terapi sensory integration membuat mereka dapat melakukan eksplorasi dengan lebih bermakna; baik dalam lingkungan fisik maupun terhadap lingkungan sosial. Hal ini dimungkinkan karena dia jadi mampu melakukan analisa terhadap input-input sensorik yang dihadapinya, dengan lebih tepat. Hal ini berkaitan pula denga masalah modulasi yang sering disertai dengan masalah dalam memustakan perhatian. Setelah mengikuti sensory integration, anak-anak yang perhatiannya mudah teralih dan sulit untuk memusatkan perhatian akan menunjukan peningkatan kemampuan untuk memusatkan perhatian. Maka dia lebih mampu menyimak , mencerna dan memahami hal-hal yang ada disekitarnya.

Penderita dengan gangguan sensori integrasi sering kali salah mengartikan informasi sensorik yang masuk. Individu ini merasa seperti dihujani dengan informasi dan tidak mampu memproses informasi yang masuk. Secara fisiologis, gangguan sensori integrasi mencerminkan adanya disfungsi neurologis sentral yang ringan, yang meliputi sistem multisensorik. Kelainan ini mempengaruhi perilaku seseorang dalam cara-cara yang sulit dipahami, kecuali diamati oleh profesional, yang secara khusus mempelajari teori sensori integrasi.

Gangguan sensori integrasi ke dalam 3 (tiga) kelompok besar:

  1. Gangguan sensori modulasi (sensory modulation disorder), yaitu kesulitan dalam mengatur intensitas respon adaptif terhadap suatu stimulus tertentu. Individu yang mengalami ganguan modulasi dapat menunjukan reaksi yang tidak sesuai dengan situasi. Menunjukan reaksi berlebihan atau bahkan tidak bereaksi. Contoh : anak tidak tahan dengan suara blender, maka ia akan menangis, menutup telinga, lari ke kamar atau minta blender dimatikan.
  2. Gangguan diskriminasi sensori (sensory discrimination disorder), yaitu ketidakmampuan dalam mengartikan kualitas sentuhan, gerakan dan posisi tubuh atau kesulitan dalam mempersepsikan suatu input secara tepat (Bundy, dkk, 2002). Contoh : mainan sering rusak, karena anak tidak bisa mengontrol kekuatan, menulis terlalu tebal atau tipis. Gangguan diskriminasi visual akan menghambat anak dalam perkembangan membaca. Sedangkan gangguan diskriminasi taktil akan mengganggu perkembangan motorik halus, seperti menulis.
  3. Gangguan praksis (sensory based motor-disorder), yaitu ketidak mampuan dalam merencanakan suatu gerak motorik baru, sebagai manifestasi gangguan pemrosesan sensoris dari sistem vestibuler dan proprioseptif . Contoh : Anak lebih lama melakukan sesuatu dari anak lain, misalnya belajar naik sepeda, menalikan sepatu, menulis, dsb. Ada pula anak yang menghindari berbagai  aktivitas karena tidak dapat melakukan dengan baik.

SENSORI PROCESSING DIFFICULTIES

Sensory Sensitifity

  • anak pasif / menerima
  • terlalu sensitif terhadap stimulasi sensoris
  • tidak mampu mengurangi input sensoris ke tingkat fungsional untuk belajar

Sensory Avoiding

  • Anak menolak input sensoris
  • Menolak adanya perubahan
  • Menghindari sentuhan dan gerakan

Sensory Seeking

  • Aktif mencari input sensoris
  • Mencari tingkat stimulasi sensoris yang lebih tinggi dibanding seusianya
  • Anak selalu aktif dan mudah terangsang

Poor / Low Registration

  • Anak kurang inisiatif dan cenderung pasif
  • Mudah lelah dan nampak lesu
  • Anak tidak terlibat seperti yang seharusnya di lingkungan]

DISFUNGSI TAKTIL

  •  Tidak menyadari sensasi sentuhan
  •  Sedikit respon terhadap goresan, memar, atau luka
  • Tidak Peduli terhadap perubahan suhu
  • Kegagalan untuk menyadari makanan pedas atau panas
  • Tidak menyadari kondisi cuaca, seperti angin atau hujan
  • Tidak menyadari rasa nyeri orang lain, sering bermain kasar dan menyakiti orang lain secara tidak sengaja.

Gejala stimulasi taktil (sensory seeking)

    • Sangat membutuhkan sentuhan, menggelitik, pijat punggung, dan pelukan
    • Kadang melakukan tindakan mencederai diri, seperti menggigit, mencubit, atau membenturkan kepala
    • Merasa perlu untuk menyentuh dan merasakan segala sesuatu di lingkungan, dimana anak-anak lain memahami untuk tidak menyentuh
    • Memutar rambut dengan jari
    • Suka menyentuh permukaan lembut atau halus
    • Menyukai objek yang bergetar
    • Kadang menjejalkan makanan di mulut saat makan
    • Mempunyai toleransi tinggi untuk panas dan suhu dingin
    • Lebih suka makanan pedas
    • Sering melepas kaus kaki dan sepatu

DISFUNGSI PROPRIOSEPTIF

  • Suka melompat di atas trampolin, gulat dan kegiatan menabrakkan diri
  • Berjalan dengan kaki berat yang terdengar seperti menghentak
  • Menendang lantai atau kursi sambil duduk
  • Lebih menyukai pakaian ketat
  • Suka menggigit atau mengisap jari
  • Menyukai pelukan
  • Kadang menggiling gigi
  • Mungkin memukul, atau mendorong anak-anak lain
  • Suka mengunyah pena, sedotan atau kemeja
  • Melakukan kegiatan dengan tenaga berlebihan (misalnya membanting pintu, meletakkan benda-benda dengan keras)

DISFUNGSI VESTIBULAR

Organ vestibular berada di telinga bagian dalam. Mendeteksi setiap perubahan posisi kepala yang berkaitan dengan keseimbangan dan gerakan. Disfungsi pendengaran juga sering terjadi bersamaan dengan gangguan vestibular, karena keduanya dirasakan dalam sistem telinga. Kemampuan sistem saraf tergantung pada sistem vestibular yang berfungsi dengan benar untuk memproses input sensorik dari semua indera kita. Jika ada disfungsi vestibular, maka semua aspek lain dari sistem saraf akan gagal berfungsi secara akurat juga. Tanda-tanda disfungsi vestibular meliputi perilaku mencari sensorik (sensoty seeking), dan/atau hiper/hipo sensitivitas terhadap gerakan.

  • Disfungsi menyebabkan resistensi terhadap permainan yang bergerak, seperti ayunan, slide atau komidi putar
  • Hasrat melaksanakan tugas dengan bergerak perlahan dan hati-hati
  • Takut ketinggian dan takut jatuh
  • Mudah kehilangan keseimbangan
  • Menghindari tangga, lift, dan eskalator
  • Minta dukungan fisik dari orang dewasa dalam aktivitas

Tanda-tanda Hiposensitif terhadap Gerakan :

  • Tidak menyadari jika dipindahkan
  • Kurangnya motivasi untuk aktif bergerak
  • Bermain ayunan dalam jangka waktu yang lama tanpa merasakan pusing
  • Tidak menyadari sensasi jatuh dan gagal melindungi dirinya sendiri dengan tangan atau kaki

Tanda-tanda perilaku mencari input vestibular :

  • Menyukai wahana taman hiburan
  • Biasanya digambarkan sebagai hiperaktif – selalu berlari, melompat, dan melompat
  • Melibatkan dalam gerakan-gerakan goyang atau ritmis dalam aktivitas
  • Mempunyai masalah untuk duduk diam
  • Kadang menggelengkan kepala dengan keras atau mengayunkan berirama
  • Menyukai gerakan intens termasuk melompat, posisi terbalik
  • Suka berayun sangat tinggi
  • Menyukai jungkat-jungkit, papan jungkat totters atau trampolin lebih dari anak-anak lain
  • Menyukai berputar dalam lingkaran

Tanda-tanda kelemahan tonus otot dan koordinasi:

  • Tubuh lemah
  • Sering duduk dengan posisi “W” ketika di lantai
  • Kadang melewatkan tahap merangkak saat bayi bayi
  • Lemahnya motorik kasar dan keterampilan motorik halus
  • Butuh perjuangan keras untuk meniru gerakan tari dan latihan

GANGGUAN MOTORIK HALUS DAN GANGGUAN LAIN YANG MENYERTAI:

  • Keterampilan motorik halus kurang baik dan punya masalah dalam ADL, seperti menarik resleting celana, mengancingkan baju.
  • Kesulitan menggunakan gunting, pensil, atau krayon.
  • Perlu pemikiran keras untuk menentukan karakteristik fisik dari objek dalam segi bentuk, ukuran, suhu tekstur, atau berat.
  • Mungkin takut gelap.
  • Mempunyai masalah mengidentifikasi objek hanya dengan perasaan mereka.

 

www.growupclinic.com

Supported By: GRoW UP CLINIC JAKARTA Yudhasmara Foundation GRoW UP CLINIC I Jl Taman Bendungan Asahan 5 Bendungan Hilir Jakarta Pusat 10210, phone (021) 5703646 – 44466102 GRoW UP CLINIC II MENTENG SQUARE Jl Matraman 30 Jakarta Pusat 10430, Phone (021) 44466103 – 97730777email : judarwanto@gmail.com http://growupclinic.com http://www.facebook.com/GrowUpClinic Creating-hashtag-on-twitter@growupclinic. Professional Healthcare Provider “GRoW UP CLINIC” Dr Narulita Dewi SpKFR, Physical Medicine & Rehabilitation curriculum vitae HP 085777227790 PIN BB 235CF967 Clinical – Editor in Chief : Dr WIDODO JUDARWANTO, pediatrician email : judarwanto@gmail.com curriculum vitae Creating-hashtag-on-twitter: @WidoJudarwanto www.facebook.com/widodo.judarwanto Mobile Phone O8567805533 PIN BB 25AF7035

“GRoW UP CLINIC” Jakarta Focus and Interest on: *** Allergy Clinic Online *** Picky Eaters and Growup Clinic For Children, Teen and Adult (Klinik Khusus Gangguan Sulit Makan dan Gangguan Kenaikkan Berat Badan)*** Children Foot Clinic *** Physical Medicine and Rehabilitation Clinic *** Oral Motor Disorders and Speech Clinic *** Children Sleep Clinic *** Pain Management Clinic Jakarta *** Autism Clinic *** Children Behaviour Clinic *** Motoric & Sensory Processing Disorders Clinic *** NICU – Premature Follow up Clinic *** Lactation and Breastfeeding Clinic *** Swimming Spa Baby & Medicine Massage Therapy For Baby, Children and Teen ***We are guilty of many errors and many faults. But our worst crime is abandoning the children, neglecting the fountain of life.

Information on this web site is provided for informational purposes only and is not a substitute for professional medical advice. You should not use the information on this web site for diagnosing or treating a medical or health condition. You should carefully read all product packaging. If you have or suspect you have a medical problem, promptly contact your professional healthcare provider

Copyright © 2014, GRoW UP CLINIC Information Education Network. All rights+ reserved

LINK TEREKOMENDASI:

« Older Entries Recent Entries »