Bagaimana Menangani Gangguan Menulis Pada Anak

Penanganan Terkini Gangguan Belajar Disgrafia, Gangguan Menulis Pada Anak

Disgrafia adalah ketidakmampuan dalam menulis, terlepas darikemampuan untuk membaca. Orang dengan disgrafia sering berjuang denganmenulis bentuk surat atau tertulis dalam ruang yang didefinisikan. Hal ini juga bisa disertai dengan gangguan motorik halus.

Disgrafia bersal dari bahasa Yunani berarti kesulitan khusus yang membuat anak sulit untuk menulis atau mengekspresikan pikirannya ke dalam bentuk suatu tulisan dan menyusun huruf-huruf. Penyebab disgrafia disebabkan karena faktor neurologis,yaitu faktor gangguan pada otak kiri depan yang berhubungan dengan kemampuan menulisnya.

Kelainan neurologis ini menghambat kemampuan menulis yang meliputi hambatan secara fisik, seperti tidak dapat memegang pensil dengan mantap ataupun tulisan tangannya buruk. Anak dengan gangguan disgrafia sebetulnya mengalami kesulitan dalam mengharmonisasikan ingatan dengan penguasaan gerak ototnya secara otomatis saat menulis huruf dan angka.

Kesulitan dalam menulis biasanya menjadi problem utama dalam rangkaian gangguan belajar, terutama pada anak yang berada di tingkat SD. Kesulitan dalam menulis seringkali juga disalahpersepsikan sebagai kebodohan oleh orang tua dan guru. Akibatnya, anak yang bersangkutan frustrasi karena pada dasarnya ia ingin sekali mengekspresikan dan mentransfer pikiran dan pengetahuan yang sudah didapat ke dalam bentuk tulisan. Hanya saja ia memiliki hambatan.

Sebagai langkah awal dalam menghadapinya, orang tua harus paham bahwa disgrafia bukan disebabkan tingkat intelegensi yang rendah, kemalasan, asal-asalan menulis, dan tidak mau belajar. Gangguan ini juga bukan akibat kurangnya perhatian orang tua dan guru terhadap si anak, ataupun keterlambatan proses visual motoriknya

Sebuah penelitian di Amerika melaporkan, kasus kesulitan belajar yang terkait ketidakmampuan menulis (disgrafia) lebih banyak ditemui pada anak laki-laki. Berkebalikan dengan kesulitan membaca seperti disleksia yang telah banyak diteliti, penelitian tentang kesulitan menulis masih sangat minim, sehingga angka kasusnya juga tidak jelas. Pada penelitian terbaru yang melibatkan lebih dari 5700 anak, diketahui bahwa sekitar 7-15 persen dari jumlah tersebut mengalami gangguan baca-tulis semasa duduk di bangku sekolah. Persentase ini bervariasi, tergantung kriteria yang dipakai untuk mendiagnosis masalah ini. Anak laki-laki kecenderungannya 2-3 kali lebih berisiko terdiagnosis ketidakmampuan membaca dibanding anak wanita, apa pun jenis kriteria diagnosis yang dipakai.

Tanda dan gejala Disgrafia

Gejala disgrafia biasanya anak mengalami kesulitan dalam menulis bahkan tidak dapat menulis dengan baik padahal untuk anak seusia nya sudah mampu untuk menulis menulis dengan baik.Tanda ini juga dapat terlihat dengan cara anak untuk menulis,biasanya anak juga sangat sulit untuk memahami suatu pertanyaan karena lemahnya dalam pemahamannya. Tanda lain adalah biasanya si anak dalam menulis mereka mencampur antara huruf besar dengan huruf kecil dan posisi menulis mereka juga tidak konsisten.

Tanda dan gejala Disgrafia:

  • Terdapat ketidakkonsistenan bentuk huruf dalam tulisannya;
  • Saat menulis, penggunaan huruf besar dan huruf kecil masih tercampur;
  • Ukuran dan bentuk huruf dalam tulisannya tidak proporsional;
  • Anak tampak harus berusaha keras saat mengomunikasikan suatu ide, pengetahuan, atau pemahamannya lewat tulisan;
  • Sulit memegang bolpoin maupun pensil dengan mantap — caranya memegang alat tulis sering kali terlalu dekat, bahkan hampir menempel dengan kertas;
  • Berbicara pada diri sendiri ketika sedang menulis, atau malah terlalu memerhatikan tangan yang dipakai untuk menulis;
  • Cara menulis tidak konsisten, tidak mengikuti alur garis yang tepat dan proporsional; dan
  • Tetap mengalami kesulitan meskipun hanya diminta menyalin contoh tulisan yang sudah ada.

Gangguan Belajar (Learning Disorder) adalah suatu gangguan neurologis yang mempengaruhi kemampuan untuk menerima, memproses, menganalisis atau menyimpan informasi. Anak dengan Gangguan Belajar mungkin mempunyai tingkat intelegensia yang sama atau bahkan lebih tinggi dibandingkan dengan teman sebayanya, tetapi seringberjuang untuk belajar secepat orang di sekitar mereka. Masalah yang terkait dengan kesehatan mental dan gangguan belajar yaitu kesulitan dalam membaca, menulis, mengeja, mengingat, penalaran, serta keterampilan motorik dan masalah dalam matematika.

Pengertian gangguan belajar secara bahasa adalah masalah yang dapat mempengaruhi kemampuan otak dalam menerima, memproses, menganalisis dan menyimpan informasi. Sedangkan pengertian yang diberikan oleh National Joint Committee for Learning Disabilities (NJCLD) mengenai gangguan belajar adalah suatu kumpulan dengan bermacam-macam gangguan yang mengakibatkan kesulitan dalam mendengar, berbicara, menulis, menganalisis, dan memecahkan persoalan.

Gangguan belajar termasuk klasifikasi beberapa gangguan fungsi di mana seseorang memiliki kesulitan belajar dengan cara yang khas, biasanya disebabkan oleh faktor yang tidak diketahui. Istilah Ketidakmampuan belajar dan gangguan belajar sering digunakan secara bergantian, keduanya berbeda. Ketidakmampuan belajar adalah ketika seseorang memiliki masalah belajar yang signifikan di bidang akademis. Masalah-masalah ini, bagaimanapun, tidak cukup untuk menjamin diagnosis resmi. Gangguan belajar, di sisi lain, adalah diagnosis klinis resmi, dimana individu memenuhi kriteria tertentu, sebagaimana ditentukan oleh seorang profesional (psikolog, dokter anak, dll) Perbedaannya adalah dalam tingkat, frekuensi, dan intensitas gejala yang dilaporkan dan masalah, dan dengan demikian keduanya tidak boleh bingung.

Faktor yang tidak diketahui adalah gangguan yang mempengaruhi kemampuan otak untuk menerima dan memproses informasi. Gangguan ini bisa membuat masalah bagi seseorang untuk belajar dengan cepat atau dalam cara yang sama seperti seseorang yang tidak terpengaruh oleh ketidakmampuan belajar. Orang dengan ketidakmampuan belajar mengalami kesulitan melakukan jenis tertentu keterampilan atau menyelesaikan tugas jika dibiarkan mencari hal-hal dengan sendirinya atau jika diajarkan dengan cara konvensional.

Beberapa bentuk ketidakmampuan belajar tidak dapat disembuhkan. [Rujukan?] Namun, dengan tepat kognitif / akademik intervensi, ternyata dapat diatasi [rujukan?] Individu dengan ketidakmampuan belajar dapat menghadapi tantangan unik yang sering meresap selama kehidupan.. Tergantung pada jenis dan tingkat keparahan kecacatan, intervensi dapat digunakan untuk membantu individu mempelajari strategi yang akan mendorong kesuksesan di masa mendatang. Beberapa intervensi bisa sangat sederhana, sementara yang lain yang rumit dan kompleks. Guru dan orang tua akan menjadi bagian dari intervensi dalam hal bagaimana mereka membantu individu dalam berhasil menyelesaikan tugas yang berbeda. Psikolog sekolah cukup sering membantu untuk merancang intervensi, dan mengkoordinasikan pelaksanaan intervensi dengan guru dan orang tua. Dukungan sosial meningkatkan pembelajaran bagi siswa dengan ketidakmampuan belajar.

Hal ini tidak berarti anak memiliki tingkat kecerdasan yang rendah. Untuk mengetahui apakah anak sedang mengalami kesulitan dalam belajar bisa dilihat dari waktu yang dibutuhkan dalam memahami suatu persoalan di buku. Dan untuk mengetahui seberapa besar kemampuan otak anak dalam mengalahkan kesulitan belajarnya bisa dilihat dari hasil tes IQnya.

Anak-anak dengan Learning Disorder yang tidak di terapi, akan mempengaruhi kepercayaan diri mereka. Mereka berusaha lebih daripada teman-teman mereka, tetapi tidak mendapatkan pujian atau reward dari guru atau orang tua. Demikian pula, Learning Disorderyang tidak di terapi dapat menyebabkan penderitaan psikologis yang besar untuk orang dewasa.

Penanganan La

  • Mengidentifikasi masalah disgrafia, terdiri dari: masalah penggunaan huruf kapital, ketidakkonsistenan bentuk huruf, alur yang tidak stabil (tulisan naik turun) dan ukuran dan bentuk huruf tidak konsisten.
  • Menentukan ZPD pada masing-masing masalah tersebut. ZPD untuk kesalahan penggunaan huruf kapital. ZPD untuk ketidakkonsistenan bentuk huruf. ZPD untuk ketidakkonsistenan ukuran huruf. ZPD untuk ketidakstabilan alur tulisan.
  • Merancang program pelatihan dengan teknik scaffolding. Teknik scaffolding dalam pelatihan ini meliputi tahapan sebagai berikut.
  1. Memberikan tugas menulis kalimat yang didiktekan orang tua/guru.
  2. Bersama-sama dengan siswa mengidentifikasi kesalahan tulisan mereka.
  3. Menjelaskan mengenai pelatihan dan ZPD masing-masing permasalahan.
  4. Menjelaskan kriteria penulisan yang benar dan meminta anak menyatakan kembali kriteria tersebut.
  5. Memberikan latihan menulis dengan orang tua/guru memberikan bantuan.
  6. Mengevaluasi hasil pekerjaan siswa bersama-sama dengan anak.
  7. Memberikan latihan menulis dengan mengurangi bantuan terbatas pada kesalahan yang banyak dilakukan anak.
  8. Mengevaluasi hasil pekerjaan bersama-sama dengan anak.
  9. Memberikan latihan menulis tanpa bantuan orang tua/guru.
  10. Mengevaluasi pekerjaan anak.
  • Pahami potensi dan kondisi anak Terutama bagi orang tua dalam menghadapi hal ini hendaknya orang tua mampu memahami potensi anak dann kemampuannya,jangan kita beranggapan anak yang mengalami masalah ini lalu langsung memvonis bahwa si anak bodoh atau malas.Tapi orang tua harus mampu membangkitkan kemampuan dan semangat si anak agar tidak kalah dengan teman-temannya.Orang tua tetap mensupport dan membimbingya dan terus melatih kemampuan menulisnya.
  • Menggunakan alat elektronik Cara lain yang dapat dilakukan oleh orang tua adalah memberikan alat bantu elektronik kepada anak seperti Komputer ,lapto,atau notebook.Dengan menggunakan alat-alat tersebut si anak akan lebih mudah memahami kesalahan-kesalahannya dalam melakukan latihan menulis.
  • Melatih menulis anak Cara yang lain yang lebih baik adalah melatih anak untuk terus menulis secara bertahap dan usahakan agar anak tidak bosan dengan kegiatan tersebut.Adapun cara agar anak tidak mudah bosan untuk menulis adalah usahakan anak untuk menulis sesuatu yang dia sukai seperti menulis apa hal yang paling dia suka,hal yang sering dia lihat dan lainya.

Referensi

  • “What are Learning Disabilities?”. The National Center for Learning Disabilities. 4 March 2009. http://www.ncld.org/ld-basics/ld-explained/basic-facts/what-are-learning-disabilities. Retrieved 9 July 2012.
  • Rourke, B. P. (1989). Nonverbal learning disabilities: The syndrome and the model. New York: Guilford Press.
  • Gallego, Margaret A., Grace Zamora Durán, and Elba I. Reyes. 2006. “It Depends: A Sociohistorical Account of the Definition and Methods of Identification of Learning Disabilities.” Teachers College Record 108(11):2195-2219.
  • Reid, D. Kim and Jan Weatherly Valle. 2004. “The Discursive Practice of Learning Disability: Implications for Instruction and Parent-School Relations.” Journal of Learning Disabilities 37(6):466-481.
  • Carrier, James. 1986. Learning Disability: Social Class and the Construction of Inequality in American Education. New York, NY: Greenwood Press.
  • Dudley-Marling, Curt. 2004. “The Social Construction of Learning Disabilities.” Journal of Learning Disabilities 37(6):482-489.
  • Ho, Anita. 2004. “To be Labeled, or Not to be Labeled: That is the Question.” British Journal of Learning Disabilities 32(2):86-92.
  • Williams, Val and Pauline Heslop. 2005. “Mental Health Support Needs of People with a Learning Difficulty: A Medical or a Social Model?” Disability & Society 20(3):231-245.
  • Baron, Stephen, Sheila Riddell, and Alastair Wilson. 1999. “The Secret of Eternal Youth: Identity, Risk and Learning Difficulties.” British Journal of Sociology of Education 20(4):483-499.
  • Carrier, James G. 1983. “Explaining Educability: An Investigation of Political Support for the Children with Learning Disabilities Act of 1969.” British Journal of Sociology of Education 4(2):125-140.

Artikel Terkait lainnya

.

www.growupclinic.com

Supported By:

GRoW UP CLINIC JAKARTA Yudhasmara Foundation GRoW UP CLINIC I Jl Taman Bendungan Asahan 5 Bendungan Hilir Jakarta Pusat 10210, phone (021) 5703646 – 44466102 GRoW UP CLINIC II MENTENG SQUARE Jl Matraman 30 Jakarta Pusat 10430, Phone (021) 44466103 – 97730777email : judarwanto@gmail.com   http://growupclinic.com http://www.facebook.com/GrowUpClinic Creating-hashtag-on-twitter@growupclinic
“GRoW UP CLINIC” Jakarta Focus and Interest on: *** Allergy Clinic Online *** Picky Eaters and Growup Clinic For Children, Teen and Adult (Klinik Khusus Gangguan Sulit Makan dan Gangguan Kenaikkan Berat Badan)*** Children Foot Clinic *** Physical Medicine and Rehabilitation Clinic *** Oral Motor Disorders and Speech Clinic *** Children Sleep Clinic *** Pain Management Clinic Jakarta *** Autism Clinic *** Children Behaviour Clinic *** Motoric & Sensory Processing Disorders Clinic *** NICU – Premature Follow up Clinic *** Lactation and Breastfeeding Clinic *** Swimming Spa Baby & Medicine Massage Therapy For Baby, Children and Teen ***
Professional Healthcare Provider “GRoW UP CLINIC” Dr Narulita Dewi SpKFR, Physical Medicine & Rehabilitation curriculum vitae HP 085777227790 PIN BB 235CF967  Clinical – Editor in Chief : Dr WIDODO JUDARWANTO, pediatrician email : judarwanto@gmail.com curriculum vitae Creating-hashtag-on-twitter: @WidoJudarwanto www.facebook.com/widodo.judarwanto Mobile Phone O8567805533 PIN BB 25AF7035

We are guilty of many errors and many faults. But our worst crime is abandoning the children, neglecting the fountain of life.
Information on this web site is provided for informational purposes only and is not a substitute for professional medical advice. You should not use the information on this web site for diagnosing or treating a medical or health condition. You should carefully read all product packaging. If you have or suspect you have a medical problem, promptly contact your professional healthcare provider

Copyright © 2013, GRoW UP CLINIC Information Education Network. All rights reserved
Tentang iklan-iklan ini

Tentang GrowUp Clinic

In 1,000 days Your Children, You can change the future. Our Children Our Future
Tulisan ini dipublikasikan di Kesehatan Anak Perkembangan-Perilaku dan tag , , , , . Tandai permalink.

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s