Pubertas Dini, Permasalahan dan Penanganannya

Jumlah anak yang mengalami pubertas dini diukur dari perkembangan payudara dan bulu pubis, menurut laporan terus meningkat dalam beberapa tahun terakhir. Pada 1970, rata-rata usia anak saat mendapatkan menstruasi pertama adalah 11,5. Tiga puluh tahun kemudian, turun menjadi 10. Perkembangan payudara bahkan sudah mulai satu atau dua tahun sebelum menstruasi pertama.

Pubertas Prekoks adalah suatu keadaan dimana masa pubertas anak terjadi lebih awal pada umumnya, yaitu sekitar umur 9-14 tahun pada anak perempuan dan usia 10-17 tahun pada anak laki-laki. Kondisi ini terjadi dipicu oleh otak secara spontan atau dikarenakan pengaruh bahan kimia dari luar tubuh dan biasanya proses ini dimulai diakhir-akhir masa kanak-kanak (kurang dari umur 9 tahun) dengan ditandai munculnya tanda-tanda kematangan organ reproduksi lebih awal dan telah berakhirnya masa pertumbuhan. Pubertas yang lebih awal ini bisa merupakan bagian dari variasi perkembangan normal seseorang, namun bisa pula merupakan penyakit atau paparan hormon pertumbuhan yang tidak normal.

Penelitian-penelitian yang telah dilakukan menunjukkan bahwa semakin awal perempuan memasuki masa pubertas, resiko mereka mengalami gangguan kesehatan fisik dan mental juga semakin besar. Sedang sebagain besar perempuan yang mengalami masa puber yang ‘normal’ tidak mengalami efek negatif tersebut.

Pubertas merupakan awal dari kematangan seksual yaitu ketika terjadi perubahan fisik, hormonal, dan seksual yang telah mampu untuk bereproduksi. Pubertas merupakan suatu proses yang alamiah dan pasti dialami oleh semua manusia dimana terjadi perubahan fisik dari tubuh anak-anak menjadi bertubuh layaknya orang dewasa dan telah memiliki kemampuan bereproduksi. Keadaan ini diinisiasi oleh sistem hormon dari otak yang menuju ke gonad (ovarium dan testes) dan meresponnya dengan menghasilkan berbagai hormon yang menstimulasi pertumbuhan dan perkembangan, fungsi atau transformasi dari otak, tulang, otot, kulit, payudara, menstruasi dan organ-organ reproduksi lainnya, seperti organ genitalia (penis dan vagina) dan organ seksual sekunder lainnya (rambut pubis). Proses ini juga menandai peningkatan kematangan psikologis manusia secara sosial yang disebut telah menjadi seseorang remajaPubertas ditandai dengan pembesaran buah zakar (testis) diikuti pembesaran penis, pembesaran payudara pada wanita, tumbuhnya rambut pada kemaluan, menstruasi, bau badan serta pertumbuhan tinggi badan yang meningkat. Disebut pubertas dini yaitu jika anak mulai menunjukkan tanda-tanda pubertas sebelum memasuki usia pubertas anak-anak pada umumnya.

Pubertas merupakan fase transisi di mana terjadi perubahan dari masa anak-anak menuju dewasa. Di fase ini, tubuh disiapkan untuk menjadi dewasa dengan terjadinya perubahan pada fisik, hormon dan mental. Tapi beberapa faktor dapat menyebabkan anak mengalami pubertas lebih awal. Secara umum, tanda awal pubertas yang normal mulai muncul pada anak perempuan pada usia 8-13 tahun, sedangkan pada anak laki-laki pada usia 9-14 tahun.

Perubahan hormon dalam tubuh dapat mempengaruhi struktur tubuh. Dan tentu saja ada dampak buruk dari pubertas dini pada anak. Pubertas dini pada anak perempuan sering disebabkan oleh gangguan hormon di otak, yaitu di hipotalamus dan hipofise, sedangkan pada anak laki-laki karena tumor. Pubertas yang timbul lebih awal tidak hanya ditandai dengan pertumbuhan tubuh yang besar dan lebih cepat tinggi, tapi tulang juga akan cepat menutup. Bila seorang remaja mengalami pubertas dini, awalnya pertumbuhan badannya akan lebih tinggi, tapi karena tulangnya menutup lebih cepat maka tubuhnya pada akhirnya akan menjadi lebih pendek dari anak lain yang mengalami pubertas normal.

Terlalu cepat pubertas juga akan menyebabkan hormon meningkat dan menjadikan anak menjadi “lebih cepat dewasa”, padahal secara mental anak belum siap untuk dewasa. Bila anak mulai mengenal dan menyenangi lawan jenis, ketidaksiapan mental ini dikuatirkan dapat menimbulkan peristiwa yang tidak diharapkan akibat dorongan hormonal tersebut.

Tidak hanya secara psikologi dan pertumbuhan badan, pubertas dini juga dapat meningkatkan resiko kanker dan tumor di kemudian hari. Pada anak perempuan dapat memicu kanker payudara. Pubertas dini meningkatkan resiko kanker dan tumor karena tingkat hormon estrogen, progesteron (pada wanita) dan testosteron (pada pria) dapat memicu beberapa tumor menjadi ganas.

Epidemiologi

Dari berbagai sumber seluruhnya menyatakan bahwa insiden Pubertas Prekoks dominan terjadi pada anak-anak perempuan dibandingkan laki-laki. Hal ini dimungkinkan karena Pubertas Prekoks membawa sifat genetik yang autosomal dominan dan lebih sering akibat paparan hormon estrogen dini pada usia bayi. Untuk anak perempuan sering diakibatkan etiologi yang idiopatik dan sebaliknya pada anak laki-laki secara signifikan terbanyak diakibatkan adanya penyakit pada otak

Manifestasi Klinis: Tanda dan gejala

Pada anak perempuan, maka tanda-tanda klinis bila dialami pada usia kurang dari 9 tahun, antara lain :

  • Payudara membesar.
  • Tumbuhnya rambut pubis dan rambut tipis pada lengan bawah.
  • Bertambah tinggi dengan cepat.
  • Mulainya menstruasi.
  • Tumbuh jerawat.
  • Munculnya bau badan.

Pada anak laki-laki, tanda-tanda terjadinya Pubertas Prekoks akan muncul saat umur kurang dari 10 tahun meliputi :

  • Pembesaran testis dan penis.
  • Tumbuhnya rambut pubis, lengan bawah dan wajah.
  • Peningkatan tinggi dengan cepat.
  • Suara memberat
  • Tumbuh jerawat
  • Munculnya bau badan

Banyak anak yang menunjukkan gejala pubertas lebih awal yang dikenal sebagai Pubertas Prekoks parsial. Beberapa anak perempuan umumnya mulai muncul keluhan diantara umur 6 bulan dan 3 tahun dengan ditandai terjadinya pembesaran payudara yang kemudian akan berhenti atau akan tetap bertahan tanpa perubahan fisik.

Penyebab

Hingga saat ini penyebab dari Pubertas Prekoks masih belum diketahui secara pasti. Beberapa hal internal yang dapat menyebabkan terjadinya Pubertas Prekoks adalah gangguan organ endokrin, genetika keluarga (autosomal dominan), abnormalitas genetalia (gangguan organ kelamin), penyakit pada otak, dan tumor yang menghasilkan hormon reproduksi. Namun disamping itu, terdapat faktor psikologis (emosi) dan stressor lingkungan ekternal yang cukup memegang peranan.

Pada dasarnya konsep paparan hormon yang paling sering digunakan untuk menjelaskan penyebab kejadian Pubertas Prekoks pada anak-anak. Sebuah penelitian pernah menyatakan bahwa seorang anak perempuan yang gemuk atau memiliki body mass index (BMI) bernilai obesitas seringkali menunjukkan ciri-ciri fisik terjadinya pubertas dini. Penelitian lain mengungkapkan zat Bisphenol-A (BPA) yang merupakan bahan baku pembuatan barang-barang dari plastik dan sering digunakan oleh bayi maupun anak kecil (dot atau botol plastik) dapat menstimulus peningkatan kadar hormon estrogen yang pada akhirnya dapat memicu terjadinya Pubertas Prekoks

Sentral

  • Kerusakan yang membuat gangguan sistem di otak (bisa karena infeksi, trauma, or irradiation. Dapat disebabkan intracranial neoplasm, infection, trauma, hydrocephalus, and Angelman syndrome
  • hypothalamic hamartoma produces pulsatile gonadotropin-releasing hormone (GnRH)
  • Langerhans cell histiocytosis
  • McCune-Albright syndrome

Jika penyebab tidak dapat diidentifikasi dianggap sebagai idiopathic atau konstitutional.

Peripheral

Secondary sexual development induced by sex steroids from other abnormal sources is referred to as peripheral precocious puberty or precocious pseudopuberty. It typically presents as a severe form of disease with children. Gejala biasanya disebabkan karena gangguan dari adrenal insufficiency akibat  21-hydroxylase deficiency or 17 hydroxylase. Disertai gejala hypotension, gangguan elektrolit, ambiguous genitalia, tanda  virilization in females. Pada pemeriksaan darah terdapat kadar tinggi androgens dan kadar rendah cortisol.

  • Penyebab Endogen
    • gonadal tumors (such as arrhenoblastoma)
    • adrenal tumors
    • germ cell tumor
    • congenital adrenal hyperplasia
    • McCune–Albright syndrome
  • Penyebab hormon Exogen
    • Environmental exogenous hormones
    • As treatment for another condition

Faktor Resiko

  • Jenis kelamin perempuan.
  • Umumnya pada ras Afrika-Amerika.
  • Terpapar hormon seksual (kosmetik ataupun makanan).
  • Obesitas, karena obesitas mengganggu sistem endokrin sehingga anak perempuan yang montok cenderung mengalami pubertas dini. Di lain pihak, obesitas juga dapat dipicu karena pubertas dini, sehingga membuat fenomena ini semakin kompleks.
    Penelitian terhadap hubungan antara berat badan dan pubertas dini pada anak telah dilakukan dalam waktu yang lama. Laporan medis dari University of Michigan Health System telah meyakinkan bahwa anak perempuan yang kelebihan berat badan lebih mungkin untuk memasuki pubertas dini.
  • Penyimpangan hormon Beberapa kondisi medis yang mempengaruhi hormon dapat menyebabkan pubertas dini pada anak laki-laki dan perempuan. Meskipun jarang, McCune-Albright Syndrome, hiperplasia adrenal kongenital dan tiroid dapat membuat penyimpangan hormonal yang menyebabkan pubertas dini. Selain itu, anak laki-laki dengan kelebihan produksi hormon seks pria, seperti testosteron, juga dapat mengalami pubertas dini.
  • Genetik
    Gen juga dikenal memainkan peran dalam penyebab pubertas dini pada anak. Laporan Kidshealth menyebutkan bahwa 5 persen dari anak laki-laki yang mengalami pubertas prekoks mewarisi kondisi dari ayah atau kakek ibu, yang juga mengalami pubertas dini. Sedangkan pada anak perempuan hanya 1 persen.
  • Penyakit
    Sejumlah masalah medis, meskipun jarang, juga dapat menyebabkan pubertas dini, antara lain cacat atau kelainan di otak atau sumsum tulang belakang; infeksi ensefalitis dan meningitis; radiasi ke otak atau sumsum tulang belakang; spina bifida dengan hidrosefalus, dan masalah di indung telur atau kelenjar tiroid.
  • Penderita alergi. Dari 20,992 penderita alergi dilaporkan sekitar 0,02% mengalami Pubertas Praecox.
  • Zat kimia pengganggu sistem endokrin. Terpapar zat kimia secara teratur juga turut berperan dalam mempercepat pubertas pada anak. Zat kimia ini seringkali berasal dari kosmetik, sampo, produk pembersih, botol bayi dan mainan anak-anak.
    Penelitian telah membuktikan bahwa racun dari lingkungan dapat mempengaruhi hormon dan menyebabkan pubertas prekoks atau pubertas dini. Studi yang dilakukan Dr Maria Wolff dan rekannya dari Mount Sinai School of Medicine, menemukan bahwa efek bahan kimia tertentu yang ditemukan dalam berbagai macam produk sehari-hari, seperti cat kuku, kosmetik, parfum, lotion dan shampoo, menunjukkan hubungan langsung dengan pertumbuhan dini payudara dan pengembangan rambut kemaluan pada anak perempuan
  • Kelahiran prematur dan berat badan lahir rendah. Kedua faktor ini mengubah fungsi endokrin sehingga meningkatkan resiko pubertas dini. Selain itu paparan zat kimia dari ibu hamil secara langsung dapat mengganggu perkembangan anak, dalam beberapa kasus memicu kelahiran prematur dan berat lahir rendah.
  • Tekanan psikososial, hal ini termasuk ketidakhadiran ayah dalam keluarga dan disfungsi keluarga dapat mengganggu sistem endokrin, salah satu faktor pemicu pubertas dini.
  • Susu formula. Memberikan ASI eksklusif ditenggarai dapat mencegah pubertas dini karena menyumbangkan lebih sedikit kalori dibandingkan susu formula dan menawarkan hormon-hormon dan faktor pertumbuhan lain yang melindungi dari pubertas dini. Semakin lama Anda menyusui, semakin sedikit bayi terpapar fitoestrogen dan xenoestrogen. Kedua komponen ini terkandung dalam susu formula kedelai dan produk susu non organik. Selain itu bayi juga terhindar dari komponen phthalates dan bisphenol A yang terkandung dalam botol bayi.
  • Kurangnya aktivitas fisik. Postur kurus dan olahraga ditenggarai dapat mencegah pubertas dini. Oleh karena itu anak harus diajak berolahraga sejak dini. Olahraga selain mengurangi kemungkinan obesitas juga membantu mempertahankan keseimbangan hormon dengan cara menurunkan kadar estrogen.
  • Pola makan yang salah. Mengkonsumsi junk food dan makanan cepat saji ditenggarai dapat memicu pubertas dini. Melakukan diet seimbang yang kaya whole grain, buah serta sayuran segar dan produk hewan dalam jumlah sedang membantu melawan obesitas dan mempertahankan keseimbangan hormon.
  • Penyakit genetik ataupun gangguan metabolik. Pubertas prekoks banyak ditemui pada pasien dengan sindrom McCune-Albright atau Hiperplasia Adrenal Kongenital, yaitu suatu kondisi perkembangan abnormal dari produksi hormon androgen pada laki-laki. Pada kasus yang jarang, Pubertas Prekoks memiliki hubungan dengan kejadian hipotiroidism

Diagnosis

  • Pemeriksaan penunjang laboratorium, maka dilakukan tes kadar hormon LH dan FSH basal, uji GnRH terstimulasi, esterogen dan progesterone serum, β-HCG, 17-OH progesteron, estradiol dan beberapa pemeriksaan hormonal lainnya atas indikasi.
  • Pemeriksaan radiologis diagnostik,  pencitraan umur tulang dan survey tulang (McCune-Albright),
  • CT Scan atau MRI untuk mencari etiologi dilakukan CT-Scan/MRI kepala dan USG pelvis/adrenal.

Penanganan

Mengobati atau menghentikan pubertas dini dapat dilakukan dengan mencari tahu terlebih dahulu apa yang menjadi penyebabnya. Pubertas dini berdasarkan penyebabnya dibagi menjadi dua, yaitu:

  • Pubertas prekoks sentral, melibatkan semua hormon di otak. Untuk mengatasinya, anak akan diberi hormon antagonis yang bertujuan untuk menghambat pubertas. Kebanyakan anak dengan Pubertas Prekoks sentral tidak disertai penyakit lainnya. Terapinya dinamakan GnRH analogue yang biasanya terdiri dari suntikan bulanan berupa leuprolide yang menghentikan aksis HPG dan menghambat perkembangan. Terapi tersebut dilanjutkan hingga pasien mencapai umur pubertas normal yang sesuai. Apabila mereka lupa atau menghentikan pengobatan, maka proses pubertas akan dimulai lagi.
  • Pubertas prekoks perifer, yang hanya melibatkan tempat tertentu, biasanya karena tumor. Untuk mengatasinya, maka tumor harus diangkat atau diobati apa yang menjadi penyebabnya. Tujuannya adalah melakukan penanganan pada penyakit yang mendasari timbulnya Pubertas Prekoks ; misalnya karena konsumsi obat, maka obat tersebut dihentikan ; contohnya pada tumor, maka segera lakukan pembedahan reseksi tumor agar menghentikan agresifitas pubertas.

Dampak

Setiap orangtua harus lebih waspada terhadap dampak negatif yang mungkin ditimbulkan dari kasus pubertas dini pada anak-anak mereka. Pendampingan orangtua sangat dibutuhkan oleh remaja dalam perjalanan mereka menuju tahap kedewasaan, dan hal itu harus dimulai pada saat mereka mulai mengalami tanda-tanda pubertas.

Para remaja haruslah dibekali pengetahuan yang cukup sehingga mereka paham akan konsekuensi dari pergaulan atau saat berinteraksi dengan lawan jenis. Dalam hal ini, orangtua sebaiknya mempersiapkan bekal terbaik bagi anak-anak untuk siap menghadapi hal itu daripada berusaha menjauhkan mereka dari lingkungan pergaulannya.

  • Kanker payudara Tidak hanya secara psikologis dan pertumbuhan badan, pubertas dini juga dapat meningkatkan risiko kanker dan tumor di kemudian hari, karena tingkat hormon estrogen, progesteron (pada perempuan) dan testosteron (pada laki-laki) dapat memicu beberapa tumor yang bisa menjadi ganas. Pubertas dini dikenal sebagai salah satu faktor resiko kanker payudara. Semakin muda perempuan mendapatkan menstruasi pertama, resiko menderita kanker payudara di usia selanjutnya juga semakin besar. Perempuan yang mendapatkan menstruasi pertama sebelum usia 12 beresiko 50 persen lebih besar menderita kanker payudara dibandingkan mereka yang mendapatkan menstruasi di usia 16. Hubungan antara pubertas awal dengan kanker payudara, masih belum jelas. Akan tetapi, hal ini dikaitkan dengan peningkatan paparan estrogen yang meningkatkan resiko kanker payudara. Selain itu, pubertas dini memperpanjang rentang resiko perkembangan payudara antara menstruasi pertama dengan kehamilan pertama.
  • Gangguan pertumbuhan Pubertas awal juga dikaitkan dengan penuaan tulang. Artinya, anak perempuan usia enam tahun kemungkinan memiliki struktur tulang seperti anak usia delapan atau sembilan tahun. Akibat bila seorang remaja mengalami pubertas dini, awalnya pertumbuhan badannya akan lebih tinggi, tetapi karena tulang menutup lebih cepat maka menyebabkan tubuhnya lebih pendek dari teman lainnya yang mengalami pubertas normal.Meskipun mereka sedikit lebih tinggi dibandingkan anak dengan perkembangan lebih lambat, anak perempuan yang mengalami pubertas dini pada akhirnya cenderung lebih pendek. Pasalnya, setelah pertumbuhan awal memuncak, pubertas akan memicu tubuh untuk menghentikan pertumbuhan dan mulai melebar ke samping. Anak perempuan dengan perkembangan yang lebih lambat memiliki lebih banyak waktu untuk tumbuh tinggi dibandingkan perempuan rata-rata yang mengalami pubertas dini.
  • Gangguan perkembangan otak Pubertas, seperti diuraikan di situs hubpages.com, juga memperlambat dan akhirnya memicu penghentian perkembangan otak. Anak perempuan yang mengalami pubertas dini memiliki lebih sedikit waktu untuk mengembangkan potensi fisik mereka sebelum pertumbuhan berhenti.
  • Depresi, kecemasan dan stres Menjadi beda dengan teman sebaya dipadukan dengan perubahan mood terkait pubertas membuat banyak anak perempuan yang mengalami pubertas dini menjadi stres. Mereka memerlukan lebih banyak dukungan emosional dari orangtua, guru, serta orang terdekat lainnya.
  • Pelecehan seksual Anak perempuan yang mengalami pubertas dini seringkali menjadi objek pelecehan seksual oleh teman sekolah mereka. Hal ini tentunya bisa memperburuk masalah depresi, kecemasan dan gangguan mental lainnya.
  • Perkembangan seksual sebelum waktunya Anak perempuan dengan pubertas dini lebih sering menjadi target anak lelaki yang lebih tua dan bahkan laki-laki dewasa dibandingkan anak perempuan dengan perkembangan yang lebih lambat. Selain itu, mereka juga harus mengendalikan perasan seksual mereka sendiri lebih awal. Anak perempuan dengan pubertas awal cenderung terlibat aktivitas seksual lebih awal, sehingga meningkatkan resiko kehamilan remaja atau penyakit menular seksual
  • Psikologis belum siap Bila terlalu cepat mengalami pubertas maka hormonnya akan tinggi dan itu akan menjadikan anak ‘dewasa lebih cepat’, padahal mentalnya belum siap menjadi dewasa.

Pencegahan

  • Batasi waktu menonton anak. Alihkan kegiatan mereka ke aktivitas lain yang lebih menyenangkan dan edukatif. Berikan permainan, buku bacaan serta tontonan yang sesuai dengan umurnya. Dampingilah si buah hati ketika menonton televisi. Bersikaplah terbuka ketika si anak bertanya tentang hal-hal “dewasa”. Berikan jawaban yang mudah diterima oleh pemahaman mereka. Jangan malah ditutup-tutupi hingga anak mencari jawaban itu sendiri dengan cara bertanya ke orang lain atau mencarinya di internet.
  • Bersikap terbuka. Biasakanlah diskusi setiap hari tentang bagaimana sekolah hari ini. Apa ada masalah di sekolah? Apa ada masalah dengan teman? Jadilah sosok yang bisa dipercaya oleh si anak. Kebanyakan orang tua biasanya marah duluan sebelum mendengarkan penjelasan si anak. Karenanya banyak anak yang lebih terbuka pada temannya daripada orangtua.

Referensi

.

www.growupclinic.com

Supported By:

GRoW UP CLINIC JAKARTA Yudhasmara Foundation GRoW UP CLINIC I Jl Taman Bendungan Asahan 5 Bendungan Hilir Jakarta Pusat 10210, phone (021) 5703646 – 44466102 GRoW UP CLINIC II MENTENG SQUARE Jl Matraman 30 Jakarta Pusat 10430, Phone (021) 44466103 – 97730777email : judarwanto@gmail.com   http://growupclinic.com http://www.facebook.com/GrowUpClinic Creating-hashtag-on-twitter@growupclinic
“GRoW UP CLINIC” Jakarta Focus and Interest on: *** Allergy Clinic Online *** Picky Eaters and Growup Clinic For Children, Teen and Adult (Klinik Khusus Gangguan Sulit Makan dan Gangguan Kenaikkan Berat Badan)*** Children Foot Clinic *** Physical Medicine and Rehabilitation Clinic *** Oral Motor Disorders and Speech Clinic *** Children Sleep Clinic *** Pain Management Clinic Jakarta *** Autism Clinic *** Children Behaviour Clinic *** Motoric & Sensory Processing Disorders Clinic *** NICU – Premature Follow up Clinic *** Lactation and Breastfeeding Clinic *** Swimming Spa Baby & Medicine Massage Therapy For Baby, Children and Teen ***
Professional Healthcare Provider “GRoW UP CLINIC” Dr Narulita Dewi SpKFR, Physical Medicine & Rehabilitation curriculum vitae HP 085777227790 PIN BB 235CF967  Clinical – Editor in Chief : Dr WIDODO JUDARWANTO, pediatrician email : judarwanto@gmail.com curriculum vitae Creating-hashtag-on-twitter: @WidoJudarwanto www.facebook.com/widodo.judarwanto Mobile Phone O8567805533 PIN BB 25AF7035

We are guilty of many errors and many faults. But our worst crime is abandoning the children, neglecting the fountain of life.
Information on this web site is provided for informational purposes only and is not a substitute for professional medical advice. You should not use the information on this web site for diagnosing or treating a medical or health condition. You should carefully read all product packaging. If you have or suspect you have a medical problem, promptly contact your professional healthcare provider

About these ads

Tentang GrowUp Clinic

In 1,000 days Your Children, You can change the future. Our Children Our Future
Tulisan ini dipublikasikan di ***Kesehatan Remaja, ***Kesehatan Terkini, *Penanganan dan Terapi dan tag , , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s