Penanganan Terkini Pnemonia Pada Anak

Penanganan Terkini Pnemonia Pada Anak

dr Widodo Judarwanto SpA Children GrowUp Clinic Jakarta

Pneumonia dalah penyakit peradangan parenkim paru yang disebabkan oleh bermacam etiologi seperti bakteri, virus, mikoplasma, jamur atau bahan kimia/benda asing yang teraspirasi dengan akibat timbulnya ketidakseimbangan ventilasi dengan perfusi (ventilation perfusion mismatch).

Radang paru-paru atrau pneumonia adalah sebuah penyakit pada paru-paru di mana pulmonary alveolus (alveoli) yang bertanggung jawab menyerap oksigen dari atmosfer meradang dan terisi oleh cairan. Radang paru-paru dapat disebabkan oleh beberapa penyebab, termasuk infeksi oleh bakteria, virus, jamur, atau pasilan (parasite). Radang paru-paru yang disebabkan oleh bakteri biasanya diakibatkan oleh bakteri streptococcus dan mycoplasma pneumoniae. Radang paru-paru dapat juga disebabkan oleh kepedihan zat-zat kimia atau cedera jasmani pada paru-paru atau sebagai akibat dari penyakit lainnya, seperti kanker paru-paru atau berlebihan minum alkohol.

Pneumonia dan infeksi saluran pernafasan adalah penyebab utama kematian di seluruh dunia. Karena radang paru-paru adalah umum dan berhubungan dengan morbiditas dan mortalitas yang signifikan, benar dalam mendiagnosis pneumonia, benar mengenali adanya komplikasi atau kondisi yang mendasari, dan tepat merawat pasien adalah hal yang sangat penting. Meskipun di negara maju diagnosis biasanya dilakukan berdasarkan temuan radiografi, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) telah mendefinisikan pneumonia semata-mata berdasarkan temuan klinis yang diperoleh oleh inspeksi visual dan pada waktu tingkat pernapasan.  Pneumonia mungkin berasal dari paru-paru atau mungkin menjadi komplikasi fokus dari proses inflamasi berdekatan atau sistemik. Kelainan patensi jalan napas serta ventilasi alveolar dan perfusi sering terjadi karena berbagai mekanisme. Secara signifikan mengubah pertukaran gas dan metabolisme sel tergantung pada banyak jaringan dan organ yang menentukan kelangsungan hidup dan berkontribusi terhadap kualitas hidup.

Meknisme Terjadinya

  • Paru terlindung dari infeksi melalui beberapa mekanisme : filtrasi partikel di hidung, pencegahan aspirasi  dengan refleks epiglotis, ekspulsi benda asing melalui refleks batuk, pembersihan ke arah kranial oleh mukosilier, fagositosis kuman oleh makrofag alveolar, netralisasi kuman oleh substansi imun lokal dan drainase melalui sistem limfatik.
  • Faktor predisposisi pneumonia : aspirasi, gangguan imun, septisemia, malnutrisi, campak, pertusis, penyakit jantung bawaan, gangguan neuromuskular, kontaminasi perinatal dan gangguan klirens mukus/sekresi seperti pada fibrosis kistik , benda asing atau disfungsi silier.
  • Mikroorganisme mencapai paru melalui jalan nafas, aliran darah, aspirasi benda asing, transplasental atau selama persalinan pada neonatus. Umumnya pneumonia terjadi akibat inhalasi atau aspirasi mikroorganisme, sebagian kecil terjadi melalui aliran darah (hematogen). Secara klinis sulit membedakan pneumonia bakteri dan virus. Bronkopneumonia merupakan jenis pneumonia tersering pada bayi dan anak kecil. Pneumonia lobaris lebih sering ditemukan dengan meningkatnya umur. Pada pneumonia yang berat bisa terjadi hipoksemia, hiperkapnea, asidosis respiratorik, asidosis metabolik dan gagal nafas.

Jenis radang paru-paru dari anatominya:

  • Bronchopneumonia Penyebabnya kebanyakan bakteri. Dibandingkan dengan lobarpneumonia, bronchopneumonia mempunyai lokalisasi penyebarannya yang berbeda sesuai dengan susunan bronkus dan bronkiolus.
  • Lobarpneumonia Penyebabnya yang khas adalah bakteri streptococcus pneumonia. Lokalisasi penyebaran adalah satu lobar dari paru paru Sebutan khas juga disebabkan oleh proses patologisnya yang melalui 6 fase : (1) Red hepatisation ( hemorhagic atau peradangan dengan pendarahan hari 1 dan 2. (2) Gray hepatisation ( fibrin exsudat atau peradangan fibrin ca. hari 2-4 ), (3) Yellow hepatisation ( abszess atau peradangan dengan diesrtai nanah ca hari 5-6 ), (4) Lyse ( fase resorpsi atau penyerapan ca hari 9-10 ), (5)  Restitutio ad integrum (ca.14 Tag). Disebut hepatisation atau hepatisasai karena jaringan paru-paru dalam masa peradangan menyerupai jaringan organ hati dalam histologinya. Gejala yang Nampak secara mendadak namun terkadang didahului oleh infeksi traktus respiratorus bagian atas. Pada anak usia besar sering disertai badan menggigil dan pada bayi disertai kejang. Suhu naik cepat sampai 39-40 derajat, napas sesak, disertai pernapasan cuping hidung dan sianosis sekitar hidung dan mulut serta nyeri pada dada. Terdapat batuk kering yang kemuadian menjadi batuk produktif. Pada pengkajian fisik kelainan khas tampak setelah 1-2 hari, inspeksi dan palpasi menunjukkan pergeseran toraks yang terkena berkurang. Pada permulaan suara napas melemah sedangkan pada perkusi tidak jelas ada kelainan. Setelah terjadi kongesti, terdengar ronki basah yang segera hilang setelah terjadi konsolidasi, kemudian pada perkusi jelas terdengan keredupan dengan suara pernapasan sub-bronkial sampai bronchial. Pada stadium resolusi, ronki terdengar lebih jelas. Tanpa pengobatan dapat sembuh dengan krisis 5-9 hari.
  • Interstielle pneumonia Lokalisasi radang adalah interstitial. Penyebabnya kebanyakan virus ( Virus RS, Adeno-,Parainfluenza-, Influenza A-, CMV-, Campak ), mykoplasma, dll. Sel infiltrasi dapat ditemukan di biopsi paru-paru dan mempunyai khas histologi infiltrat limphosit.
  • Pneumonia virus : Infeksi primer Respiratory syncitial virus ( RSV ), Parainfluenzavirus, Influenza, Adenovirus, Infeksi sekundar atau systemik virus campak , cacar / VZV Varizella Zoster Virus , Adenovirus Pneumonia virus pada Immuninkompetent atau pasien yg kekebalan tubuhnya rendah CMV Cytomegali Virus Herpes Simplex Virus VZV Adenovirus

Diagnosis

  • Anamnesis Gejala yang timbul biasanya mendadak tetapi dapat didahului dengan infeksi saluran nafas akut bagian atas. Gejalanya antara lain batuk, demam tinggi terus menerus, sesak, kebiruan disekitar mulut, menggigil (pada anak), kejang (pada bayi) dan nyeri dada. Biasanya anak lebih suka berbaring pada sisi yang sakit. Pada bayi muda sering menunjukkan gejala non spesifik seperti hipotermi, penurunanan kesadaran, kejang atau kembung sehingga sulit dibedakan dengan meningitis, sepsis atau ileus.
  • Pemeriksaan fisis Tanda yang mungkin ada adalah  suhu ≥ 390 C, dispnea : inspiratory effort ditandai dengan takipnea, retraksi (chest indrawing), nafas cuping hidung dan sianosis. Gerakan dinding toraks dapat berkurang pada daerah yang terkena, perkusi normal atau redup. Pada pemeriksaan auskultasi paru dapat terdengar  suara nafas  utama  melemah atau mengeras, suara nafas tambahan berupa ronki basah halus di lapangan paru yang terkena.
  • Pemeriksaan penunjang Pada pemeriksaan darah tepi dapat terjadi leukositosis dengan hitung jenis bergeser ke kiri. Bila fasilitas memungkinkan pemeriksaan analisis gas darah menunjukkan keadaan hipoksemia (karena ventilation perfusion mismatch). Kadar PaCO2 dapat rendah, normal atau meningkat tergantung kelainannya. Dapat terjadi asidosis respiratorik, asidosis metabolik, dan gagal nafas. Pemeriksaan kultur darah jarang memberikan hasil yang positif tetapi dapat membantu pada kasus yang tidak menunjukkan respon terhadap penanganan awal. Pada foto dada terlihat infiltrat alveolar yang dapat ditemukan di seluruh lapangan paru. Luasnya kelainan pada gambaran radiologis biasanya sebanding dengan derajat klinis penyakitnya, kecuali pada infeksi mikoplasma yang gambaran radiologisnya lebih berat daripada keadaan klinisnya. Gambaran lain yang dapat dijumpai : Konsolidasi pada satu lobus atau lebih pada pneumonia lobaris. Penebalan pleura pada pleuritis
  • Komplikasi pneumonia seperti atelektasis, efusi pleura, pneumomediastinum, pneumotoraks, abses, pneumatokel

Diagnosis Banding

  • Khusus pada bayi : Meningitis, Ileus
  • Acidosis, Metabolic
  • Acute Anemia
  • Acute Respiratory Distress Syndrome
  • Afebrile Pneumonia Syndrome
  • Agammaglobulinemia
  • Airway Foreign Body
  • Alveolar Proteinosis
  • Aortic Stenosis
  • Aortic Stenosis, Subaortic
  • Aortic Stenosis, Valvar
  • Aseptic Meningitis
  • Asphyxiating Thoracic Dystrophy (Jeune Syndrome)
  • Aspiration Syndromes
  • Asthma
  • Atelectasis, Pulmonary
  • Atrial Flutter
  • Atrioventricular Septal Defect, Complete
  • Atrioventricular Septal Defect, Unbalanced
  • Bacteremia
  • Birth Trauma
  • Bowel Obstruction in the Newborn
  • Bronchiectasis
  • Bronchiolitis
  • Bronchitis
  • Bronchitis, Acute and Chronic
  • Bronchogenic Cyst
  • Cardiomyopathy, Hypertrophic
  • Chronic Anemia
  • Chronic Granulomatous Disease
  • Coarctation of the Aorta
  • Coccidioidomycosis
  • Combined B-Cell and T-Cell Disorders
  • Common Variable Immunodeficiency
  • Complement Deficiency
  • Complement Receptor Deficiency
  • Congenital Diaphragmatic Hernia
  • Congenital Pneumonia
  • Congenital Stridor
  • Cystic Adenomatoid Malformation
  • Cystic Fibrosis
  • Double Outlet Right Ventricle, Normally Related Great Arteries
  • Double Outlet Right Ventricle, With Transposition
  • Ebstein Anomaly
  • Empyema
  • Esophageal Atresia With or Without Tracheoesophageal Fistula
  • Foreign Body Aspiration
  • Gastroesophageal Reflux
  • Goodpasture Syndrome
  • Head Trauma
  • Hemosiderosis
  • Hemothorax
  • Histoplasmosis
  • Human Immunodeficiency Virus Infection
  • Hypersensitivity Pneumonitis
  • Hypocalcemia
  • Hypoglycemia
  • Hypoplastic Left Heart Syndrome
  • IgA and IgG Subclass Deficiencies
  • Inhalation Injury
  • Interrupted Aortic Arch
  • Legionella Infection
  • Meningitis, Bacterial
  • Neural Tube Defects
  • Patent Ductus Arteriosus
  • Pediatric Respiratory Distress Syndrome
  • Pertussis
  • Pleural Effusion
  • Pneumococcal Infections
  • Pneumococcal Infections
  • Pneumonia, Aspiration
  • Pneumonia, Bacterial
  • Pneumonia, Empyema and Abscess
  • Pneumonia, Immunocompromised
  • Pneumonia, Mycoplasma
  • Pneumothorax
  • Pulmonary Atresia With Intact Ventricular Septum
  • Pulmonary Atresia With Ventricular Septal Defect
  • Pulmonary Hypertension, Persistent-Newborn
  • Pulmonary Hypoplasia
  • Pulmonary Sequestration
  • Q Fever
  • Respiratory Distress Syndrome
  • Respiratory Distress Syndrome
  • Smoke Inhalation
  • Total Anomalous Pulmonary Venous Connection
  • Transient Tachypnea of the Newborn
  • Transposition of the Great Arteries
  • Tricuspid Atresia
  • Truncus Arteriosus
  • Vascular Ring, Double Aortic Arch
  • Vascular Ring, Right Aortic Arch

Komplikasi

  • Pleuritis
  • Efusi pleura/ empiema
  • Pneumotoraks
  • Piopneumotoraks
  • Abses paru
  • Gagal nafas

Penanganan

  • Indikasi MRS : Ada kesukaran nafas, toksis, Sianosis, Umur kurang 6 bulan, Ada penyulit, misalnya :muntah-muntah, dehidrasi,  empiema, Diduga infeksi oleh Stafilokokus, Imunokompromais, Perawatan di rumah kurang baik dan Tidak respon  dengan pemberian antibiotika oral
  • Pemberian  oksigenasi : dapat diberikan oksigen nasal atau masker, monitor dengan pulse oxymetry. Bila ada tanda gagal nafas diberikan bantuan ventilasi mekanik.
  • Pemberian cairan dan kalori yang cukup (bila perlu cairan parenteral). Jumlah cairan sesuai berat badan, kenaikan suhu dan status hidrasi.
  • Bila sesak tidak terlalu hebat dapat dimulai diet enteral bertahap melalui selang nasogastrik.
  • Jika sekresi lendir berlebihan dapat diberikan inhalasi dengan salin normal
  • Koreksi kelainan asam basa atau elektrolit yang terjadi.
  • Pemilihan antibiotik  berdasarkan umur, keadaan umum penderita dan dugaan penyebab Evaluasi pengobatan dilakukan setiap 48-72 jam. Bila tidak ada perbaikan klinis dilakukan perubahan pemberian antibiotik sampai anak dinyatakan sembuh
  • Lama pemberian antibiotik tergantung : kemajuan klinis penderita, hasil laboratoris, foto toraks dan jenis kuman penyebab : Stafilokokus : perlu 6 minggu parenteral dan Haemophylus influenzae/Streptokokus pneumonia : cukup 10-14 hari
  • Pada keadaan imunokompromais (gizi buruk, penyakit jantung bawaan, gangguan neuromuskular, keganasan, pengobatan kortikosteroid jangka panjang, fibrosis kistik, infeksi HIV), pemberian antibiotik harus segera dimulai saat tanda awal pneumonia didapatkan dengan pilihan antibiotik : sefalosporin generasi 3.
  • Dapat dipertimbangkan juga pemberian : Kotrimoksasol pada Pneumonia Pneumokistik Karinii, Anti viral (Aziclovir , ganciclovir) pada pneumonia karena CMV atau Anti jamur (amphotericin B, ketokenazol, flukonazol) pada pneumonia karena jamur
  • Imunoglobulin

Medikamentosa

  • Terapi obat untuk pneumonia disesuaikan dengan situasi. Karena penyebab bervariasi, pilihan obat dipengaruhi oleh usia pasien, riwayat paparan, kemungkinan resistensi (misalnya, pneumococcus), dan presentasi klinis. Beta-laktam antibiotik (misalnya amoxicillin, cefuroxime, cefdinir) lebih disukai untuk manajemen pasien rawat jalan. Macrolide antibiotik (misalnya, azitromisin, klaritromisin) berguna di sebagian besar anak usia sekolah untuk menutupi organisme atipikal dan pneumococcus.
  • Variasi lokal dalam perlawanan memerlukan pendekatan yang berbeda terhadap terapi, termasuk kasus disebabkan oleh pneumococcus. Setiap anak dengan hasil mantoq test (PPD) positif perlu pemeriksaan tambahan TB dan pengobatan polimikroba. 
  • Pengobatan pnemonia  bayi baru lahir dan bayi muda dengan pneumonia mencakup kombinasi ampisilin dan gentamisin baik atau sefotaksim. Pemilihan sefotaksim atau gentamisin harus didasarkan pada pengalaman dan pertimbangan di pusat masing-masing dan setiap pasien. Kombinasi terapi memberikan efikasi antimikroba yang wajar terhadap patogen yang biasanya menyebabkan infeksi serius pada hari-hari pertama kehidupan.
  • Agen lain atau kombinasi mungkin cocok untuk terapi empiris awal jika dibenarkan oleh berbagai patogen dan kerentanan yang dihadapi dalam lingkungan klinis tertentu.Isolasi patogen tertentu dari sebuah situs biasanya steril pada bayi memungkinkan revisi terapi dengan obat yang paling tidak beracun, memiliki spektrum antimikroba sempit, dan yang paling efektif.
  • Interval dosis untuk ampisilin, sefotaksim, gentamisin, dan agen antimikroba lainnya biasanya membutuhkan penyesuaian kembali dalam menghadapi disfungsi ginjal atau sekali bayi lebih lama dari 7 hari (jika bayi masih membutuhkan terapi antimikroba).

Penisilin Penisilin adalah antibiotik bakterisidal yang bekerja terhadap organisme yang sensitif pada konsentrasi yang memadai dan menghambat biosintesis mucopeptide dinding sel. Contoh penisilin termasuk amoksisilin (Amoxil, Trimox), penisilin VK, dan ampisilin.

  • Amoksisilin (Amoxil, Trimox) Amoksisilin mengganggu sintesis dinding sel mucopeptides selama multiplikasi aktif, sehingga aktivitas bakterisidal terhadap bakteri rentan. Obat ini merupakan agen lini pertama tepat pada anak di antaranya penyakit radang paru diduga kuat. Amoksisilin menawarkan keuntungan yang relatif enak dan memiliki jadwal tid-dosis, tetapi memiliki aktivitas terbatas terhadap bakteri gram negatif akibat perlawanan.
  • Ampisilin (Marcillin, Omnipen, Polycillin) Ampisilin memiliki aktivitas bakterisidal terhadap organisme rentan dan digunakan sebagai alternatif untuk amoksisilin ketika pasien tidak dapat minum obat secara oral.
  • Penisilin VK (Beepen-VK, Pen Vee K) Penisilin VK menghambat biosintesis mucopeptide dinding sel dan bakterisidal terhadap organisme sensitif ketika konsentrasi yang memadai tercapai. Obat ini paling efektif pada tahap multiplikasi aktif, tetapi konsentrasi yang tidak memadai dapat menghasilkan hanya efek bakteriostatik. Penisilin VK dapat digunakan sebagai alternatif untuk amoksisilin dalam pengobatan pasien rawat jalan dengan pneumonia pada penyakit pneumokokus yang diduga kuat, tetapi memiliki aktivitas terbatas terhadap bakteri gram negatif.

Sefalosporin  Sefalosporin secara struktural dan farmakologis berkaitan dengan penisilin. Mereka menghambat sintesis dinding sel bakteri, sehingga aktivitas bakterisidal. Sefalosporin dibagi menjadi generasi pertama, kedua, dan ketiga. Generasi pertama sefalosporin memiliki aktivitas yang lebih besar terhadap bakteri gram positif, dan generasi berikutnya telah meningkatkan aktivitas terhadap bakteri gram negatif dan penurunan aktivitas terhadap bakteri gram positif.

  • Cefpodoxime (Vantin) Cefpodoxime menghambat sintesis dinding sel bakteri dengan mengikat satu atau lebih dari penisilin-mengikat protein. Tablet ini harus diberikan dengan makanan.
  • Cefprozil (Cefzil) Cefprozil mengikat satu atau lebih dari penisilin-mengikat protein, yang, pada gilirannya, menghambat sintesa dinding sel dan menghasilkan aktivitas bakterisidal.
  • Cefdinir (Omnicef) Cefdinir mengikat satu atau lebih dari penisilin-mengikat protein, yang, pada gilirannya, menghambat sintesa dinding sel dan menghasilkan aktivitas bakterisidal.
  • Ceftriaxone (Rocephin) Ceftriaxone adalah generasi ketiga sefalosporin dengan spektrum luas gram negatif aktivitas bahwa penangkapan pertumbuhan bakteri dengan mengikat satu atau lebih penisilin-mengikat protein. Ceftriaxone memiliki khasiat lebih rendah terhadap organisme gram positif tetapi keberhasilan yang lebih tinggi terhadap organisme resisten.
  • Sefotaksim (Claforan) Sefotaksim adalah generasi ketiga cephalosporin dengan gram negatif spektrum bahwa penangkapan sintesa dinding sel bakteri, yang pada gilirannya menghambat pertumbuhan bakteri. Obat ini memiliki khasiat lebih rendah terhadap organisme gram positif.
  • Cefuroxime (Zinacef, Ceftin, Kefurox) Cefuroxime adalah sefalosporin generasi kedua yang mempertahankan aktivitas gram positif generasi pertama sefalosporin miliki. Obat ini menambahkan aktivitas terhadap P mirabilis, H influenzae, Escherichia E, K pneumoniae, dan M catarrhalis. Kondisi parahnya, pasien infeksi, dan kerentanan mikroorganisme kausatif menentukan dosis yang tepat dan cara pemberian.

Antiinfeksi

Anti-infeksi seperti vankomisin efektif terhadap beberapa jenis bakteri yang telah menjadi resisten terhadap antibiotik lainnya.

  • Vankomisin (Vancocin) Vankomisin adalah antibiotik glycopeptide trisiklik dengan aksi bakterisida yang terutama hasil dari penghambatan biosintesis dinding sel. Selain itu, vankomisin mengubah permeabilitas membran sel bakteri dan sintesis RNA. Terapi antibiotik harus mencakup vankomisin (khususnya di daerah yang resisten penisilin streptokokus telah diidentifikasi) dan sefalosporin kedua atau generasi ketiga.

Macrolide Antibiotik makrolida memiliki aktivitas bakteriostatik dan mengerahkan aksi antibakteri mereka dengan mengikat subunit 50S ribosomal organisme rentan, mengakibatkan penghambatan sintesis protein.

  • Eritromisin-sulfisoxazole (Pediazole) Eritromisin adalah antibiotik makrolida dengan spektrum besar aktivitas yang mengikat subunit ribosom 50S bakteri, yang menghambat sintesis protein. Sulfisoxazole memperluas cakupan eritromisin untuk memasukkan bakteri gram negatif dan menghambat sintesis bakteri asam dihydrofolic dengan bersaing dengan para-aminobenzoic acid (PABA). Dosis untuk kombinasi 2 obat didasarkan pada komponen eritromisin.
  • Azitromisin (Zithromax) Azitromisin digunakan untuk mengobati ringan hingga sedang infeksi mikroba. Pertumbuhan berlebih bakteri atau jamur dapat menyebabkan dengan penggunaan antibiotik yang berkepanjangan.
  • Klaritromisin (Biaxin) Klaritromisin menghambat pertumbuhan bakteri, kemungkinan dengan menghambat disosiasi peptidil t-RNA dari ribosom, menyebabkan RNA-dependent sintesis protein untuk menangkap.
  • Eritromisin (E.E.S., E-Mycin, Ery-Tab) Eritromisin menghambat pertumbuhan bakteri, kemungkinan dengan menghambat disosiasi peptidil t-RNA dari ribosom, menyebabkan RNA-dependent sintesis protein untuk menangkap. Obat ini digunakan untuk pengobatan infeksi staphylococcal dan streptokokus. Pada anak-anak, usia, berat badan, dan beratnya infeksi menentukan dosis yang tepat. Ketika dosis tawaran yang diinginkan, setengah-total dosis harian dapat diambil q12h. Untuk infeksi yang lebih parah, dua kali dosis.

Aminoglikosida Aminoglikosida adalah antibiotik bakterisidal digunakan untuk mengobati terutama infeksi gram negatif. Mereka mengganggu sintesis protein bakteri dengan mengikat subunit 30S dan 50S ribosom.

  • Gentamisin Gentamisin adalah antibiotik aminoglikosida untuk gram negatif cakupan yang biasanya digunakan dalam kombinasi dengan agen terhadap organisme gram positif. Bila diberikan secara parenteral, agen ini menawarkan khasiat antimikroba terhadap banyak gram negatif patogen biasa ditemui dalam beberapa hari pertama kehidupan, termasuk E coli, spesies Klebsiella, dan organisme enterik lain, serta banyak strain influenzae H nontypeable.Gentamisin juga bervariasi efektif melawan beberapa strain tertentu organisme gram positif, termasuk Staphylococcus S, enterococci, dan L monocytogenes. Gentamisin melintasi penghalang darah-otak ke dalam SSP kurang baik dan secara teoritis menimbulkan risiko lebih besar toksisitas ginjal atau ototoxicity dari sefotaksim dan sefalosporin generasi ketiga, yang merupakan hal umum.Gentamisin dikaitkan dengan munculnya lebih sedikit cepat dari organisme resisten dalam lingkungan tertutup (misalnya, ICU neonatal), dan memiliki jangkauan lebih luas rentan gram negatif organisme. Gentamisin telah dilaporkan untuk menawarkan aditif atau kegiatan sinergis terhadap enterococci bila digunakan dengan ampisilin.

Antituberkulosis  Obat ini digunakan dalam pengobatan pasien dengan TB. Agen Antimycobacterial adalah kelompok aneka antibiotik spektrum aktivitas yang termasuk spesies Mycobacterium. Mereka digunakan untuk mengobati TBC, kusta, dan infeksi mikobakteri lainnya.

  • Isoniazid (Laniazid, Nydrazid) Isoniazid memiliki kombinasi terbaik dari efektivitas, biaya rendah, dan efek samping ringan dari kelas obat ini. Isoniazid harus menjadi agen lini pertama kecuali pasien telah dikenal resistensi atau kontraindikasi lain. Rejimen terapi untuk kurang dari 6 bulan menunjukkan tingkat kambuhan yang sangat tinggi.Pemberian bersamaan piridoksin dianjurkan jika neuropati perifer sekunder terhadap terapi isoniazid berkembang. Dosis profilaksis piridoksin 6-50 mg sehari-hari yang dianjurkan.
  • Etambutol (Myambutol) Etambutol berdifusi ke dalam sel aktif tumbuh mikobakteri, seperti basil tuberkel dan metabolisme merusak sel dengan menghambat sintesis dari satu atau lebih metabolit, yang, pada gilirannya, menyebabkan kematian sel.Tidak ada resistansi silang telah dibuktikan, namun resistensi mikobakteri adalah umum dengan terapi sebelumnya. Gunakan etambutol pada pasien dalam kombinasi dengan obat lini kedua yang sebelumnya belum pernah diberikan. Pemberian sehari sekali sampai bakteriologis konversi secara permanen dan perbaikan klinis maksimal harus diamati. Penyerapan obat ini tidak secara signifikan diubah oleh makanan.
  • Rifampisin (Rifadin, Rimactane) Rifampisin digunakan dalam kombinasi dengan setidaknya satu obat antituberkulosis lainnya dan menghambat sintesis RNA pada bakteri dengan mengikat subunit beta dari DNA-dependent RNA polimerase, yang pada gilirannya blok RNA transkripsi. Durasi pengobatan rifampisin adalah selama 6-9 bulan atau sampai 6 bulan telah berlalu dari konversi dahak negatif budaya.
  • Streptomisin Streptomisin sulfat digunakan dalam kombinasi dengan obat antituberkulosis lain (misalnya, isoniazid, etambutol, rifampisin). Periode total pengobatan untuk TB adalah minimal 1 tahun, namun, indikasi untuk mengakhiri terapi streptomisin dapat terjadi setiap saat. Streptomisin dianjurkan ketika agen terapeutik kurang berpotensi berbahaya tidak efektif atau kontraindikasi.
  • Pirazinamid Pirazinamid adalah analog pyrazine dari nikotinamida yang mungkin bakteriostatik atau bakterisidal terhadap Mycobacterium tuberculosis, tergantung pada konsentrasi obat yang dicapai di lokasi infeksi. Mekanisme kerjanya belum diketahui. Bagi pasien yang rentan obat, mengelola selama 2 bulan awal rejimen pengobatan 6-bulan atau lebih. Mengobati pasien yang resistan terhadap obat dengan rejimen individual.

Antivirus Obat golongan  ini harus dimulai awal untuk cukup menghambat replikasi virus. Hal ini sulit karena situasi klinis biasanya memburuk selama beberapa hari, sehingga pada saat kondisi anak yang miskin cukup memerlukan perhatian medis, jendela kesempatan telah berlalu.Sayangnya, resistensi oseltamivir muncul di Amerika Serikat selama musim flu 2008-2009; CDC mengeluarkan rekomendasi sementara direvisi untuk pengobatan antivirus dan profilaksis influenza. Dengan demikian, zanamivir (Relenza) direkomendasikan sebagai pilihan awal untuk profilaksis antivirus atau pengobatan ketika infeksi influenza A atau paparan diduga. Rekomendasi lengkap tersedia dari CDC.

  • Ribavirin (Virazole) Ribavirin menghambat replikasi virus oleh DNA menghambat dan sintesis RNA dan efektif terhadap RSV, virus influenza, dan virus herpes simpleks. Namun, telah ada sedikit bukti untuk menunjukkan bahwa ribavirin memiliki banyak manfaat klinis di rumah sakit.
  • Oseltamivir (Tamiflu) Oseltamivir menghambat neuraminidase, yang merupakan glikoprotein pada permukaan virus influenza yang merusak reseptor sel yang terinfeksi untuk hemagglutinin virus. Dengan menghambat neuraminidase virus oseltamivir, mengurangi pelepasan virus dari sel yang terinfeksi dan, dengan demikian, penyebaran virus. Obat ini telah efektif untuk pengobatan infeksi influenza A atau B dan diberikan dalam waktu 40 jam onset gejala.Sayangnya, resistensi oseltamivir muncul di Amerika Serikat selama musim flu 2008-2009; CDC mengeluarkan rekomendasi sementara direvisi untuk pengobatan antivirus dan profilaksis influenza. Dengan demikian, zanamivir (Relenza) direkomendasikan sebagai pilihan awal untuk profilaksis antivirus atau pengobatan ketika infeksi influenza A atau paparan diduga. Rekomendasi lengkap tersedia dari CDC. Sebuah alternatif lini kedua adalah kombinasi dari oseltamivir ditambah rimantadine, bukan oseltamivir saja. Data surveilans influenza lokal dan pengujian laboratorium dapat membantu dokter tentang pilihan agen antivirus.
  • Zanamivir (Relenza) Zanamivir merupakan penghambat neuraminidase, yang merupakan glikoprotein pada permukaan virus influenza yang menghancurkan reseptor sel terinfeksi untuk hemagglutinin virus. Dengan menghambat neuraminidase virus rilis, virus dari sel terinfeksi dan penyebaran virus yang menurun. Zanamivir efektif terhadap kedua influenza A dan B dan dikelola oleh inhalasi melalui perangkat inhalasi Diskhaler oral. Cakram foil Edaran yang mengandung 5-lecet mg obat dimasukkan ke dalam perangkat inhalasi disediakan.
  • Acyclovir (Zovirax) Acyclovir menghambat aktivitas dari kedua HSV-1 dan HSV-2 dan merupakan obat pilihan untuk pengobatan pneumonia pada anak dengan virus herpes (misalnya, herpes simplex, varicella). Pasien mengalami sakit kurang dan resolusi lebih cepat dari lesi kulit bila digunakan dalam waktu 48 jam sejak onset ruam.

Penggunaan antibiotika pada pneumonia menurut Kelompok Usia

Umur

Penyebab

Pilihan antibiotik

Rawat inap

Rawat jalan

< 3 bln

-    Enterobacteriace

  (E. Colli, Klebsiella,   Enterobacter)

-    Streptococcus pneumonia

-    Streptococcus group B

-    Staphylococcus

-       Kloksasilin iv dan aminoglikosida (gentamisin, netromisin, amikasin) iv/im   atau

-       Ampisilin iv dan aminoglikosida atau

-       Sefalosporin gen 3 iv (cefotaxim, ceftriaxon, ceftazidim, cefuroksim) atau

-       Meropenem iv dan aminoglikosida iv/im

-

3 bln – 5 thn

-    Streptococcus pneumonia

-    Staphylococcus

-    H. influenzae

- Ampisilin iv dan kloramfenikol iv atau

- Ampisilin dan Kloksasilin iv atau

-    Sefalosporin gen 3 iv (cefotaxim,ceftriaxon, ceftazidim, cefuroksim) atau

-    Meropenem iv dan aminoglikosida iv/im

- Amoksisilin atau

- Kloksasilin atau

- amoksisilin asam klavulanik atau

- Erytromicin atau

- Claritromycin atau

- Azitromycin atau

- Sefalosporin oral (Cefixim, cefaclor)

> 5 thn

-    Streptococcus pneumonia

-    Mycoplasma pneumonia

-    Ampisilin iv atau

-    Erytromisin po atau

-    Claritromycin po atau

-    Azitromycin po atau

-    Kotrimoksasol po atau

-    Sefalosporin gen 3

- Amoksisilin atau

- Erytromisin po atau

- Claritromycin po atau

- Azitromycin po atau

- Kotrimoksasol po atau

- Sefalosporin oral (Cefixim, cefaclor)

Pencegahan

Vaksin  Selain menghindari kontak menular, vaksinasi adalah modus utama dari pencegahan. Vaksin memberikan kekebalan terhadap penyakit dengan merangsang pembentukan antibodi dan dapat berupa dibunuh atau dilemahkan.

  • Vaksi Influenza virus  (Fluzone) Vaksin influenza direkomendasikan untuk anak usia 6 bulan dan lebih tua. The 2 bentuk vaksin adalah (1) vaksin tidak aktif (berbagai produk), diberikan sebagai suntikan intramuskular dan (2) vaksin dingin diadaptasi dilemahkan (FluMist; MedImmune), diberikan sebagai obat semprot hidung, yang saat ini diberikan hanya untuk orang yang berusia 2-49 tahun
  • 13-valent vaksin pneumokokus konjugasi (PCV7, Prevnar) The 13-valent pneumococcal conjugate vaksin (difteri CRM197 protein; Prevnar) berisi epitop sampai 13 strain yang berbeda.

Referensi

  • Tajima T, Nakayama E, Kondo Y, Hirai F, Ito H, Iitsuka T, et al. Etiology and clinical study of community-acquired pneumonia in 157 hospitalized children. J Infect Chemother. Dec 2006;12(6):372-9.
  • Black SB, Shinefield HR, Ling S, Hansen J, Fireman B, Spring D, et al. Effectiveness of heptavalent pneumococcal conjugate vaccine in children younger than five years of age for prevention of pneumonia. Pediatr Infect Dis J. Sep 2002;21(9):810-5.
  • Rudan I, Tomaskovic L, Boschi-Pinto C, Campbell H. Global estimate of the incidence of clinical pneumonia among children under five years of age. Bull World Health Organ. Dec 2004;82(12):895-903.
  • Lynch T, Platt R, Gouin S, Larson C, Patenaude Y. Can we predict which children with clinically suspected pneumonia will have the presence of focal infiltrates on chest radiographs?. Pediatrics. Mar 2004;113(3 Pt 1):e186-9.
  • Mahabee-Gittens EM, Grupp-Phelan J, Brody AS, Donnelly LF, Bracey SE, Duma EM, et al. Identifying children with pneumonia in the emergency department. Clin Pediatr (Phila). Jun 2005;44(5):427-35.
  • Bachur R, Perry H, Harper MB. Occult pneumonias: empiric chest radiographs in febrile children with leukocytosis. Ann Emerg Med. Feb 1999;33(2):166-73.
  • Murphy CG, van de Pol AC, Harper MB, Bachur RG. Clinical predictors of occult pneumonia in the febrile child. Acad Emerg Med. Mar 2007;14(3):243-9.
  • Gauvin F, Dassa C, Chaïbou M, Proulx F, Farrell CA, Lacroix J. Ventilator-associated pneumonia in intubated children: comparison of different diagnostic methods. Pediatr Crit Care Med. Oct 2003;4(4):437-43.=
  • Bradley JS, Byington CL, Shah SS, et al. The management of community-acquired pneumonia in infants and children older than 3 months of age: clinical practice guidelines by the pediatric infectious diseases society and the infectious diseases society of america. Clin Infect Dis. Oct 2011;53(7):e25-76.
  • Cincinnati Children’s Hospital Medical Center. Evidence based care guideline for community acquired pneumonia in children 60 days through 17 years of age. Cincinnati (OH): Cincinnati Children’s Hospital Medical Center. Jul. 2006. Available at http://guideline.gov/index.aspx. Accessed September 22, 2010.
  • Neuman MI, Kelley M, Harper MB, File TM Jr, Camargo CA Jr. Factors associated with antimicrobial resistance and mortality in pneumococcal bacteremia. J Emerg Med. May 2007;32(4):349-57.
  • Braude AC, Hornstein A, Klein M, Vas S, Rebuck AS. Pulmonary disposition of tobramycin. Am Rev Respir Dis. May 1983;127(5):563-5.
  • Black S, Shinefield H, Fireman B, Lewis E, Ray P, Hansen JR, et al. Efficacy, safety and immunogenicity of heptavalent pneumococcal conjugate vaccine in children. Northern California Kaiser Permanente Vaccine Study Center Group. Pediatr Infect Dis J. Mar 2000;19(3):187-95.
  • Brasfield DM, Stagno S, Whitley RJ, Cloud G, Cassell G, Tiller RE. Infant pneumonitis associated with cytomegalovirus, Chlamydia, Pneumocystis, and Ureaplasma: follow-up. Pediatrics. Jan 1987;79(1):76-83.
  • Haney PJ, Bohlman M, Sun CC. Radiographic findings in neonatal pneumonia. AJR Am J Roentgenol. Jul 1984;143(1):23-6.
  • Mathews B, Shah S, Cleveland RH, Lee EY, Bachur RG, Neuman MI. Clinical predictors of pneumonia among children with wheezing. Pediatrics. Jul 2009;124(1):e29-36.
  • Puumalainen T, Quiambao B, Abucejo-Ladesma E, Lupisan S, Heiskanen-Kosma T, Ruutu P, et al. Clinical case review: a method to improve identification of true clinical and radiographic pneumonia in children meeting the World Health Organization definition for pneumonia. BMC Infect Dis. Jul 21 2008;8:95.
  • Radkowski MA, Kranzler JK, Beem MO, Tipple MA. Chlamydia pneumonia in infants: radiography in 125 cases. AJR Am J Roentgenol. Oct 1981;137(4):703-6.
  • Wahlgren H, Mortensson W, Eriksson M, Finkel Y, Forsgren M, Leinonen M. Radiological findings in children with acute pneumonia: age more important than infectious agent. Acta Radiol. Jul 2005;46(4):431-6.
  • Wildin SR, Chonmaitree T, Swischuk LE. Roentgenographic features of common pediatric viral respiratory tract infections. Am J Dis Child. Jan 1988;142(1):43-6.
  • Wolf DG, Greenberg D, Shemer-Avni Y, Givon-Lavi N, Bar-Ziv J, Dagan R. Association of human metapneumovirus with radiologically diagnosed community-acquired alveolar pneumonia in young children. J Pediatr. Jan 2010;156(1):115-20. [Medline].
  • World Health Organization. Handbook. IMCI integrated management of childhood illness. Available at http://whqlibdoc.who.int/publications/2005/9241546441.pdf. Accessed November 5,2010.
About these ads

Tentang GrowUp Clinic

In 1,000 days Your Children, You can change the future. Our Children Our Future
Tulisan ini dipublikasikan di Kesehatan Terkini, Kesehatan Tersering, Penyakit Anak Tersering, Penyakit Berbahaya, Penyakit Infeksi Virus, Professional dan tag . Tandai permalink.

Satu Balasan ke Penanganan Terkini Pnemonia Pada Anak

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s