Kenali Infeksi Saluran Kencing Pada Anak Sejak Dini, Cegah Gangguan Ginjal

Infeksi saluran kemih (ISK) adalah penyakit yang sering terjadi pada anak, di samping infeksi saluran cerna. ISK merupakan penyakit penting pada anak, karena menyebabkan gejala tidak menyenangkan pada anak. ISK pada bayi dan anak-anak kecil merupakan suatu keadaan yang perlu dicermati karena 5% dari penderitanya hanya menunjukkan gejala yang amat samar dengan risiko kerusakan ginjal yang lebih besar dibandingkan anak-anak yang sudah lebih besar. Kerusakan ini dapat berujung pada hipertensi atau menurunnya fungsi ginjal. Bila tidak dikenali dan ditangani dengan baik, ISK dapat menyebabkan komplikasi berupa batu saluran kemih, hipertensi, ataupun gagal ginjal yang memerlukan tindakan cuci darah atau cangkok ginjal. Sehingga sangat penting mengenali dan mencegah ISK sedini mungkin agar dapat ditata laksana dengan adekuat untuk menghindari akibat yang lebih buruk.

ISK adalah infeksi bakteri yang terjadi pada saluran kemih. ISK merupakan kasus yang sering terjadi dalam dunia kedokteran. Walaupun terdiri dari berbagai cairan, garam, dan produk buangan, biasanya urin tidak mengandung bakteri. Jika bakteri menuju kandung kemih atau ginjal dan berkembang biak dalam urin, terjadilah ISK. Jenis ISK yang paling umum adalah infeksi kandung kemih yang sering juga disebut sebagai sistitis. Gejala yang dapat timbul dari ISK yaitu perasaan tidak enak berkemih (disuriaanyang-anyangen). Tidak semua ISK menimbulkan gejala, ISK yang tidak menimbulkan gejala disebut sebagai ISK asimtomatis.

ISK dapat mengenai semua orang, mulai bayi baru lahir sampai dengan orang dewasa, baik laki-laki maupun perempuan.ISK lebih sering dtemukan pada bayi atau anak kecil dibandingkan dengan dewasa. Pada bayi sampai umur tiga bulan, ISK lebih sering pada laki-laki daripada perempuan, tetapi selanjutnya lebih sering pada perempuan daripada laki-laki.

Infeksi saluran air kemih adalah infeksi yang terjadi pada saluran air kemih, mulai dari uretra, buli-buli, ureter, piala ginjal sampai jaringan ginjal. Infeksi ini dapat berupa : Pielonefritis akut, Pielonefritis kronik, Infeksi saluran air kemih berulang, Bakteriuria bermakna dan Bakteriuria asimtomatis. ISK terjadi sebagai akibat masuknya kuman ke dalam saluran kemih. Biasanya kuman berasal dari tinja atau dubur, masuk ke saluran kemih bagian bawah atau uretra, kemudian naik ke kandung kemih dan dapat sampai ke ginjal. Kuman dapat juga masuk ke saluran kemih melalui aliran darah dari tempat lain yang melebar, terdapat sumbatan saluran kemih, kandung kemih yang membesar dan lain-lain. Sama seperti penyakit infeksi lainnya, ISK akan lebih mudah terjadi pada anak dengan gizi buruk atau sistem kekebalan tubuh anak rendah. Anak yang mengalami sembelit atau sering menahan-nahan air kemih (kencing) pun dapat berisiko terkena ISK.

Infeksi dapat terjadi melalui penyebaran hematogen (neonatus) atau secara asending (anak-anak). Faktor predisposisi infeksi adalah fimosis, alir-balik vesikoureter (refluks vesikoureter), uropati obstruktif, kelainan kongenital buli-buli atau ginjal, dan diaper rash. Patogenesis infeksi saluran kemih sangat kompleks, karena tergantung dari banyak faktor seperti faktor pejamu (host) dan faktor organismenya. Bakteri dalam urin dapat berasal dari ginjal, pielum, ureter, vesika urinaria atau dari uretra.

Beberapa faktor predisposisi ISK adalah obstruksi urin, kelainan struktur, urolitiasis, benda asing, refluks atau konstipasi yang lama. Pada bayi dan anak anak biasanya bakteri berasal dari tinjanya sendiri yang menjalar secara asending. Bakteri uropatogenik yang melekat pada pada sel uroepitelial, dapat mempengaruhi kontraktilitas otot polos dinding ureter, dan menyebabkan gangguan peristaltik ureter. Melekatnya bakteri ke sel uroepitelial, dapat meningkatkan virulensi bakteri tersebut.

Mukosa kandung kemih dilapisi oleh glycoprotein mucin layer yang berfungsi sebagai anti bakteri. Robeknya lapisan ini dapat menyebabkan bakteri dapat melekat, membentuk koloni pada permukaan mukosa, masuk menembus epitel  dan selanjutnya terjadi peradangan. Bakteri dari kandung kemih dapat naik ke ureter dan sampai ke  ginjal melalui lapisan tipis cairan (films of fluid), apalagi bila ada refluks vesikoureter maupun refluks intrarenal. Bila hanya buli buli yang terinfeksi, dapat mengakibatkan iritasi dan spasme otot polos vesika urinaria, akibatnya rasa ingin miksi terus menerus (urgency) atau miksi berulang kali (frequency), sakit waktu miksi (dysuri). Mukosa vesika urinaria menjadi edema, meradang dan perdarahan (hematuria).

Infeksi ginjal dapat terjadi melalui collecting system. Pelvis dan medula ginjal dapat rusak, baik akibat infeksi maupun oleh tekanan urin akibat refluks berupa atrofi ginjal. Pada pielonefritis akut dapat ditemukan fokus infeksi dalam parenkim ginjal, ginjal dapat membengkak, infiltrasi lekosit polimorfonuklear dalam jaringan interstitial, akibatnya fungsi ginjal dapat terganggu. Pada pielonefritis kronik  akibat infeksi, adanya produk bakteri atau zat mediator toksik  yang dihasilkan oleh sel yang rusak, mengakibatkan parut ginjal (renal scarring).

Infeksi Saluran kencing

ISK adalah adanya bakteri pada urin yang disertai dengan gejala infeksi.Ada pula yang mendefinisikan ISK sebagai gejala infeksi yang disertai adanya mikroorganisme patogenik (patogenik : yang menyebabkan penyakit) pada urin, uretra (uretra : saluran yang menghubungkan kandung kemih dengan dunia luar), kandung kemih, atau ginjal.

Angka Kejadian

ISK dapat terjadi pada 5% anak perempuan dan 1-2% anak laki-laki. Kejadian ISK pada bayi baru lahir dengan berat lahir rendah mencapai 10-100 kali lebih besar disbanding bayi dengan berat lahir normal (0,1-1%). Sebelum usia 1 tahun, ISK lebih banyak terjadi pada anak laki-laki. Sedangkan setelahnya, sebagian besar ISK terjadi pada anak perempuan. Misalnya pada anak usia pra sekolah di mana ISK pada perempuan mencapai 0,8%, sementara pada laki-laki hanya 0,2%. Dan rasio ini terus meningkat sehingga di usia sekolah, kejadian ISK pada anak perempuan 30 kali lebih besar dibanding pada anak laki-laki. Dan pada anak laki-laki yang disunat, risiko ISK menurun hingga menjadi 1/5-1/20 dari anak laki-laki yang tidak disunat.

Pada usia 2 bulan – 2 tahun, 5% anak dengan ISK mengalami demam tanpa sumber infeksi dari riwayat dan pemeriksaan fisik.1 Sebagian besar ISK dengan gejala tunggal demam ini terjadi pada anak perempuan.

Penyebab

  • Escherichia coli adalah penyebab paling umum pada anak-anak, hingga 80%.2 Pada bayi baru lahir (0-28 hari), infeksi diperantarai oleh aliran darah. Sedangkan setelah usia itu, ISK umumnya terjadi dengan naiknya bakteri ke saluran kemih.
  • Staphylococcus saprophyticus, Stafilokokus Aureu
  • Streptokokus fecalis, kuman anaerob, TBC, jamur, virus dan bentuk L bakteri protoplas.
  • Proteus mirabilis. Selain menyebabkan infeksi, bakteri ini mengeluarkan zat yang dapat memfasilitasi pembentukan batu di saluran kemih.
  • Mikroorganisme lain yang dapat menyebabkan ISK adalah beberapa bakteri yang umumnya menginfeksi saluran cerna dan Candida albicans, jamur yang umumnya menginfeksi pasien dengan kateter (kateter : semacam selang) pada saluran kemihnya, kekebalan tubuh yang rendah, diabetes mellitus, atau pasien dalam terapi antibiotik.

Faktor Risiko

Sebagian besar ISK tidak dihubungkan dengan faktor risiko tertentu. Namun pada ISK berulang, perlu dipikirkan kemungkinan faktor risiko seperti :

  • Kelainan fungsi atau kelainan anatomi saluran kemih
  • Gangguan pengosongan kandung kemih (incomplete bladder emptying)
  • Alergi khususnya gangguan kulit atau dermatitis atopik. Alergi dapat menjadi faktor tersembunyi di infeksi saluran kemih. Misalnya, alergi terhadap makanan dapat mengiritasi dinding kandung kemih dan meningkatkan kerentanan terhadap infeksi saluran kemih. Infeksi saluran kemih setelah melakukan hubungan seksual juga dapat disebabkan oleh alergi terhadap lateks kondom, spermicide, atau kontrasepsi oral
  • Konstipasi
  • Operasi saluran kemih
  • Kekebalan tubuh yang rendah

Gejala

Tanda dan gejala yang terjadi mulai yang ringan tanpa gejala hingga manifestasi yang berat. Beberapa kasus dengan tanpa gejala seringkali didiagnosis setelah terjadi komplikasi gagal ginjal.

Bayi baru Lahir.

  • Pada bayi baru lahir, gejalanya tidak khas, sehingga sering tidak terpikirkan
  • Tidak mau menyusu
  • Suhu tidak stabil demam atau suhu lebih rendah dari normal), tampak sakit, mudah terangsang atau irritable, tidak mau minum, muntah, diare, perut kembung, air kemih berwarna kemerahan
  • Kejang, koma
  • Panas/hipotermia tanpa diketahui sebabnya
  • Kuning berkepanjangan
  • Gagal tumbuh
  • Sepsis

Anak-anak

  • Demam, nyeri saat berkemih,
  • Sering berkemih,
  • Adanya darah pada urin, urin yang keruh atau berbau busuk, nyeri pada daerah di atas tulang kemaluan, mengompol (setelah sebelumnya berhenti mengompol)

Anak Usia 2-6 thn

  • Panas/hipotermia tanpa diketahui sebabnya
  • Tidak dapat menahan kencing
  • Polakisuria, disuria, enuresis, air kemih berbau dan berubah warna, diare, muntah, gangguan pertumbuhan serta anoreksia.

Anak usia 6-18 thn

  • Nyeri perut/pinggang, panas tanpa diketahui sebabnya, tak dapat menahan kencing, polakisuria, disuria, enuresis, air kemih berbau dan berubah warna.

Diagnosis

Memastikan terjadinya ISK dengan melakukan pemeriksaan contoh urin diambil untuk kultur urin. Pengambilan contoh urin dapat dilakukan dengan cara yang tidak invasif, misalnya :

  • Pada anak yang sudah cukup besar, dapat dilakukan pengambilan urin mid-stream.
  • Pada bayi atau batita, dapat dilakukan pengambilan urin dengan urin mid-stream atau kantung penampung urin yang dilekatkan pada perineum.

Pengambilan contoh urin dengan cara ini memiliki risiko kontaminasi yang rendah jika sebelum pengambilan urin perineum dibersihkan dengan teliti, kantung penampung urin segera dilepaskan setelah urin diperoleh, dan sediaan tersebut cepat diproses. Pada anak perempuan, perineum harus dibersihkan dari depan ke belakang dengan semacam kassa yang dibasahi air hangat tanpa antiseptik. Jika tidak dapat langsung diproses, sediaan harus disimpan dalam suhu 40. Sediaan yang telah disimpan hingga 48 jam masih dapat digunakan untuk kultur, namun tidak dapat digunakan untuk pemeriksaan mikroskopik karena sel-sel yang ada sudah rusak.

Pemeriksaan contoh urin yang ideal adalah dengan diambil dengan  cara aspirasi suprapubik atau kateter. Aspirasi suprapubik adalah pengambilan urin langsung dari kandung kemih dengan jarum. Kemungkinan kontaminasi pada urin yang diperoleh dengan kedua cara tersebut sangat kecil sehingga kedua cara tersebut merupakan cara yang paling diandalkan.  Namun bila bayi atau anak di bawah 2 tahun dengan demam tersebut tidak tampak sakit berat atau tidak dalam kondisi khusus, aspirasi suprapubik atau kateterisasi kadang dianggap berlebihan

Analisa Pemeriksaan Urin

  • Urinalisis : Komponen urinalisis yang paling penting dalam ISK adalah esterase leukosit, nitrit, dan pemeriksaan leukosit dan bakteri mikroskopik. Namun tidak ada komponen urinalisis yang dapat menggantikan pentingnya kultur sehingga kultur tetap merupakan keharusan untuk mendiagnosis ISK. Bila lekosit lebih dari 5 per lapanng panda bisa dicrigai ISK, tetapi harus dikorfirmasikan dengan kultur urin.
  • Kultur : Kultur (kultur : pembiakan mikroorganisme) yang negatif akan menyingkirkan diagnosis ISK. Sedangkan pada kultur yang positif, proses pengambilan contoh urin harus diperhatikan. Jika kultur positif berasal dari aspirasi suprapubik atau kateterisasi, maka hasil tersebut dianggap benar. Namun jika kultur positif diperoleh dari kantung penampung urin, perlu dilakukan konfirmasi dengan kateterisasi atau aspirasi suprapubik.

Kondisi Yang Menyertai

  • VUR (vesico ureteral reflux). VUR (vesico ureteral reflux) adalah kelainan paling sering ditemukan pada pemeriksaan lanjutan. Pada kelainan ini terjadi pelebaran ureter yang dapat terus berlangsung hingga menyebabkan kerusakan ginjal. Pada anak di bawah 1 tahun dengan ISK, VUR dapat mencapai 50%. Derajat VUR ada berbagai macam, dari yang paling ringan hingga berat.
  • ISK berulang. ISK dapat berulang satu kali pada 20% anak laki-laki dan 30% anak perempuan, atau lebih dari satu kali pada 4% anak laki-laki dan 8% anak perempuan. Definisi ISK berulang sendiri adalah 2 atau lebih ISK dalam periode 6 bulan. ISK berulang ini dapat berujung pada hipertensi atau gagal ginjal kronik.3 Pemberian antibiotik jangka panjang untuk mencegah berulangnya ISK tidak memiliki dasar yang cukup. Namun, jika pada seorang anak telah terjadi ISK berulang atau VUR, sebagian pihak menganjurkan pemberian antibiotik dosis rendah jangka panjang.

Penanganan

  • Jika terdapat kecurigaan terhadap ISK, maka perlu dilakukan pemeriksaan laboratorium, yaitu pemeriksaan air kemih, rutin dan biakan air kemih. Hasil pemeriksaan urinalisis dapat segera diketahui, sedangkan hasil biakan air kemih memerlukan waktu satu minggu. Ada tiga hal yang penting yang biasa dilakukan jika pasien sudah didiagnosis sebagaii ISK, (1) memberantas infeksi: (2) mendeteksi, mencegah, dan mengobati infeksi berulang dan (3) mendeteksi kelainan anatomi dan fungsional saluran kemih serta menanggulanginya jika ada
  • Pada anak 2 bulan – 2 tahun dengan kecurigaan ISK dan tampak sakit berat, antibiotik dapat diberikan secara parenteral ( infus).
  • Perawatan di rumah sakit diindikasikan jika ada gejala sepsis atau bakteremia (bakteremia : bakteri menyebar ke seluruh tubuh lewat peredaran darah). Sebagian pihak mengindikasikan perawatan di rumah sakit dan pemberian antibiotik parenteral pada anak di bawah 6 bulan.
  • Pada anak yang tidak tampak sakit berat, antibiotik yang diberikan umumnya per oral (diminum). Beberapa antibiotik yang dapat digunakan adalah :
  1. Amoxicillin 20-40 mg/kg/hari dalam 3 dosis. Sekitar 50% bakteri penyebab ISK resisten terhadap amoxicillin. Namun obat ini masih dapat diberikan pada ISK dengan bakteri yang sensitif terhadapnya.
  2. Co-trimoxazole atau trimethoprim 6-12 mg trimethoprim/kg/hari dalam 2 dosis. Sebagian besar ISK akan menunjukkan perbaikan dengan cotrimoxazole. Penelitian menunjukkan angka kesembuhan yang lebih besar pada pengobatan dengan cotrimoxazole dibandingkan amoxicillin.
  3. Cephalosporin seperti cefixime atau cephalexin. Cephalexin kira-kira sama efektif dengan cotrimoxazole, namun lebih mahal dan memiliki spectrum luas sehingga dapat mengganggu bakteri normal usus atau menyebabkan berkembangnya jamur (Candida sp.) pada anak perempuan.
  4. Co-amoxiclav digunakan pada ISK dengan bakteri yang resisten terhadap cotrimoxazole. Harganya juga lebih mahal dari cotrimoxazole atau cephalexin.
  5. Obat-obatan seperti asam nalidiksat atau nitrofurantoin tidak digunakan pada anak-anak yang dikhawatirkan mengalami keterlibatan ginjal pada ISK. Selain itu nitrofurantoin juga lebih mahal dari cotrimoxazole dan memiliki efek samping seperti mual dan muntah.
  6. Lama pemberian antibiotik pada ISK umumnya adalah 7 hari pada infeksi akut.3 Walaupun ada pihak yang menganjurkan 10-14 hari, namun pemberian dalam waktu sepanjang itu memberikan kemungkinan lebih besar untuk terjadinya resistensi, gangguan bakteri normal di usus dan vagina, dan menyebabkan candidiasis.
  7. Pemberian antibiotik dalam jangka waktu pendek (<5 hari) masih diperdebatkan. Namun dalam penelitian baru-baru ini, tidak ditemukan perbedaan berarti antara hasil pemberian antibiotik oral jangka waktu pendek (2-4 hari) dengan jangka waktu panjang (7-14 hari).5 Selain itu juga tidak ada perbedaan berarti dalam kegagalan pengobatan antara kedua metode tersebut. Sehingga saat ini sebagian pihak menilai bahwa pemberian antibiotik jangka waktu pendek dapat dilakukan pada ISK tanpa komplikasi.
  8. Sedangkan pengobatan parenteral umumnya dilakukan dengan cephalosporin seperti ceftriaxone 75 mg/kg setiap 24 jam. Sebagian pihak memilih gentamicin 7.5 mg/kg per 24 jam dan benzylpenicillin 50 mg/kg per 6 jam untuk anak di atas 1 bulan
  9. Selain antibiotik, pengobatan yang dapat dilakukan untuk mengurangi gejala contohnya adalah penurun demam jika diperlukan.3 Obat-obatan lain yang pada orang dewasa digunakan untuk ISK, umumnya tidak dianjurkan untuk diberikan pada anak-anak.
  10. Dalam 2 x 24 jam setelah pengobatan fase akut dimulai gejala ISK umumnya menghilang. Bila gejala belum menghilang, dipikirkan untuk mengganti antibiotik yang lain sesuai dengan uji kepekaan antibiotik. Dilakukan pemeriksaan kultur dan uji resistensi urin ulang 3 hari setelah pengobatan fase akut dihentikan, dan bila memungkinkan setelah 1 bulan dan setiap 3 bulan. Jika ada ISK berikan antibiotik sesuai hasil uji kepekaan.
  11. Bila ditemukan ada kelainan anatomik maupun fungsional yang menyebabkan obstruksi, maka setelah pengobatan fase akut selesai dilanjutkan dengan antibiotik profilaksis. Antibiotik profilaksis juga diberikan pada ISK berulang, ISK pada neonatus, dan pielonefritis akut.
  12. Jika tidak ada perbaikan dalam 2 hari setelah pengobatan, contoh urin harus kembali diambil dan diperiksa ulang. Kultur ulang setelah 2 hari pengobatan umumnya tidak diperlukan jika diperoleh perbaikan dan bakteri yang dikultur sebelumnya sensitif terhadap antibiotik yang diberikan. Jika sensitivitas bakteri terhadap antibiotik yang diberikan atau tidak dilakukan tes sensitivitas/resistensi sebelumnya, maka kultur ulang dilakukan setelah 2 hari pengobatan.
  13. Untuk mendeteksi infeksi berulang, perlu dilakukan pemeriksaan biakan air kemih secara berkala, dan kalau terdapat infeksi, maka infeksi ini diobati dengan antibiotik yang sesuai.
  14. Selain pemberian antibiotik, penderita ISK perlu mendapat asupan cairan cukup, perawatan higiene daerah perineum dan periuretra, pencegahan konstipasi.
  15. Koreksi bedah sesuai dengan kelainan saluran kemih yang ditemukan untuk menghilangkan faktor predisposisi.
  16. Rujukan ke Bedah Urologi sesuai dengan kelainan yang ditemukan. Rujukan ke Unit Rehabilitasi Medik untuk buli-buli neurogenik. Rujukan kepada SpA(K) bila ada faktor risiko.

Jenis dan dosis antibiotik untuk terapi ISK

Obat Dosis mg/kgBB/hari Frekuensi/ (umur bayi)
(A) Parenteral
Ampisilin 100 tiap 12 jam (bayi < 1 minggu)
tiap 6-8 jam (bayi > 1 minggu)
Sefotaksim 150 dibagi setiap 6jam.
Gentamisin 5 tiap 12 jam (bayi < 1 minggu)
tiap 8 jam (bayi > 1 minggu)
Seftriakson 75 sekali sehari
Seftazidim 150 dibagi setiap 6 jam
Sefazolin 50 dibagi setiap 8 jam
Tobramisin 5 dibagi setiap 8 jam
Ticarsilin 100                dibagi setiap 6 jam
(B) Oral
Rawat jalan antibiotik oral (pengobatan standar)
Amoksisilin 20-40 mg/Kg/hari q8h
Ampisilin 50-100 mg/Kg/hari q6h
Amoksisilin-asam klafulanat 50 mg/Kg/hari q8h
Sefaleksin 50 mg/Kg/hari q6-8h
Sefiksim 4 mg/kg q12h
Nitrofurantoin* 6-7 mg/kg q6h
Sulfisoksazole* 120-150 q6-8h
Trimetoprim* 6-12 mg/kg q6h
Sulfametoksazole 30-60 mg/kg q6-8h
* Tidak direkomendasikan untuk neonatus dan penderita dengan insufisiensi ginja
(C) Terapi profilaksis
Nitrofurantoin* 1 -2 mg/kg (1x malam hari)
Sulfisoksazole* 50 mg/Kg
Trimetoprim* 2mg/Kg
Sulfametoksazole 30-60 mg/kg

Pemeriksaan Lanjutan

Setelah pemberian antibiotik selesai dan urin sudah steril, dilakukan pemeriksaan lanjutan pada anak dengan ISK. Pemeriksaan lanjutan yang dilakukan adalah :

  • Ultrasonografi ginjal, ureter, dan kandung kemih : Pemeriksaan ini dilakukan pada semua anak dengan ISK sesegera mungkin.
  • DMSA scan : Pemeriksaan ini terutama untuk melihat fungsi saluran kemih. DMSA scan masih diperdebatkan batasan usianya. Namun biasanya dilakukan pada anak di bawah 5 tahun dengan hasil ultrasonografi yang tidak normal. Umumnya dilakukan 2 bulan setelah episode ISK untuk memberi waktu perbaikan pada saluran kemih. Selama menunggu dilakukannya pemeriksaan ini, beberapa pihak menganjurkan pemberian antibiotik dosis rendah.
  • Cystogram : Ini adalah pemeriksaan kandung kemih yang juga masih diperdebatkan batasan usianya. Namun umumnya dilakukan pada anak di bawah 1 tahun atau anak dengan hasil ultrasonografi atau DMSA yang tidak normal.
  • Pemeriksaan-pemeriksaan tersebut dilakukan lebih awal jika tidak ada perbaikan setelah 2 hari pemberian antibiotik.

Pencegahan :

  • Higiena sanitasi atau kebersihan di daerah saluran kemih harus terjaga dengan baik, terutama pada anak alergi yang sering mengalami daerah kemerahan pada wanita ssering timbul di sekitar vagina atau pada laki laki sering kemerahan di ujung penis atau sering gatal (biasanya naka  sering pegang-pegang penis atau menggosok-gosokkan penis pada bantal ).
  • Cara menjga kebersihan harus sering ganti popok bila terkena feses, pakai popok kalau perlu, bila membersihkan kotoran saat berak arah air harus dari depan ke belakang.
  • ISK dapat dicegah dengan banyak minum dan tidak menahan kemih, sebagai upaya untuk membersihkan saluran kemih dari kuman. Bagi penderita ISK, kedua hal tersebut lebih ditekankan lagi karena ISK dapat menimbulkan lingkaran setan. Penderita ISK dengan disuria cenderung untuk menahan kemih, padahal menahan kemih itu sendiri dapat memperberat ISK.
  • Untuk mengurangi risiko ISK pada kateterisasi, perlu kateterisasi yang tepat. Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam kateterisasi antara lain jenis kateter, teknik dan lama kateterisasi.

End Point :

  • Mengenali dan mencegah ISK sedini mungkin, dengan mendeteksi dan menanggulangi kelainan yang ditemukan, maka akibat yang lebih berat, yaitu gagal ginjal yang memerlukan cuci darah atau cangkok ginjal dapat dicegah.
  • Tanda dan gejala ISK mulai ringan tanpa gejala hingga berat.

Daftar Pustaka

  • Hellerstein S. Urinary tract infections. Old and new concepts. Pediatr Clin North Am. Dec 1995;42(6):1433-57.
  • Zaffanello M, Malerba G, Cataldi L, et al. Genetic risk for recurrent urinary tract infections in humans: a systematic review. J Biomed Biotechnol. 2010;2010:321082.
  • Hoberman A, Chao HP, Keller DM, et al. Prevalence of urinary tract infection in febrile infants. J Pediatr. Jul 1993;123(1):17-23.
  • Downs SM. Technical report: urinary tract infections in febrile infants and young children. The Urinary Tract Subcommittee of the American Academy of Pediatrics Committee on Quality Improvement. Pediatrics. Apr 1999;103(4):e54.
  • Lu KC, Chen PY, Huang FL, et al. Is combination antimicrobial therapy required for urinary tract infection in children?. J Microbiol Immunol Infect. Mar 2003;36(1):56-60
  • Malone PS. Circumcision for preventing urinary tract infection in boys: European view. Arch Dis Child. 2005;90:773-4.
  • Marild S, Jodal U. Incidence rate of first-time symptomatic urinary tract infection in children under 6 years of age. Acta Paediatr. May 1998;87(5):549-52.
  • Michael M, Hodson EM, Craig JC, et al. Short versus standard duration oral antibiotic therapy for acute urinary tract infection in children. Cochrane Database Syst Rev. 2003;(1):CD003966.
  • Moorthy I, Easty M, McHugh K, et al. The presence of vesicoureteric reflux does not identify a population at risk for renal scarring following a first urinary tract infection. Arch Dis Child. 2005;90:733-6.
  • Moorthy I, Wheat D, Gordon I. Ultrasonography in the evaluation of renal scarring using DMSA scan as the gold standard. Pediatr Nephrol. 2004;19:153-6. [Medline].
  • Rushton HG. Commentary on clinical relevance of 99mTc-DMSA scintigraphy. J Urol. 1994;152:1068-9.
  • Schoen EJ. Circumcision for preventing urinary tract infections in boys: North American view. Arch Dis Child. 2005;90:772-3.
  • Schoen EJ. The foreskin and urinary tract infections. J Pediatr. Oct 1989;115(4):663-4.
  • Shaikh N, Morone NE, Lopez J, Chianese J, Sangvai S, D’Amico F. Does this child have a urinary tract infection?. JAMA. Dec 26 2007;298(24):2895-904.
  • Shaw KN, Gorelick M, McGowan KL, et al. Prevalence of urinary tract infection in febrile young children in the emergency department. Pediatrics. Aug 1998;102(2):e16.
  • Singh-Grewal D, Macdessi J, Craig J. Circumcision for the prevention of urinary tract infection in boys:a systematic review of randomised trials and observational studies. Arch Dis Child. 2005;90:853-8.
  • Sreenarasimhaiah S, Hellerstein S. Urinary tract infections per se do not cause end-stage kidney disease. Pediatr Nephrol. Apr 1998;12(3):210-3.
  • Stark H. Urinary tract infections in girls: the cost-effectiveness of currently recommended investigative routines. Pediatr Nephrol. Apr 1997;11(2):174-7; discussion 180-1.
  • Taketomo CK, Hodding JH, Kraus DM. Pediatric Dosage Handbook. 9th ed. Cleveland, OH: Lexi-Comp Inc.; 2002-2003.
  • Wiswell TE, Roscelli JD. Corroborative evidence for the decreased incidence of urinary tract infections in circumcised male infants. Pediatrics. Jul 1986;78(1):96-9.
  • Zamir G, Sakran W, Horowitz Y, et al. Urinary tract infection: is there a need for routine renal ultrasonography?. Arch Dis Child. 2004;89:466-8
  • Zorc JJ, Levine DA, Platt SL, et al. Clinical and demographic factors associated with urinary tract infection in young febrile infants. Pediatrics. Sep 2005;116(3):644-8.
  • Girardet P, Frutiger P, Lang R. Urinary tract infections in pediatric practice. A comparative study of three diagnostic tools: dip-slides, bacterioscopy and leucocyturia. Paediatrician. 1980;9(5-6):322-37.
  • Goldsmith BM, Campos JM. Comparison of urine dipstick, microscopy, and culture for the detection of bacteriuria in children. Clin Pediatr (Phila). Apr 1990;29(4):214-8.
  • Anderson JD, Chambers GK, Johnson HW. Application of a leukocyte and nitrite urine test strip to the management of children with neurogenic bladder. Diagn Microbiol Infect Dis. Jul 1993;17(1):29-33.
  • Craver RD, Abermanis JG. Dipstick only urinalysis screen for the pediatric emergency room. Pediatr Nephrol. Jun 1997;11(3):331-3.
  • Shaw KN, McGowan KL, Gorelick MH, Schwartz JS. Screening for urinary tract infection in infants in the emergency department: which test is best?. Pediatrics. Jun 1998;101(6):E1.
  • Anad FY. A simple method for selecting urine samples that need culturing. Ann Saudi Med. Jan-Mar 2001;21(1-2):104-5. [Medline].
  • Bachur R, Harper MB. Reliability of the urinalysis for predicting urinary tract infections in young febrile children. Arch Pediatr Adolesc Med. Jan 2001;155(1):60-5.
  • Lunn A, Holden S, Boswell T, Watson AR. Automated microscopy, dipsticks and the diagnosis of urinary tract infection. Arch Dis Child. Mar 2010;95(3):193-7.
  • Merguerian PA, Sverrisson EF, Herz DB, McQuiston LT. Urinary tract infections in children: recommendations for antibiotic prophylaxis and evaluation. An evidence-based approach. Curr Urol Rep. Mar 2010;11(2):98-108.
  • Hoberman A, Wald ER, Hickey RW, et al. Oral versus initial intravenous therapy for urinary tract infections in young febrile children. Pediatrics. Jul 1999;104(1 Pt 1):79-86.
  • Hoberman A, Keren R. Antimicrobial prophylaxis for urinary tract infection in children. N Engl J Med. Oct 29 2009;361(18):1804-6.
  • Montini G, Rigon L, Zucchetta P, et al. Prophylaxis after first febrile urinary tract infection in children? A multicenter, randomized, controlled, noninferiority trial. Pediatrics. Nov 2008;122(5):1064-71.
  • Garin EH, Olavarria F, Garcia Nieto V, et al. Clinical significance of primary vesicoureteral reflux and urinary antibiotic prophylaxis after acute pyelonephritis: a multicenter, randomized, controlled study. Pediatrics. Mar 2006;117(3):626-32.
  • Pennesi M, Travan L, Peratoner L, et al. Is antibiotic prophylaxis in children with vesicoureteral reflux effective in preventing pyelonephritis and renal scars? A randomized, controlled trial. Pediatrics. Jun 2008;121(6):e1489-94.
  • Craig JC, Simpson JM, Williams GJ, et al. Antibiotic prophylaxis and recurrent urinary tract infection in children. N Engl J Med. Oct 29 2009;361(18):1748-59.
  • Ferrara P, Romaniello L, Vitelli O, Gatto A, Serva M, Cataldi L. Cranberry juice for the prevention of recurrent urinary tract infections: A randomized controlled trial in children. Scand J Urol Nephrol. 2009;43(5):369-372.
  • AAP Subcommittee on Urinary Tract Infection. Practice parameter: the diagnosis, treatment, and evaluation of the initial UTI in febrile infants and young children. AAP. Committee on Quality Improvement. Subcommittee on Urinary Tract Infection. Pediatrics. Apr 1999;103(4 Pt 1):843-52.
  • Hoberman A, Wald ER. Urinary tract infections in young febrile children. Pediatr Infect Dis J. Jan 1997;16(1):11-7.
  • Arthur J. Horesh. Allergy and UrinaryInfections: Is There an Association?. PEDIATRICS Vol. 49 No. 5 May 1972, pp. 786-787
  • Yamada T, Murayama T, Taguchi H. [A case of interstitial cystitis that developed alternately with bronchial asthma] Hinyokika Kiyo. 1987 Jan;33(1):85-9. Japanese.
  • Ogawa H, Nakamura Y, Tokinaga K, Sakakura N, Yamashita M. Case of interstitial cystitis accompanied by food allergy. Arerugi. 2005 Jul;54(7):641-5.
  • Pelikan Z, van Oers JA, Levens WJ, Fouchier SM. [The role of allergy in interstitial cystitis] Ned Tijdschr Geneeskd. 1999 Jun 19;143(25):1289-92.
  • Jansen AP, Nierop G, Roovers MH. [Role of allergy in interstitial cystitis] Ned Tijdschr Geneeskd. 1999 Sep 11;143(37):1891; author reply 1891-2.
  • Dubois AE, Oude Elberink JN, de Monchy JG. [Role of allergy in interstitial cystitis] Ned Tijdschr Geneeskd. 1999 Oct 23;143(43):2167-8. Dutch. No abstract available.
  • Dubois AE, Oude Elberink JN, de Monchy JG. [The role of allergy in interstitial cystitis] Ned Tijdschr Geneeskd. 1999 Dec 18;143(51):2596. Dutch. No abstract available.
  • Vliagoftis H, Befus AD. Mast cells at mucosal frontiers. Curr Mol Med. 2005 Sep;5(6):573-89. Review.
  • Ogawa H, Nakamura Y, Tokinaga K, Sakakura N, Yamashita M. [Case of interstitial cystitis accompanied by food allergy] Arerugi. 2005 Jul;54(7):641-5. Japanese.
  • Powell NB, Boggs PB, McGovern JP.Allergy of the lower urinary tract. Ann Allergy. 1970 Jun;28(6):252-5.
  • Powell NB, Powell EB, Thomas OC, Queng JT, McGovern JP Allergy of the lower urinary tract. J Urol. 1972 Apr;107(4):631-4.
  • Littleton RH, Farah RN, Cerny JC. Eosinophilic cystitis: an uncommon form of cystitis. J Urol. 1982 Jan;127(1):132-3.
  • Yamada T, Taguchi H, Nisimura H, Mita H, Sida T. [Allergic study of interstitial cystitis. (1) A case of interstitial cystitis caused by squid and shrimp hypersensitivity] Arerugi. 1984 May;33(5):264-8.
  • Sanchez Palacios A, Quintero de Juana A, Martinez Sagarra J, Aparicio Duque R.  Eosinophilic food-induced cystitis. Allergol Immunopathol (Madr). 1984 Nov-Dec;12(6):463-9. PMID: 6528853 [PubMed - indexed for MEDLINE]
  • Jahnukainen T, Chen M, Celsi G. Mechanisms of renal damage owing to infection. Pediatr Nephrol. 2005;20:1043-53.
  • Jakobsson B, Esbjorner E, Hansson S. Minimum incidence and diagnostic rate of first urinary tract infection. Pediatrics. Aug 1999;104(2 Pt 1):222-6. [Medline].
  • Loening-Baucke V. Urinary incontinence and urinary tract infection and their resolution with treatment of chronic constipation of childhood. Pediatrics. Aug 1997;100(2 Pt 1):228-32.
  • Alon US. Optimal timing of follow-up voiding cystourethrogram in children with vesicoureteral reflux. Am J Urol Rev. 2005;3:472-8.
  • Hellerstein S. Why do children have UTIs and what can we do about them?. Dialog Pediatr Urol. 1998;21:1-8.
  • Hoberman A, Charron M, Hickey RW, et al. Imaging studies after a first febrile urinary tract infection in young children. N Engl J Med. 2003;348:195-202. [Medline].
  • Alon US, Ganapathy S. Should renal ultrasonography be done routinely in children with first urinary tract infection?. Clin Pediatr (Phila). Jan 1999;38(1):21-5. [Medline].
  • Ataei N, Madani A, Habibi R, Khorasani M. Evaluation of acute pyelonephritis with DMSA scans in children presenting after the age of 5 years. Pediatr Nephrol. 2005;20:1439-44. [Medline].
  • Bergstrom T, Lincoln K, Redin B, Winberg J. Studies of urinary tract infections in infancy and childhood. X. Short or long-term treatment in girls with first or second-time urinary tract infections uncomplicated by obstructive urological abnormalities. Acta Paediatr Scand. May 1968;57(3):186-94. [Medline].
  • Bloomfield P, Hodson EM, Craig JC. Antibiotics for acute pyelonephritis in children. Cochrane Database Syst Rev. Jan 25 2005;(1):CD003772. [Medline].
  • Chandra M. Voiding and its disorders in children. In: Monographs in Clinical Pediatrics. Vol 10. Amsterdam, the Netherlands: Harwood Academic; 1998:217-29.
  • [Guideline] Cohen AL, Rivara FP, Davis R, Christakis DA. Compliance with guidelines for the medical care of first urinary tract infectionsin infants: a population-based study. Pediatrics. Jun 2005;115(6):1474-8.
  • Craig JC, Knight JF, Sureshkumar P, et al. Effect of circumcision on incidence of urinary tract infection in preschool boys. J Pediatr. Jan 1996;128(1):23-7.
  • Dick PT, Feldman W. Routine diagnostic imaging for childhood urinary tract infections: a systematic overview. DIALYSIS. Jan 1996;128(1):15-22.
  • Giorgi LJ, Bratslavsky G, Kogan BA. Febrile urinary tract infections in infants: renal ultrasound remains necessary. J Urol. Feb 2005;173(2):568-70.
  • Hansson S, Dhamey M, Sigstrom O, et al. Dimercapto-succinic acid scintigraphy instead of voiding cystourethrography for infants with urinary tract infection. J Urol. 2004;172:1071-4.
  • Hellerstein S. Urinary tract infections in children with specific consideration of voiding dysfunction. In: Monographs in Clinical Pediatrics. Vol 10. Amsterdam, the Netherlands: Harwood Academic; 1998:183-97.
  • Hellerstein S. Diagnosis of infections of the urinary tract. In: Urinary Tract Infections in Children. Chicago, IL: Year Book Medical; 1982:1-14.

Supported By:

GRoW UP CLINIC JAKARTA Yudhasmara Foundation GRoW UP CLINIC I Jl Taman Bendungan Asahan 5 Bendungan Hilir Jakarta Pusat 10210, phone (021) 5703646 – 44466102 GRoW UP CLINIC II MENTENG SQUARE Jl Matraman 30 Jakarta Pusat 10430, Phone (021) 44466103 – 97730777email : judarwanto@gmail.com  
http://growupclinic.com http://www.facebook.com/GrowUpClinic Creating-hashtag-on-twitter@growupclinic
“GRoW UP CLINIC” Jakarta Focus and Interest on: *** Allergy Clinic Online *** Picky Eaters and Growup Clinic For Children, Teen and Adult (Klinik Khusus Gangguan Sulit Makan dan Gangguan Kenaikkan Berat Badan)*** Children Foot Clinic *** Physical Medicine and Rehabilitation Clinic *** Oral Motor Disorders and Speech Clinic *** Children Sleep Clinic *** Pain Management Clinic Jakarta *** Autism Clinic *** Children Behaviour Clinic *** Motoric & Sensory Processing Disorders Clinic *** NICU – Premature Follow up Clinic *** Lactation and Breastfeeding Clinic *** Swimming Spa Baby & Medicine Massage Therapy For Baby, Children and Teen ***

Professional Healthcare Provider “GRoW UP CLINIC” Dr Narulita Dewi SpKFR, Physical Medicine & Rehabilitation curriculum vitae HP 085777227790 PIN BB 235CF967  Dr Widodo Judarwanto, Pediatrician
We are guilty of many errors and many faults. But our worst crime is abandoning the children, neglecting the fountain of life.
Clinical – Editor in Chief :
Mobile Phone O8567805533 PIN BB 25AF7035
Information on this web site is provided for informational purposes only and is not a substitute for professional medical advice. You should not use the information on this web site for diagnosing or treating a medical or health condition. You should carefully read all product packaging. If you have or suspect you have a medical problem, promptly contact your professional healthcare provider
Copyright © 2013, GRoW UP CLINIC Information Education Network. All rights reserved
About these ads

Tentang GrowUp Clinic

In 1,000 days Your Children, You can change the future. Our Children Our Future
Tulisan ini dipublikasikan di ***Kesehatan Tersering, ***Penyakit Anak Tersering, ***Penyakit Berbahaya dan tag , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s